Whistle―Episode 02

hwiparam

a novel by 

amandzatykw

Lalisa Manoban | Yuta Nakamoto (NCT 127)

supporting; Kupimok Bhuwakul “Bambam” (Got7) *mentioned

Supranatural | Mystery | Gore | School-Life | PG-15+ (violance)

Warning; AU! (Aternal Universe)

Related : 00 |01

Aku tidak tahu apakah dia tidak capek jika terus-terusan menarik kedua sudut bibirnya selebar itu?

Aku kembali ke duniaku. Sejanak setelah sedikit salah fokus karena ulah tatapannya. Cowok yang punggungnya mengecil, bersama dengan meredupnya cahaya berkat terhalang tubuh jangkungnya. Aku tidak tahu, tapi yang jelas dia memberiku sebuah peringatan yang isinya begini; Yuzawa tidak setenang yang kamu bayangkan. Pergilah ke kuil, hanya Buddha yang bisa melindungimu. Oke, itu terlihat seperti sebuah kode kebencian yang dikemas dalam bentuk peringatan. Aku bisa pastikan ini nanti dengan mencoba bicara baik-baik, tapi tidak soal bagaimana cara cowok ini menyampaikannya.

Dia hanya berjalan melewatiku, mengumbar irisnya yang dalam. Bibinya yang kelewat pink untuk ukuran laki-laki itu bahkan tak henti-hentinya mengatup. Lalu bagaimana kata-kata itu bisa sampai dengan mudahnya kedalam otakku? Bisa jadi ini jadi tak terlalu memusingkan bila mana aku cukup berasumsi kalau mungkin itu hanya sebuah halusinasi.

Tapi suara bass itu, adalah suara yang sama dengan yang menyapa Narumi-neesan*. Dan aku yakin sekali. Dia melakukan telepati. Hanya saja akal sehatku menentang. Aku tidak seperti Pann, gadis itu pecinta hal-hal berbau fantasi tapi aku tak minat untuk sekedar menilik barang sejengkal. Sudah cukup bagiku terkatung-katung di samudra rumus-rumus kimia yang luasnya tak terhingga, tidak mau mengisi benda kecil yang terbentuk dari otot-otot ini dengan lebih banyak hal―terutama yang tak berdasar―lagi. Hal-hal semacam itu bisa saja menganggu jalam pikiranku yang sampai hari ini masih waras.

“Lisa-chan*?”

Suara lembut Narumi-neesan menyadarkanku, “Ya?”

“Ayo cepat, kita harus segera ke kelas,” ujarnya disertai senyum.

Narumi-neesan berbalik segera setelah aku men-iya-kan nasehat baiknya. Kemudian mengayunkan tungkaiku mengikuti derap langkahnya yang tenang. Namun suara heelsnya menyatu dengan bising-bising yang menggema sampai ke ujung-ujung bagian koridor. Pertanda kedatangan siswa-siswi yang mulai menukik tajam. Kurasa karena sekarang mungkin sudah lewat jam tujuh dan anak-anak mulai gencar-gencarnya datang ke sekolah. Keadaan normal yang seharusnya.

Memang seharusnya begitu.

Tentu ini bukan Hogwarts. Hanya karena aku menemukan kejanggalan pada cowok bertindik tadi―tolong jangan salahkan aku untuk memberi tinta merah pada poin ini. Karena feelingku mengatakan kalau hanya bocah itulah yang memakai tindik di SMA Yuzawa―. Dia bukanya Harry Potter, maka dia tak ada pula mantra yang akan dengan mudahnya mamberiku seprosa telepati. Yang jelas, aku harus menghilangkan banyak hipotesis mengenai persoalan yang satu itu untuk sementara. Lagi pula, Harry Potter dan Hogwarts itu sama-sama tidak pernah ada.

Koridor mulai ramai dengan banyak siswa, dan kurasa sudah jauh sekali kami berjalan. Jujur saja, sekarang saja aku sudah sibuk komat-kamit demi menyusun rangkaian formalitas perkenalan diri yang pas untuk disuarakan nanti di depan kelas. Uh, aku tak terbiasa dengan hal-hal seperti ini.

(xxx)

Ohayou gozaimasu*, Sensei!

Aku menegakan kedua kakiku. Bersandar di dinding gading sebelum pintu masuk menuju ruang kelas baruku. Narumi-nee-san bilang ini hari pertamaku dan aku harus pandai-pandai membentuk image baik didepan teman-temanku. ‘Kesan pertama itu yang paling penting’ tuturnya sebelum melenggang kedalam kelas.

Ruang kelas 11-2B, kelas yang dikhususkan belajar Kimia. Aku punya nilai rapor diatas rata-rata saat di BIS, kurasa itulah yang membantuku untuk masuk ke kelas ini.

Kelas ini adalah kelas ke-lima dari pintu masuk koridor sayap kiri. Letaknya berseberangan dengan sekre klub seni, dimana setelah pintu ruangan tersebut kita akan mendapati mading besar yang ditempeli banyak sekali lukisan indah. Ada juga kaligrafi dengan huruf kanji. Wah, benar-benar keren.

Anyway, ada perbedaan hal unik yang membuatku menyadari kalau orang Jepang itu tidak seburuk yang aku bayangkan. Mereka masih menjujung tinggi budaya dan etika, buktinya SMA Yuzawa mengadakan satu jam bersama wali kelas sebelum kegiatan belajar mengajar dilaksanakan. Waktu satu jam tersebut digunakan untuk homeroom. Dari apa yang aku dengar homeroom adalah waktu dimana para murid belajar etika, sopan-santun dan cara bersosialisasi dengan baik.

“Baiklah saya akan panggilkan teman baru kalian. Ne, Lisa-chan, mari masuk.”

Aku sangat gugup sampai kakiku bergetar. Bahkan mungkin tanganku sekarang sudah sangat dingin seperti mayat.

“Lisa-chan, ganbatte*!,” bisik Narumi-nee-san sambil mengacungkan jempol.

Aku tersenyum sekilas, kemudian melihat satu persatu orang-orang yang duduk dideret paling depan. Ada gadis kuncir dua, gadis dengan poni goyang lalu ada anak yang kelihatan intelek sekali karena kacamata yang dia kenakan, kemudian ada anak gundul yang sibuk menulis sesuatu dikertas.

Anu..,”

Bulu kudukku meremang ketika perhatian seluruh kelas bertumpu padaku.

“Namaku Lisa Manoban. Kalian bisa memanggilku Lisa. Ah, dan… yoroshiku onegaisimasu*!,” aku menunduk dalam, memberi hormat. Membiarkan rambutku menjuntai kebawah.

Ne, Lisa-chan, carilah tempat duduk yang kamu sukai. Kurasa ada lebih dari satu kursi yang kosong disini,” Kedua alis Narumi-nee-san bertsaut untuk suatu alasan yang tidak kuketahui, reflek saja aku mengikuti arah matanya melihat. Perempuan itu menggaruk pelipisnya, “Siapa yang belum datang?,” tanyanya kemudian.

“Nakamoto-kun, sensei*!,” pekik si gundul―yang tadi sedang menggambar―lantang.

Aku menoleh ke Narumi-nee-san yang sedang mengelus dagu-nya. Dia mendesah pelan, kemudian berdesis, “Anak itu benar..benar..

Aku menyunggingkan senyumku waktu Narumi-nee-san melirik kearahku, “Ayo duduklah. Nakamoto nanti akan duduk dikursi mana saja yang kosong,” aku mengangguk mengerti.

Aku menegak ludah sebelum mengambil satu persatu langkah ke bangku kosong dekat loker. Sedikit gugup sih, karena banyak murid-murid yang mendadak tersenyum atau mengaggukkan kepala mereka demi untuk menyapa diriku yang belum mereka kenal dekat. Padahal aku selalu membalas itu semua dengan senyuman yang amat kaku.

CREEET!

Seseorang yang duduk di dekat calon tempat dudukku dengan sangat baiknya mendorong ke belakang kursi tersebut. Anak itu adalah seorang perempuan dengan senyum menawan. Pipinya nampak chubby meski tubuhnya ramping.

“Hai, Lisa-chan,” sapanya.

“Hai,”

“Jangan berdiri saja, mari duduk,” ujarnya kala mendapati diriku yang masih mematung ditempat.

Aku tersenyum kikuk lantas menaruh tasku dibawah meja. Kududukan tubuhku dikursi kayu yang cukup empuk ini. Ini sudah cukup nyaman, meskipun tidak senyaman kursi BIS yang terbuat dari spons.

Aku menoleh kebelakang secara tidak sengaja. Ada sepasang meja dan kursi disana. Bangkunya dipenuhi coretan dari tipe-x, menandakan kalau pemiliknya benar-benar anak berandalan sejati. Dan satu lagi. Bangku itu tak berpenghuni.

“Terimakasih untuk tidak mengambil tempat duduknya, atau dia akan ngamuk,” aku mengerutkan dahi tak mengerti, “Bangku yang ada dibelakangmu itu adalah punya Nakamoto-kun*.”

Aku mengangguk-angguk.

“Sudahlah, dia itu tidak penting,” lanjutnya.

Jari-jarinya yang berkutek mengetuk-ngetuk dimeja. Wah, gadis ini benar-benar hobi berdandan. Entah reflek atau bagaimana aku beralih memandang tanganku sendiri, dan berdecak. Sungguh perbedaan yang luar biasa jauh antara aku dan gadis ini.

Ah dan ya. Aku belum tahu namanya. Kuputuskan saja untuk menanyakannya, namun sebelum aku meralisasikan planku gadis ini seperti cenayang sudah menyadarinya. Dia tersenyum, “Namaku, Akicha.”

“Narumi-sensei!”

Seperti kucing yang dipanggil majikannya untuk menyantap makan siang. Semua murid di kelas memalingkan fokus mereka. Bahkan aku punya perasaan familiar tentang pemiliik suara ini.

“Nakamoto-kun?,” ah jadi itu nama cowok bertindik di koridor tadi pagi? Dan brandal pemilik bangku penuh coretan di belakang?

Lihat. Orang ini ternyata sama lusuhnya seperti tadi pagi. Dia berdiri dengan begitu percaya dirinya didepan kelas, giginya yang berderet-deret terekspos hampir semuanya. Mulutnya benar-benar lebar saat tersenyum. Hidungnya yang berplester, itu tampak jauh lebih besar daripada saat dia sedang diam.

Narumi-nee-san memandangnya dengan tatapan penuh amarah. Nakamoto-kun jelas menyadari hal itu, hanya saja dia sok cuek. Lebih memilih tetap mempertahankan senyumannya.

Aku tidak tahu apakah dia tidak capek jika terus-terusan menarik kedua sudut bibirnya selebar itu?

(xxx)

Hari sudah sore, beberapa rintik hujan juga sudah turun dengan enggan. Namun tanda-tanda Narumi-nee-san akan keluar dari gedung itu pun tak kunjung nampak. Ya, meskipun tadi saat aku pergi ke kantor guru, dia bilang tak masalah jika aku pulang duluan. Tapi tidak mungkin juga kalau aku memaksakan diri untuk berjalan kaki kan?

“Hai.”

Sebuah suara bass yang terasa begitu familiar menyapa runguku.

Ternyata Nakamoto-kun.Masih dengan ke-khas-annya. Kurasa selamanya dia akan menjadi pemuda brandal bertindik yang selalu berpakaian compang-camping dalam ingatanku. Alih-alih membalas sapaanya, aku cuma tersenyum kaku. Kata Papa tidak baik berteman dengan orang-orang seperti dia. Anak-anak seperti itu hanya mengamburkan-hamburkan uang dan waktu saja.

Ia meraba sakunya. Kemudian mengeluarkan sebuah kotak. Disana tertulis ‘Malboro’, satu kata yang mampu memancing mulutku untuk berdecih kesal. Peka. Nakamoto menoleh kearahku dan pada Malboronya bergantian, “Kamu mau?”

“Apa kamu bodoh?,” celetukku asal.

Kumohon, mulutku memang berbisa. Tapi Nakamoto-kun ini sangat mengesalkan! Apa sekarang ini aku terlihat seperti seorang gadis nakal yang hanya tau cara menghisap putung?

“Ey santai saja!,” dia tertawa pelan, sementara aku hanya menatapnya sarkas sambil membenahi cara dudukku agar terlihat benar, berwibawa dan sopan. Ini penting sekali kata Papa.

Nakamoto-kun berdeham, “Kudengar Thailand bebas. Kehidupan malamnya juga, siapa tau saja kamu―”

“Keluargaku adalah Buddish yang taat.”

Aku terdiam sebentar.

Gara-gara pernyataanku sendiri aku jadi merasakan deja vu. Sebuah deja vu yang mengarah pada kata-kata yang diucapkannya tanpa membuka mulut sama sekali waktu itu.

“Aku tahu,kok.”

Oh! Dengar! Dia bahkan bilang kalau dia tau aku beragama Buddha!

“Dari mana?”

“Ayahmu,” aku semakin menyipitkan mataku, menatapnya dengan pandangan menyelidik. Sementara dia membentuk smirk yang terlihat biasa-biasa saja, “Ayahku adalah kawan dekatnya. Aku tahu dia buddish yang taat. Bahkan meski Bibimu dan orang-orang yang tinggal di rumah kalian adalah seorang shinto garis keras,” dia bertutur dengan penuh gestur pendukung, “Papamu adalah orang yang sangat baik, kuharap kamu pun begitu,” tambahnya.

“Apa kamu pernah bertemu dengan Papaku?”

Nakamoto mengambil seputung dari Malboro, menjepit batang rokok itu diantara kedaua bibirnya, lantas menyalakan ujungnya dengan pematik bergambar Doraemon. Aku menyayangkan tentang kebiasaan merokok Nakamoto-kun yang baru kuketahui ini―Sebelumnya Akicha tak katakan apakah orang ini merokok atau tidak. Padahal dia punya warna bibir yang bagus, kenapa juga dia harus merusak warna bibirnya yang sangat pink itu dengan merokok.

“Tidak. Tapi aku yakin namanya pasti Tamami Sakamoto?”

Eh?

Dia sungguh-sungguh tahu?

“Ayahku banyak bercerita tentangnya. Juga kamu. Aku memang sudah tidak ingat soal apakah aku pernah berjumpa dengannya. Tapi saat pertama kali melihatmu, aku tahu,” dia menyesap rokoknya dalam-dalam, “Aku tahu kamu adalah putrinya,” katanya sambil menengadah menatap awan-awan keabuan di cakrawala.

Terus begitu bahkan hingga keheningan benar-benar menyelimuti atmosfer halte yang sekarang hanya tinggal aku dan Nakamoto-kun. Tidak ada yang bisa kulakukan selain diam dan fokus pada ponselku. Menimbang-nimbang apakah aku akan menghubungi Bibi dan memintanya menjeputku atau tidak. Sebentar lagi hujan, dan tentu sangat mengerikan apabila aku tetap disini bersama brandal yang masih asyik mengisap rokoknya. Dia bahkan sudah habis tiga batang.

Melihatnya asyik bermain-main dengan asap rokoknya begitu aku jadi ingat pertemuan pertama anatara aku dengannya. Apa aku perlu bertanya tentang telepati―atau barangkali saja itu hanya kesalahan indra pendengaranku aja―padanya? Apa itu tidak akan memalukan?

“Nakamoto-kun.”

Aku berhasil memanggil namanya.

“Ah tidak-tidak,” dia menggelengkan kepalanya, “Namaku Nakamoto Yuta. Jadi panggilnya Yuta saja oke?”

Aku tidak percaya ini. Apa aku serius akan menanyakanya?

“O-oke, baiklah Yuta-kun,” suaraku sekarang ini sudah bergetar, “Kamu mungkin akan menganggapku gila, karena hal ini. Tapi jika ini tidak kutanyakan aku akan benar-benar jadi gila.”

“Diterima. Sekarang katakan.”

“Apa tadi pagi kamu bicara padaku lewat telepati?”

To be Continue

dictionary:

*nee-san=panggilan dari seorang adik perempuan, untuk kaka perempuan (bukan kandung)

*-chan=sufiks/akhiran –chan digunakan untuk memanggil orang yang lebih muda, atau orang yang disayangi (dekat)

*Ohayou gozaimasu=selamat pagi dalam Bahasa Jepang.

*ganbatte= bentuk pendek dari ‘ganbatte kudasai’, yang berarti ‘semangat’ dalam Bahasa Jepang.

*Yoroshiku onegaisimasu=seperti ‘Nice to meet you‘ dalam Bahasa Jepang.

*Sensei=panggilan yang digunakan untuk memanggil seseorang yang dianggap lebih pandai dari kita. Seperti suatu bentuk penghormtan. Biasanya untuk memanggil dokter, guru dll.

*-kun=akhiran ‘-kun‘ digunakan untuk memanggil laki-laki yang umurnya sebaya dengan kita. Juga bisa digunakan untuk memanggil perempuan yang sebaya dengan kita, tapi hal ini sangat jarang dilakukan.

n/b: Holaaaaa!! maaf baru publis. Huhuhu karena ada perbaikan dikit-dikit soalnya tapi gpp kan ya? Habisnya kan aku juga udah semester akhir menuju UN. Jadi mohon maklum kalau updetnya lamaaaa banget.

Iklan
Whistle―Episode 02

Satu pemikiran pada “Whistle―Episode 02

  1. Akhirnya update juga /iristumpeng/ Awal2 gini masih belum keliatan ya konfliknya … Ku penasaran deh, ada apa sih sama sekolah itu /? Terus si Yuta? Au ah. Next chap lebih panjang ya ♡♡

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s