Of Girls and Their Odd Habit

wwh8m

by Tamiko

Ficlet | Jennie & Hanbin | G

.

He watched her take her make up off and wondered why she ever put it on

.

.

“Aku kadang tidak mengerti dengan Lisa,” Jennie berucap begitu melangkah ke dalam kamar yang mereka bagi bersama. Alisnya yang ditekuk ditambah wajah masam mendukung kevalidan kata-katanya. Bahwa dia tidak mengerti dengan temannya yang bernama Lisa.

Hanbin hanya menanggapi dengan gumaman ringan tanpa mengangkat kepala untuk memandang wajah perempuan yang baru saja berbicara. Jarinya sibuk bercinta dengan ponselnya, mengusap-usap layarnya dan memandang tampilan yang terus bergulir.

“Sangat susah menebak apa yang sebenearnya dia pikirkan,” kata Jennie lagi. Tidak mempermasalahkan kurangnya fokus si lawan bicara kepada kata-kata yang diucapkannya, gadis itu lanjut berbicara, “Membingungkan sekali ya ampun.”

“Memangnya dia kenapa sih?” respon Hanbin sekenanya. Masih berselingkuh dengan ponsel.

Jennie mendudukkan diri di depan cermin. Menekuk wajah dan menghela napas seolah memiliki beban paling berat di kehidupan ini. Dia menatap pantulan dirinya di cermin sesaat sebelum menggerakkan tangan mearih botol dan kapas. “Padahal dia sudah cantik, kurus, dan langsing. Sangat sempurna. Tapi dia itu selalu saja begitu.”

Pandangannya dinaikkan sesaat, beralih dari berita tidak penting yang baru dia baca di ponsel. Hanbin melirik kepada Jennie yang tengah menempelkan kapas pada mulut botol salah satu produk kecantikannya ―yang dia sama sekali tidak tahu apa namanya. Hng perempuan dan alat kosmetik yang beraneka ragam. Mata lelaki itu secara otomatis menyapu kepada berbagai macam botol dan kotak di atas meja rias mereka ―meja rias Jennie. Setahun tiga bulan menempati ruang yang sama dengan produk-produk penyembunyi wajah ―begitu dia menyebut make up― tidak serta merta membuatnya bisa mengenal mereka dengan baik satu demi satu. Saking banyak kuantitas dan ragamnya.

Hanbin lantas kembali bersuara, “Begitu bagaimana?”

Jennie yang sudah selesai membasahi kapasnya dengan alkohol pembersih make up membalas tatapan Hanbin dari cermin. Dia merotasikan bola matanya dengan jengah. Seolah berkata ‘duuuh bukannya sudah cukup jelas’. Kemudian membuka mulutnya untuk berkata, “Apa kau lihat cara dia makan tadi? Aku tidak percaya dia belum dilarikan ke unit gawat darurat atau semacamnya dengan pola makan semengerikan itu.”

“Mengerikan dimananya?”

“Ya Tuhan Hanbin,” erang Jennie cepat. Dia menempelkan kapas di tangannya ke pipi dan menggosok dengan keras. Memulai ritual sebelum tidur yang dia lakukan secara rutin setiap malam. “Kau itu sama sekali tidak ada perhatiannya ya dengan sahabat-sahabatmu,” ujarnya lagi. Desahannya menggema di udara dan Hanbin tidak bisa tidak bertanya sebenarnya apa yang sedang gadisnya bicarakan.

Jennie berbicara lagi tidak lama kemudian. Segera menjawab tanya dalam kepala Hanbin. “Lisa itu punya kebiasaan makan yang terlalu buruk. Dietnya terlalu mengerikan. Tadi saja dia hanya makan beberapa buah anggur. Tanpa tambahan apa-apa. Katanya takut gemuk kalau makan berat malam-malam. Padahal dia itu sudah kurus sekali loh. Entah mau sekurus apa lagi.”

Mendengar penuturan kekasihnya akhirnya Hanbin mengerti. Lelaki itu membulatkan mulutnya pertanda sudah berhasil memahami maksud perkataan Jennie tentang sahabatnya. Kemudian dia memandang wajah gadis itu lagi lewat cermin. Dia baru saja selesai menggosok mata kirinya.

“Aneh.” pikir Hanbin sambil terus memandangi Jennie yang masih sibuk menggosok wajah dengan kapas. Lalu matanya berpindah kepada beberapa kapas yang sudah tidak putih lagi dan sebagai gantinya dipenuhi dengan warna-warni residu make up yang baru saja ditanggalkan dari wajah kekasihnya itu. “Sangat aneh.” pikir Hanbin lagi.

Lelaki itu sekali lagi menaikkan pandangannya. Ponselnya sudah lama terlupa. Biji netranya kini menetap kepada bayangan perempuan yang sudah menjadi kekasihnya selama tiga tahun terakhir. Karena Jennie yang lebih dulu menyinggung keanehan tingkah Lisa, sekarang Hanbin tidak bisa menyingkirkan pemikiran ini dari kepalanya. Sambil menatap tangan Jennie yang bergerak teratur di wajahnya untuk menghapus sisa-sisa make upnya, Hanbin tidak bisa menghentikan tanya di sudut cerebrumnya. ‘Jennie gadis paling cantik yang pernah dilihat oleh matanya, bahkan Miranda Kerr masih kalah cantik’ ―ego seorang kekasih. Tapi kenapa dia merasa perlu untuk memasang make up di wajahnya? Katanya sih untuk menambah pesona wajahnya. Padahal Hanbin lebih suka wajahnya yang polos tanpa bahan kimia melapisi permukaan kulitnya. Tidak perlu menambah segala macam polesan di wajahnya untuk mempercantik diri. Jennie yang apa adanya, Hanbin sudah sejak lama hilang dalam pesonanya.

Sama seperti Lisa, Jennie sendiri adalah gadis yang aneh.

Perempuan adalah makhluk yang aneh.


a.n.

ngeng gue baru nulis apa? .-. Sudah lama tidak mempos apa-apa di blog ini 😦 Kuliah menenggelamkan kebebasanku heuheuheu.

Anyway akhirnya bisa nulis ff Blackpink lagi 😦

Walau tulisannya gak jelas 😦

Iklan
Of Girls and Their Odd Habit

3 pemikiran pada “Of Girls and Their Odd Habit

  1. Yaampun posternya itu mba jennie jaman kapan, masih unyu sekali. Indeed, make up itu senjata nomer satunya cewe. Cowo mah gampang ngga perlu repot2 ngurusin ini-itu, makanya mau dijelasin sampe kapan juga nggak bakal paham *malah curhat* Jennie ko ngga dipairing sama dooyoung lagi kak XD efek break my fall yang belom kelar ~ haha~
    Keep writing lah!

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s