[BPF EVENT] Under The Sunset

boy-and-girl-sitting-on-roof

Under the sunset by amandzaty (@amandzaaty – instagram)

starring Jisoo feat. GOT7’s Jinyoung and other(s)

Ficlet / Teenager / Hurt / Roman

.

Even being teased by the 5th dimension, i’ll still look your way.Yume Tourou by RADWIMPS

***

Cakrawala dipenuhi mega merah. Langit seperti terbakar matahari. Nona Kim Jisoo masih saja berdiri menenteng tas dengan kedua tanganya. Surai legamnya berkibar diterpa angin senja yang menusuk tulang. Tak henti-henti kedua mata sendunya menatap pada punggung pemuda Park.

Park Jinyoung. Duduk di atap rumah sakit, membiarkan kedua kakinya bergelantungan. Apa yang sedang dipikirkan oleh pemuda itu Jisoo tidak tahu.

Tapi film lama dalam otak Jisoo mendadak memutar kembali pada setahun yang lalu.

Ketika seperti sudah digariskan mereka bertemu. Pertemuan klise antara seorang dokter magang dan seorang pasien tetap/?

***

#flashback

Aku melepas stetoskopku dan meletakkan itu asal  ke meja kerja. Kak Onew memandangiku dengan tatapan heran, “Ada yang salah, Jis?”

Everything okay, kok” kataku sambil mengibaskan tangan. Kuhempaskan tubuhku yang lelah ke kursi kantorku yang empuk.

“Jis, asupan!,” Kak Onew menunjukkan sebotol mineral di tangan kanannya.

Aku menerimanya, “Anyway, thanks.”

“Susah ya, magang tuh.”

“Hmm?,” kehausan. Semua air dalam botol itu keteguk telak, “Ya, enggak selalu begitu sih, Kak.”

Kak Onew mengangguk-angguk. Kemudian dia menghela napas panjang dan memainkan kursinya, “Pernah dengan pasien tetap?,” kepalanya yang bersandar di kursi meneleng ke arahku.

“Apa itu?”

Kak Onew menegakkan diri. Jari telunjuknya lalu mengacung, menunjuk sesuatu yang ada diluar raungan ini. Pemuda dengan pakaian rumah sakit. Selang infus setia bertengger di tangan kirinya, meski begitu tangannya itu tak masalah harus menahan beban buku tebal yang tengah dibacanya.

“Tidak ada yang salah dari pasien itu,” cicitku, “Biasa saja.”

“Loh, dia pasien tetap kita,” Kak Onew menjelaskan. Wajahnya menunjukkan gurat-gurat kepastian.

“Pasien tetap? Apa-apaan,” kembali kutelisik pemuda yang masih dalam posisinya itu,  “Dia kelihatanya baik-baik saja,” lirihku.

Kepalanya bergerak, mendongak. Lantas tak bisa kuingkari sorot sendu matanya. Tidak ada yang istimewa kurasa. Tapi jantungku berdetak hebat, untuk suatu alasan yang tidak bisa dipresepsikan dengan baik oleh otakku.

“Park Jinyoung.”

“Apa?”

“Nama pasien itu,” Kak Onew tersenyum membalas sapaan hangat pasien Park Jinyoung yang mulai menutup buku tebalnya dan beranjak dari duduknya.

Tungkainya bergerak dengan ritme pelan. Memecah koridor rumah sakit yang mulai sepi karena larutnya malam. Mungkin saja ia seang memangkas jarak antara dirinya dengan kami.

Kendati begitu aku tak ingin terlalu percaya diri. Kalaupun dia datang pasti itu hanya karena Kak Onew. Tapi dia melihatku, memamerkan eye-smile manisnya, “Halo, Dokter Kim.”

Tunggu. Apa? Dia tahu namaku?

Brak!

Tuan Park, anda baik-baik saja?,” dan tiba-tiba saja dia jatuh tersungkur di lantai.

***

“Dokter Kim,” suara berat Jinyoung mengembalikan sadar Jisoo.

“Ya?”

“Bukankah cakrawala sore ini sedang indah?”

Tentu saja. Dan Jisoo hanya bisa membiarkan kedua sudut bibirnya tertarik keatas. Meski tubuh pemuda itu nampak belakang di netra Jisoo, tapi Jisoo cukup tahu kalau Jinyoung sedang tersenyum juga.

“Duduk sini,” tapak Jinyoung menepuk-nepuk tempat kosong disebelahnya, “Kita lihat sama-sama.”

Jisoo memainkan ujung rambutnya malu-malu. Namun ia tetap berakhir disebalah Jinyoung. Kini wajah tampan Jinyoung itu terlihat jelas memantul di retina Jisoo.

“Kata Dokter Lee, Dokter Kim―”

“Jisoo,” potongnya, “Panggilnya Jisoo saja. Jangan pakai embel-embel Dokter.”

“Ya, ya, oke,” Jinyoung mengangkat tangannya, “Jadi Jisoo. Kamu sudah melayangkan surat pengunduran diri? Ingin buka klinik sendiri?”

Jisoo memandang kebawah, menggoyang-goyangkan kakinya. Dia yang biasanya takut ketinggian, hari ini karena Jinyoung phobia-nya itu seperti hilang tak membekas, “Begitulah.”

“Punya alasan tertentu?,” tanya Jinyoung dengan nada aneh, Jisoo jadi mengernyit tak paham kemana arah Jinyoung membawa pembicaraan ini, “Mungkin saja kamu disuruh berhenti bekerja oleh suamimu.”

“Suami?,” pekik Jisoo.

“Iya. Suami.”

“Aku single, kok Jin,” entah untuk apa Jisoo mengucapkan kalimat itu. Bahkan Jisoo sendiri pun tak tahu kenapa.

***

#flashback

Elektrokardiograf-nya menggambarkan betapa cepatnya jantung pasien Park berdetak. Mataku panas, tubuhku bergetar. Seharusnya aku tidak begini. Karena aku tidak mengenalnya meskipun dia tahu aku.

Kak Onew datang dari pintu dengan wajah panik. Membawa Dokter Jung yang juga kelihatan panik. Dokter Jung memberi isyarat padaku untuk menjauh dari pasien. Aku melakukannya tentu saja.

Aku menahan lengan Kak Onew, lantas berkata, “Kak, apa dia akan baik-baik saja?”

“Pasti, dan harus,” tegasnya mantap.

Dokter Jung mengambil defibrilator, sementara Kak Onew sibuk mengoleskan gel ke dada orang yang beberapa menit lalu kuketahui bernama Park Jinyoung, “200 joule, cukup?”

“Ya,” Dokter Jung menempelkan defibrilator pada tubuh Jinyoung.

Saat aku merasakan sebuah likuid bening terjun bebas dari pelupuk mataku, tangan dingin yang begitu pucat menepuk bahuku meski tembus, “Dokter Kim.”

Aku menoleh.

“Apa aku sudah mati?”

***

Jinyoung terkekeh.

“Masih berharap padaku, Bu Dokter?,” kata pria itu, dengan nada mengejek. Jisoo mengerucutkan bibirnya.

“Tidak apa-apa ‘kan?”

Jisoo menatap sendu matahari yang akan segera bersumbunyi dalam gelapnya malam. Berniat menyembunyikan wajahnya yang berubah merah padam.

“Mungkin kita terpisah jauh. Namun selama aku masih bisa melihatmu, itu sudah cukup.”

fin

Iklan
[BPF EVENT] Under The Sunset

2 pemikiran pada “[BPF EVENT] Under The Sunset

  1. tangan dingin yang begitu pucat menepuk bahuku meski tembus,

    Loading…

    Ini maksudnya apa?

    Aku paham semuanya kecuali yg itu ‘-‘ Dza, /manggilnya gini bukan¿/ Kusuka genre kek gini entah mengapa :” Aku juga suka ceritanya :’ Aku suka semuanya ><

    Suka

    1. Itu semacam kaya tangannya si jinyoung tuh tembus pas megang bahu jisoo. Maaf kalo penggambaranya kurang pas^^

      Aku emang suka genre abstrak ke gitu sih. Membebaskan pembaca berimajinasi sendiri mengenai karakter jisoo sama jinyoung disini.

      Iya manggilnya dza kok mbakdel :> /ini manggilnya giti nga sih¿

      Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s