[BPF EVENT] STAY

STAY.jpg

[Vignette] STAY

Author:            Whitelil

Cast:                Black Pink Jennie Kim

iKON Bobby Kim

Other Cast:      BTS Park Jimin

Red Velvet Park Joy

9u9udan Kim Sejeong

Genre:             G, Sad, Hurt

Length:            Vignette

Ratting:           PG-15

Prompt:           Don’t ask why it has to be you.. Just stay with me…

 

***

You take me for granted, but that’s you

But still, stay stay stay with me…

“Bobby-ya…”

“Tto? YAA apa kau tidak mengerti juga? Berhenti menemuiku di rumahku! Kita bisa bertemu dimanapun tapi tidak disini! Ah jinjja” Bobby pun melangkah pelan meninggalkan rumahnya menuju ke sekolah.

Tak lama, menyusul lah seorang namja keluar dari rumah yang sama.

“Oh sunbae..” yeoja itu mengangguk pelan seraya tersenyum memandang namja itu.

“Oh? Jennie-ssi? Mwo haneun geoya?”

“Aniyo”

Namja itu terlihat bingung sesaat, “Geurae, kalau begitu aku duluan” ucap namja itu tersenyum, lalu berjalan meninggalkan Jennie juga.

Sementara yeoja itu masih berdiri di tempatnya, memandangi Bobby yang melangkah semakin jauh.

“Bobby-ya…”

***

Rather than forceful conversations with others

I’d rather be in awkward silence with you

Beberapa anak terlihat mulai keluar dari kelas. Bel telah berbunyi dan waktu istirahat pun tiba. Kelas 2A tampak kosong, hanya 1 2 orang yang memilih tetap tinggal di kelas. Jennie melangkah keluar dari  kelas 3B dengan tergesa. Matanya sibuk mencari seseorang di seluruh sudut sekolah. Nihil. Namja itu kabur lagi. Bagaimana mungkin Jennie bisa berbicara dengannya di sekolah sementara namja itu selalu menghindarinya dan menghilang tepat disaat bel istirahat berbunyi. Ini kali ketiga Jennie kehilangannya saat jam istirahat.

“Jennie-yaa kenapa buru-buru sekali” Joy dan Sejeong menghampirinya lalu merangkul kedua tangannya.

“Kajja kita ke kantin” ucap Sejeong menampilkan eye-smile nya. Jennie menghela nafas lalu akhirnya menuruti keinginan dua sahabatnya itu. Hatinya akan meledak rasanya. Namja itu benar-benar brengs*k.

Sepulang sekolah, Jennie buru-buru menghadang namja itu di depan kelasnya saat ia hendak kabur. Bobby memandangnya malas.

“Wae?”

“Aku ingin bicara padamu”

“Aku tidak. Pikyeo” Bobby hendak melewati Jennie tapi yeoja itu lagi-lagi menghadangnya.

“Kau melarangku datang ke rumahmu dan menyuruhku untuk bicara padamu di sekolah, tapi kenapa kau juga menghindariku di sekolah?” Bobby menghela nafas. Yeoja ini benar.

“Geurae. Aku akan mengantarmu pulang, bicaralah” ucap Bobby lalu berlalu begitu saja.

“Apa yang sedang Jennie lakukan?” tanya Joy penasaran pada Sejeong. Mereka melihat Jennie yang sedang berbicara dengan Bobby. Mereka berdua pun menghampiri Jennie dengan wajah tak suka.

“Wae geurae?” tanya Joy menahan langkah Jennie.

“Aku harus menyelesaikan masalahku. Akan ku ceritakan nanti”

“Geumanhaeraa” ucap Sejeong.

“Andwae. Aku tidak bisa membiarkannya” Jennie pun meninggalkan kedua sahabatnya dan mengikuti Bobby yang sudah berjalan duluan.

Mereka berjalan beriringan melewati kompleks perumahan dekat sekolah. Halte bus masih lumayan jauh, perlu waktu 10 menit untuk sampai disana.

“Jjaljinaesseo?” ucap Jennie pada akhirnya. Sejak tadi yeoja itu terdiam dan sibuk memilih kata.

“Jjaljinaesseo? Menurutmu?”

“Ah.. itu hanya basa-basi” ucap Jennie. Bobby menampilkan sedikit smirk lalu kembali dengan wajah dinginnya.

“Apa kau.. tinggal bersama Jimin sunbae sekarang?” Jennie mencari basa-basi yang lain.

“Eo”

“Kenapa tidak pernah mengatakannya padaku?”

“Naega wae?”

Jennie menelan ludah dan berpikir ulang beberapa kali, “Mianhae… jeongmal mianhae…” yeoja itu akhirnya mengatakannya. Ia siap apapun jawaban yang akan Bobby keluarkan nantinya.

“Mwoga?”

“Karna aku sudah pernah meninggalkanmu dulu…”

“Ah aku bahkan tak pernah mengingatnya” Jennie terdiam mendengar jawaban Bobby. Ia memikirkannya sampai mau mati, dan namja itu hanya menjawab tak pernah mengingatnya?

“Aku tau kau pasti sangat marah. Aku benar-benar menyesal. Kau harus tau, aku tak berhenti memikirkanmu selama sepuluh tahun terakhir…”

“Ah chankamman. Hokshi.. apa kau seseorang dari masa laluku..? Ah ini sedikit membingungkan.. pantas saja sejak tadi kau memanggilku dengan nama, tanpa kata ‘oppa’ sangat tidak sopan…” Jennie lagi-lagi terdiam. Kali ini yeoja itu menghentikan langkahnya.

“Jangnanjijima..” ucap Jennie.

“Jangnan?” Bobby berbalik lalu memandang Jennie.

“YA bukankah kau mau menyatakan perasaanmu? Aku pikir kau hanya ingin menyatakan perasaan, tapi ternyata ini lebih mengejutkan dari yang aku kira. Apa kau..” Bobby mulai melangkah menghampiri Jennie, “benar-benar seseorang dari masa laluku?”

“BOBBY KIMJANGNANJIJIMA! Kau bahkan tidak pernah kecelakaan hingga lupa ingatan…..”

“Huh? Mengapa kau seyakin itu?” Bobby menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya.

“Sejak ibuku meninggal, aku melupakan semua masa laluku. Aku tidak memiliki ingatan masa kecilku sekarang. Ah mungkin kau salah satu dari ingatan masa kecilku.. YAA pantas saja kau memanggilku dengan nama, tanpa embel-embel oppa. Mian aku tak bisa mengenalimu” namja itu kembali berjalan meninggalkan Jennie perlahan.

Jennie terlalu kaget atas semua kata-kata yang Bobby keluarkan. Mwo?

Seburuk itukah masa lalumu? Tak adakah sedikitpun kenangan indah yang kau ingat? Jennie berbicara lebih kepada dirinya sendiri.

Jennie menghela nafas lalu mengejar ketertinggalannya dengan Bobby.

“Geurae! Ayo mulai semuanya dari awal. Uri.. chinguhaja” ucap Jennie ceria seraya mensejajari langkahnya dengan langkahBobby. Mereka telah sampai di halte bus sekarang.

“Shirreo” ucap Bobby lalu melihat papan rute bus.

“Wae??” tanya Jennie. Sebuah bus berhenti di hadapan mereka. Bus nomor 023.

“Ah apa bus ini yang menuju rumahmu?” tanya Bobby tanpa memperdulikan pertanyaan Jennie. Yeoja itu memandang Bobby kesal lalu mengangguk terpaksa.

Bobby pun melangkah menaiki bus begitu saja. Jennie menghela nafas kesal untuk yang kesekian kalinya, dan akhirnya menaiki bus itu juga. Mereka duduk hanya berbeda dua kursi dari baris belakang.

“Wae? Waeyo?” Jennie masih tak menyerah. Ia kembali mempertanyakan alasan Bobby tadi.

Bobby memandang Jennie sangat dekat, membuat yeoja itu tersudut di kaca jendela, “Aku tidak berteman dengan yeoja. Mereka merepotkan, seperti sekarang ini” ucap Bobby lalu kembali duduk tenang. Sementara Jennie tampak shock dengan gerakan tiba-tiba namja itu.

“Nappeun nom..” ucap yeoja itu mencibir.

***

I don’t expect a lot right now

Just stay with me…

Jennie berjalan menyusuri taman di sepanjang sungai Han. Ia berjanji untuk bertemu seseorang sore itu. Saat melihat sosok yang familiar baginya, yeoja itu melambaikan tangan lalu berlari kecil.

“Sunbae” ucap Jennie seraya tersenyum dan mengangguk singkat.

Jimin tersenyum hangat, juga mengangguk sekilas, “wae geurae? Kenapa tiba-tiba kau ingin bertemu denganku?”

Mereka pun mulai berjalan pelan, menyusuri sungai Han dengan angin sore yang terasa sejuk.

“Bobby neun…”

“Ah geurae, ku dengar kalian adalah teman masa kecil saat di Amerika dulu?” potong Jimin cepat. Namja itu sepertinya sudah lama ingin bertanya hal ini pada Jennie.

“Eottokhae arra?”

“Ey tentu saja Bobby yang mengatakannya. Bagaimana mungkin aku tau jika hanya menebak saja”

“Bobby… yang mengatakannya..?”

“Uhm” Jimin mengangguk.

“Tapi kemarin.. dia sangat yakin jika dia…. tidak pernah mengenalku sebelumnya..” ucap Jennie membuat Jimin tersenyum kecil.

“Aku akan mendengarkan ceritamu dulu. Tenta masa kecil kalian. Baru setelah itu aku yang bercerita tentag Bobby. Call?” Jennie memandang Jimin yang masih tersenyum hangat. Eye-smile namja ini membuat hati siapapun yang melihatnya tenang.

Call

***

Flashback. Los Angeles, 2005.

“Jennie, mulai sekarang mereka akan tinggal bersama kita. Apakah tidak apa-apa?” Jennie kecil memandang seorang ibu dan anak laki-laki di hadapannya sedikit bingung. Detik berikutnya, ia memegang tangan eomma nya lalu memandang eommanya seraya tersenyum.

“Tentu saja, aku senang punya teman” ucap Jennie ceria.

“Beri salam” ucap eommanya, Jennie pun mengulurkan tangannya pada ibu itu yang segera disambut dengan hangat.

“Kau anak yang sangat ceria..” ucap ibu itu.

Jennie kembali mengulurkan tangannya pada anak laki-laki di sebelah sang ibu.

I’m Jennie. Who are you?” sedetik.. dua detik.. anak laki-laki itu memandangnya dingin dan mengabaikan tangan Jennie yang masih menggantung di udara.

“Shirreo” ucap anak laki-laki itu dengan kasar. Jennie terbelalak, bukan karna perkenalannya yang ditolak oleh anak itu, tapi karena anak laki-laki itu berbicara bahasa Korea.

“JIWON-AH! BERSIKAPLAH SOPAN SEDIKIT!” anak laki-laki itu berlari begitu saja menuju ke taman belakang rumah.

“Maaf Jennie, Jiwon memang selalu seperti itu” ucap sang ibu meminta maaf.

“Gwenchana.. ahjumma” ucap Jennie dengan logat American nya.

Hari-hari berlalu tanpa satu hari pun Jennie lewati dengan usaha untuk mendekati anak laki-laki dingin itu. Hingga suatu hari, Jennie menghampirinya yang sedang duduk melamun di taman belakang.

Why are you so though?” ucap Jennie lalu duduk di sebelah Jiwon.

“Kkeojjeo”

Do not speak Korean to me” ucap Jennie menegaskan. Sesungguhnya itu karena ia tidak terlalu paham berbahasa Korea.Jiwon hanya memandangnya sekilas lalu kembali memandangi rumput-rumput di hadapannya.

“Jiwon-ssi… haengbokhaesseoyo? Yeogineun?” tanya Jennie tak menyerah.

“Bahagia? Di rumah ini?” tanya Jiwon. Jennie mengangguk penuh harap.

“Ani” jawab anak laki-laki itu singkat.

Jennie memandangi Jiwon dari dekat. Ini pertama kalinya Jennie memandang Jiwon sedekat ini. Hingga akhirnya yeoja itu menyadari ada sebuah bekas jahitan di bawah telinga kiri Jiwon.

“Apakah itu.. tidak apa-apa?” Jennie mencoba menyentuh bekas jahitan itu, tapi Jiwondengan cepat mengelak.

Sorry” ucap Jennie.

“Ini ulah ayahku” ucapnya tiba-tiba.

“Bagaimana.. bisa?”

“Jika kau selama ini bertanya-tanya mengapa aku dan ibuku tinggal disini, itulah alasannya” Jennie mendengarkan cerita Jiwon dengan seksama.

“Aku tidak pernah menceritakan ini pada siapapun karna aku tak punya siapapun untuk diceritakan. Aku hanya punya ibuku di dunia ini” Jennie memandangJiwon dengan sedih. Anak sekecil ini tidak punya siapapun di dunia ini.

“Ayahku dipecat dari pekerjaannya setengah tahun yang lalu. Dan ia berubah menjadi monster setelah itu. Kerjanya berjudi, mabuk-mabukan, dan main perempuan. Jika ia kehabisan uang, ia akan pulang ke rumah untuk memintanya pada ibuku. Jika ibuku tidak memberinya uang ia akan memukuli ibuku, bahkan memukuli aku..”Jiwon terdiam sesaat. Matanya berkaca mengenang kenangan buruk itu.

“Ah aku sangat membencinya. Mungkin jika aku sudah dewasa, akan ku bunuh orang itu” lanjut anak itu lagi.

“Ibuku akhirnya tidak kuat dan melarikan diri dari rumah.. dan disinilah kami, menumpang di rumahmu” anak itu mengakhiri ceritanya.

Jennie memanangnya berkaca-kaca, “It’s okay.. everything’s gonna be alright. I’ll stand by you from now on..” ucap Jennie meyakinkan. Yeoja itu tersenyum cerah.

Jiwon memandangnya ragu, lalu perlahan senyuman mulai terlihat di wajahnya.

Sejak hari itu, hari demi hari mereka lewati bersama. Mereka berjanji untuk saling mengandalkan satu sama lain. Mereka berjanji untuk selalu bersama apapun yang terjadi. Mereka berjanji untuk tidak akan pernah meninggalkan satu sama lain.

Hingga suatu hari, di malam 1 januari 2006, saat mereka baru saja selesai mengadakan pesta barbeque ayah Jennie menyampaikan sebuah berita buruk…

“Jennie.. tidak ada yang bisa ayah lakukan…” ayahnya berusaha membujuk Jennie, tapi yeoja itu menggeleng kuat.

Don’t do this to me please..” Jennie yakin airmatanya tak bisa berhenti saat ini.

“Jennie come on..”

Dad.. please.. i won’t leave..”

“JENNIE KIM! Tolong jangan mempersulit keadaan. Ayahmu ini harus pindah ke Korea. Ayah pun sebenarnya tidak ingin. Ayah lebih ingin tinggal disini. Tapi tidak ada yang bisa ayah lakukan karna kantor pusat yang memerintahkan ayah…” Jennie menggeleng kuat.

I won’t leave!” yeoja itu berlari menaiki tangga lalu masuk ke kamarnya seraya menangis.

Jiwonmemandanginya dengan sedih dari celah kecil di pintu kamarnya. Jennie sebentar lagi akan meninggalkannya. Ia akan pergi dari sini.

“Tidak tidak.. kau tidak perlu mengkhawatirkan tentang apapun. Aku tidak akan pergi. Aku tidak akan meninggalkanmu..” ucap Jennie keesokan paginya di taman belakang rumah.

“Aku tau kau pasti pergi..” ucap Jiwon. Hatinya sesungguhnya sangat marah saat ini.

NO! PROMISE!” ucap Jennie dengan yakin.

Pada akhirnya, yeoja kecil itu memang tetap pergi. Meninggalkan Jiwondan ibunya, meninggalkan semua kenangan indah yang telah mereka lakukan dalam waktu singkat. Jiwon merasa marah. Ia merasa dikhianati karena Jennie sudah meyakinkannya berkali-kali bahwa ia tidak akan pergi.

“Aku berjanji akan kembali.. aku janji akan menemuimu di usiaku yang ke-15! Aku janji! Tunggu aku kembali, oke?” ucap Jennie seraya melambai-lambai dengan berat hati dari kaca mobilnya.

Don’t make any promise to me” ucap Jiwon lalu berlalu dari sana. Ia tak sanggup melihat wajah Jennie lagi.

“JIWON! JIWONI PROMISE YOU! AKU AKAN LANGSUNG MENEMUIMU JIKA TERJADI SESUATU PADAMU! AKU JANJI KIMJIWON!!!”

End of flashback.

***

Jennie sudah menitikkan airmatanya. Ia tak dapat menahannya. Inilah yang selalu terjadi setiap kali ia mengingat kenangan itu.

“Jadi.. kalian memiliki hubungan semacam itu sejak kecil? Aku tidak pernah mengerti sebelumnya.. ia selalu menyebut-nyebut seorang gadis setiap ia bercerita tentang masa kecilnya. Cinta pertamaku yang menyakitkan. Itu yang selalu ia katakan”

“Mwo..?”

“Bobby menyebutmu itu hahaha, aku terkadang bingung kenapa ia tidak menyukaimu. Tapi sekarang aku mengerti..”

“Lalu sekarang giliranmu sunbae” ucap Jennie.Air muka Jimin seketika berubah serius.

“Ehem geurae. Semua ini dimulai ketika ibunya meninggal..”

“Ayo duduk disini” ucap Jimin menunjuk sebuah kursi kayu. Mereka pun duduk disana.

“Bobby mengalami banyak hal sulit di dalam hidupnya. Sejak ayahnya sering menyiksanya dan ibunya, dan hidupnya semakin sulit sejak ibunya meninggal dunia..”

“Apa yang terjadi padanya setelah ibunya meninggal?”

“Ia bertemu ayahnya di pemakaman ibunya, dan ayahnya memohon padanya untuk kembali. Ia sangat marah pada ayahnya dan akhirnya ia kabur”

“Ia menjadi gelandangan di kota besar seperti Los Angeles. Ia berkata jika hidupnya sangat-sangat menyedihkan saat itu” Jennie tau matanya sudah berlinang saat ini. Ia merasa benar-benar bersalah pada namja itu.

“Ah bagaimana.. kau bisa bertemu dengannya?” tanya Jennie.

“Hingga akhirnya ia bertemu ayahku. Saat itu ia bekerja di sebuah restoran sebagai tukang mencuci. Ayahku meninggalkan ponselnya di atas meja dan Bobby menyimpannya hingga ayahku kembali dan ia mengembalikan ponsel milik ayahku. Aku sangat salut padanya. Disaat hidup terasa amat sulit baginya, ia tetap berperilaku jujur dan tidak mau mencuri barang milik orang lain”

“Dia memang anak yang seperti itu sejak kecil” Jennie tersenyum kecil.

“Ayahku langsung tertarik padanya, dan banyak bertanya tentang kehidupannya. Ayahku pun menawarkan tempat tinggal untuknya, dan mengangkatnya menjadi seorang anak. Ia setuju dan memutuskan untuk mengganti namanya menjadi nama Amerika nya. Ia mengatakan jika ia akan melupakan semua kenangan buruk yang pernah terjadi selama ini. Ia akan memulai hidup barunya.. sebagai Bobby Kim”

“Oh  Jennie-ssi apa kau.. menangis?” Jimin menyentuh bahu Jennie hati-hati.

“Aku merasa sangat buruk padanya.. aku berjanji banyak hal padanya dan aku mengingkari semuanya..” ucap Jennie terisak. Hatinya sangat sakit mendengar kehidupan Bobby setelah ia meninggalkannya.

“Dia sudah baik-baik saja sekarang, jangan merasa buruk pada dirimu sendiri”

“Sunbae.. terimakasih sudah menjaganya hingga kami bertemu lagi…” ucap Jennie tulus. Jimin tersenyum mendengarnya lalu mengangguk.

***

Don’t ask why it has to be you,

Just stay with me…

Pagi itu Bobby baru datang ke sekolah. Mulutnya sibuk memakan lollipop kesukaannya. Ia memasuki kelasnya yang masih terlihat sepi. Hanya ada beberapa anak perempuan saja yang kini sedang asik mengobrol. Ia menuju ke mejanya dan duduk begitu saja.

“Oh” ia tak sengaja menjatuhkan lollipopnya ke lantai. Ia pun merunduk untuk mengambilnya. Saat merunduk, ia melihat sesuatu di laci mejanya.

Banana bingrae kesukaannya, dan sebuah kertas bertuliskan

HOKSANG. –JK.

“JK? Mwoya? Apa orang ini memerintahku untuk pergi ke atap?” gumam Bobby.

Bobby melempar kertas itu keatas meja, lalu meminum bingraenya santai. Ia tak perduli dengan surat itu, ia tak perduli kalaupun ada seseorang yang sedang menunggunya di atap saat ini. Ia tidak ingin pergi ke atap. Setelah menghabiskan bingrae nya, ia terus memandangi kertas itu. Berpikir berulang kali.

“Ah jinjja” ia mengambil kertas itu kasar, lalu akhirnya pergi ke atap.

Saat membuka pintu atap, ia mendapati seorang yeoja tengah memunggunginya. Ia menghela nafas berat, lalu akhirnya melangkah mendekati yeoja itu.

“Jennie-ya” yeoja itu menoleh, dan tiba-tiba mendapat sebuah pelukan dengan kasar. Yeoja itu terbelalak kaget.

“Aku sangat membenci ayahmu yang telah memisahkan kita…” ucap namja itu pelan.

“Aku ingin sekali membencimu.. tapi aku tak pernah sanggup melakukannya..” dan seketika itu juga airmata menitik dari mata Jennie.

“Aku namja yang buruk. Aku kasar dan berpura-pura melupakanmu.. kenapa kau tak pernah menyerah? Kenapa kau tetap memilihku? Aku sudah bertekad untuk melupakanmu.. tapi aku tak pernah sanggup..” airmata lagi-lagi mengalir dari mata Jennie.

Bobby melepas pelukannya, lalu memegang kedua belah pipi yeoja itu.

“Uljima.. kau sudah terlalu banyak menangisiku selama ini” ucap namja itu dengan eye-smile nya. Ia menyeka airmata Jennie dengan ibu jarinya.

“Jiwon-a..” panggil Jennie lembut.

“Nae chot sarang Kim Jiwon..” Bobby tersenyum mendengarnya.

Don’t ask why it has to be youjust stay with me..” ucap Jennie memandang mata Bobby dalam-dalam.

I’ll stay with you.. forever” ia pun memandang bibir Jennie sesaat, lalu akhirnya mengecup bibir itu cukup lama. Jennie memejamkan matanya dan airmata bahagia lagi-lagi mengalir.

So stay, wherever that may be

Sometimes, when darkness comes, I’ll be your fire

In this world that is a lie, the only truth it’s you

This a letter from me to you

-END-

Iklan
[BPF EVENT] STAY

Satu pemikiran pada “[BPF EVENT] STAY

  1. hi there^^
    Aaww romantisnya Bobby:) *walaupun awalnya ngeselin bgt kkk~
    jujur sebenernya aku lebih suka couple Jennie-B.I, atau Jisoo-Bobby.. tapi secara keseluruhan ceritanya bagus hehe aku suka cara eon menjelaskan kisah mereka waktu kecil:D
    sampai bertemu di karyamu yg lain^^

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s