[BPF EVENT] Sampai Disini

pexels-photo-196666.jpeg

Title       : Sampai Disini.

Author  : Jiuaena

Cast       : Blackpink’s Jisoo | NCT’s Ten | BlackPink’s Lisa

Length  :Vignette (1.000-5.000 word)

Rating   : PG

Photo  ViktorHanacek.cz

Prompt :

You seem good, you seem comfortablewithout me.
Honestly, it hurts a bit.

 

Untuk pertama kalinya dalam hidup Jisoo, Ia bersyukur tentang ibunya yang pernah menyeretnya ikut kursus Bahasa Inggris selama liburan musim panas dulu-yang Ia pikir hanya akan membuang-buang waktu hibernasi setahun sekali miliknya. Lagipula, Jisoo tidak pernah ada niatan akan bersekolah ke luar negri atau mengadu nasib disana.

‘ Setidaknya Aku punya kemampuan lebih, dan, Well, kurasa kemampuan Bahasa Inggris ini satu-satunya.’

Jahat memang kalau Jisoo mengira dulu Ibunyaberpikir begitu, tapi kalau dipikir sekarang sih, Jisoo setuju-setuju saja. ‘Setidaknya Aku punya nilai jual.’

Tidak banyak yang bisa dideskripsikan dari Jisoo, Ia bukan mahasiswi berotak cemerlang, atau gadis berkulit semulus porselen yang jago dandan.

Dia sendiri yang bilang, ‘Kalau dinilai dari satu sampai sepuluh dalam soal ‘biasa aja’, Aku ini dinomor sebelas. Manusia paling abu-abu,’

Well, cukup sampai disini deskripsi tentang Jisoo.

Sejujurnya, entah ini bisa dibilang karena kemampuan berbahasa miliknya atau bukan, intinya ia tidak akanseperti sekarang kalau bukan karena Ten, si angka sepuluh.

Kalau Kau iseng bertanya tentang Ten pada cewek-cewek di kampus, setidaknya Kau butuh sepuluh sampai lima belas menit untuk bersabar mendengar ocehan mereka. Tidak semua sih, tapi bukan hal yang mustahilkalau mereka semua pernah mencapai titik dimana mereka mengagumi Ten diam-diam-sesebentar apapun itu.

Siapa yang tidak menyukainya? Ten ini tipikal makhluk yang mustahil untuk dibenci-kecuali oleh laki-laki yang merasa kebanting-minder- olehnya.

Lalu, hubungannya dengan bahasa Inggris Jisoo-yangbiasa-biasa saja-, sebenarnya pertanyaan ‘Kenapa harus Jisoo? ’ ini sudah ratusan kali-mungkin-terlontar selama dua tahun terakhir. Ada banyak mahasiswi cantik yang jago bahasa Inggris di kampus, dan ajaibnya, cowok kelahiran Thailand itu memilih Jisoo untuk menjadi penerjemah pribadinya.

Jisoo juga tidak pernah menanyakan alasan khusus kenapa Ten memilihnya, takut ia akan kecewa dengan alasan polos dari Ten. Sampai saat ini, Jisoo meyakinkan dirinya kalau itu sepenuhnya faktor keberuntungan, tentang ia bertemu Ten yang kebingungan mencari toilet di hari pertama mereka kuliah, lalu besoknya Ten yang berlari ke arahnya memintanya menjadi penerjemah pribadinya.

Hubungan mereka hanya sebatas Mahasiswa Asing dan penerjemah pribadinya, awalnya. Mungkin masih sama sampai sekarang bagi Ten, tapi sulit-hampir tidak mungkin-bagi Jisoo. Yang bertemu sesekali saja bisa dengan mudahnya menyukai Ten, apalagi Jisoo yang setiap hari dijejali senyuman keren dan candaan ringan milik Ten?

Kadang Jisoo sebal juga karena hati kecilnya seringkali tidak tahu diri berkhayal tentang Ten yang suatu hari nanti akan berada di sisinya, tapi, mau bagaimana lagi? Sulit sih.

Setidaknya ia mampu bertahan selama dua tahun untuk tidak canggung di hadapannya saat jantungnya harus berdetak 0,5 kali lebih cepat akibat hal-hal kecil yang Ten lakukan, demi menjadi teman baik Ten, dan penerjemah yang profesional juga.

Baru akan genap dua tahun sebenarnya, kalau saja Ten tidak pergi ke perpustakaan umum saat liburan musim panas. Salah Jisoo juga yang menolak menemani Ten hari itu,“ Tebak siapa yang kutemui di perpustakaan kemarin? Kujamin Kau akan menyesal tidak ikut denganku ke perpustakaan kemarin,“

Benar, Jisoo menyesalinya, sangat.

“ Minggu depan kami akan bertemu lagi, Kau harus ikut kali ini,”

Dan ini penyesalan keduanya. Ia ikut dengan Ten ke perpustakaan kota Minggu berikutnya.

“ Jisoo-ya, kenalkan, namanya Lisa- Oh, Lisa, ini temanku yang kuceritakan waktu itu, Jisoo,”

Semangat sekali Ten mempertemukan telapak tangan Jisoo dan Lisa, Ia terlihat bahagia bisa kembali menggunakan bahasa rumahnya.Tidak butuh waktu lama untuk Jisoo menyimpulkan apa yang baru terjadi di hadapannya. Cewek super cantik yang baru saja dipaksa berjabat tangan dengannya ini, rupanya berdarah Thailand juga, seperti Ten. Pantas saja Ten segirang itu.

Dan siang itu menjadi 2 jam terlama-dan terpanas- dalam hidup Jisoo. Menurut Jisoo, kalau keadaan saat itu dianalogikan, ia adalah kentang di antara dua apel merah segar, tidak mengerti apa-apa sementara mereka asyik bicara dengan bahasa mereka, akrab sekali. Seakan menyatakan hubungan –nyaris-dua tahun Ten dan penerjemah-nyaitu tidak ada apa-apanya. Menyebalkan, kan?

Jisoo sudah menebaknya, tidak mungkin itu adalah pertemuan terakhir mereka. Ten bilang mereka akan rutin bertemu tiap akhir pekan. Ten juga menunjukkannya terang-terangan, tentang keinginannya men-skip senin sampai sabtu-kalau bisa.

Jisoo semakin membenci hati kecilnya yang terus memberontak berteriak ‘tidak suka, benci,sebal,’tanpa suara. Karena ia paham betul, mulutnya tidak punya hak untuk menyuarakan kekesalannya pada Ten, yang sebenarnya tidak salah apa-apa padanya.

Makhluk super polos dan baik hati seperti Ten rupanya tidak sadar dengan si penerjemah pribadinya yang perlahan melangkah mundur darinya, toh setelah dua tahun disini, perkembangan bahasa Koreanya bisa dibilang cukup pesat.

Ten juga santai-santai saja berbicara dengan siapapun tanpa penerjemahnya itu. Atau sebenarnya ia sadar dengan kemampuannya namun hatinya terlalu lembut untuk memecat si penerjemah­ nya itu?Oh, ini hanya pemikiran terjahat Jisoo.

Dua setengah bulan pertama Jisoo sukses melangkah mundur dari Ten, mudah bagi Jisoo untuk menghindari Ten, Jisoo hafal jadwal harian Ten. Sampai akhirnya Ten meneleponnya malam-malam. Awalnya Jisoo pikir Ten akhirnya sadar tentang aksi langkah mundur Jisoo. Awalnya.

“ Jisoo-ya, Aku punya kupon es krim mint ukuran large! Kau langsung kesana, ya? Kelas terakhirmu pukul dua kan?Oh! Lisa bilang ia merindukanmu,kekeke~”

Lisa bilang ia merindukanmu.

Jisoo menenggelamkan wajahnya ke bantal mengingat apa yang kepalanya pikirkan tigapuluh detik lalu. Bodoh. Memangnya apa yang bisa ia harapkan dari Ten yang jelas-jelas sedang tergila-gila dengan Lisa-nya itu?

Perasaan tahu dirinya itu menelan bulat-bulat tangis yang hendak muncul karena hati kecilnya yang terluka. Inginnya begitu. Tapi izinkan untuk malam ini saja, Jisoo ingin membuang perasaan tahu diri-nya itu dan membiarkan hati kecilnya menangis sepuasnya.

Oh, ya. Kelas terakhir Jisoo besok sampai tengah hari, bukan jam dua.

 

=-=-=-=-=

I didn’t have a courage so I called you “ a good friend ”.

And, I hate myself for still longing for you.

 

“ Jisoo-ya, kenalkan, namanya Lisa- Oh, Lisa, ini temanku yang kuceritakan waktu itu, Jisoo,”

Semangat sekali Ten mempertemukan telapak tangan Jisoo dan Lisa, puas akhirnya bisa membawa Jisoo ke hadapan Lisa-hendak pamer penerjemah kesayangannya itu. Melihat reaksi Jisoo, Ten pikir Jisoo akan berteman baik dengan Lisa.

Satu hal yang Ten pahami, Jisoo dan Lisa itu mirip sekali. Maksudnya, bukan visualnya. Ketertarikan mereka dengan buku-buku astronomi dan dinosaurus, penggemar fanatik es krim mint, cara mereka berbicara, tertawa, mereka mirip. Dengan berbagai kesamaan itu, Ten harap Jisoo akan berteman baik dengan teman temuannya itu.

Ten juga mudah sekali akrab dengan Lisa, pertama, karena Ten adalah Ten, yang mudah sekali berteman dengan siapapun. Kedua, ia leluasa berbicara dengan bahasa rumahnya-tanpa harus berpikir panjang mencari kosakata yang tepat. Ketiga, karena Lisa mirip sekali dengan Jisoo, teman dekatnya selama dua tahun terakhir.

“ Uhm, Teman dekat ya? ” Lisa puas sekali bisa melontarkan pertanyaan itu. Dan, mungkin tidak ada yang sadar dengan pergerakan sudut bibir Ten yang secepat kilat, termasuk Jisoo yang sibuk dengan buku dinosaurusnya saat itu.

Hari-hari berikutnya, Ten senang sekali membahas Lisa, berhubung konversasi antara Lisa dan Jisoo benar-benar singkat, ia pikir ia harus ikut turun tangan supaya kedua teman baiknya bisa akrab. “ Tahu tidak, Lisa itu blablabla.. sepertimu, Kau juga blablabla..”

Kadang bodoh dan polos itu tipis sekali. Contohnya,Ten.

Sampai akhirnya, promo es krim setengah harga menyadarkan Ten. Sadar kapan terakhir kali ia menghabiskan waktu-makan es krim-dengan Jisoo. Tanpa pikir panjang ia menghubungi Jisoo, juga membubuhkan ‘Lisa juga merindukanmu’ supaya mereka cepat akrab, toh memang Lisa ingin sekali bertemu dengan Jisoo, mungkin di lain waktu, untuk kali ini Ten hanya ingin mentraktir Jisoo. Hanya Jisoo.

Pukul dua lewat sepuluh Ten sudah tiba di kedai es krim langganan mereka, sengaja ia datang lebih dulu, niatnya supaya puas mengomeli Jisoo karena membuatnya menunggu.

Baru saja ia duduk di bangku, tiba-tiba Sam-pelayan kenalan mereka berdua- menghampiri Ten. “ Jisoo menitipkan ini. Kukira ini darinya untukmu, ternyata bukan.” Malu-malu Sam menaruh satu buket bunga di atas meja, takut pengunjung lain berpikir macam-macam.

“ Jisoo bilang, ini kesukaan Lisa. Oh, jadi benar ya gosipmu dengan si blasteran itu?“ Kerutan di dahi Ten terlihat semakin jelas. Pertama, yang ia tunggu adalah Jisoo, bukan Lisa. Kedua, hei gosip darimana itu?

“ Jisoo bilang, kalian berdua serasi-Aku juga setuju dengannya. Katanya, Kau harus percaya diri, Ten! “

Jisoo yang bilang. Dan entah ada apa dengan Ten, ia tidak suka mendengarnya.

Tepat dua detik setelahnya, lonceng di pintu berbunyi, dan muncul Lisa dari balik pintu yang terlihat lebih anggun hari ini- karena rok selutut yang digunakannya, juga warna pastel yang mendominasi pakaiannya hari ini. Jelas, Lisa susah payah berdandan untuk ini.

Ten berani bersumpah kalau Jisoo yang yang menelpon Lisa menyuruhnya kesini, entah bagaimana ia mengatakannya. Untuk yang kedua kalinya, Ten tidak suka.

Dan yang ketiga, Ten tidak tahu harus apa sekarang-dengan segala hal yang diatur Jisoo untuknya. Untuk yang ketiga kalinya, Ten tidak suka, ia tidak mau menyakiti Lisa.

Fin.

 

 

 

Iklan
[BPF EVENT] Sampai Disini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s