[BPF EVENT] Heaven

PicsArt_11-02-09.47.30.png

Heaven.

a story by nathcyj

with Blackpink’s Jisoo and [OC] a boy

psychological & angst

{ ficlet } { PG-15 }

warning! : fast-paced, minim dialog

“heaven is a place where nothing ever happens

ㅡHeaven by Talking Heads

. . . . .

 

Jisoo hidup dalam dua dunia.

Di dunianya, ia hidup sebagai pengelana –sendirian. Ia melompat, berlari, bahkan terbang bagai elang. Bebas, tanpa kungkungan perasaan maupun ekspektasi. Ia melaju bersama bayu, bukan waktu.

Ia seperti lahir di nirwana –bersama chandra yang tidak pernah absen mengisi setiap malamnya, bersama baskara yang enggan berhenti merangkulnya dengan kehangatan. Ia berteriak ketika ingin berteriak, menangis ketika ingin menangis, dan tertawa ketika ia ingin tertawa.

Apapun yang ia lakukan, tidak ada hukum yang menjeratnya. Dunianya laksana cakrawala –tanpa batas, hanya ada dirinya dan pancarona yang terbentuk.

. . . . .

Di dunia nyata, Jisoo hidup sebagai manusia yang diperlakukan seperti robot tanpa jiwa.

Setiap inci raganya diikat peraturan, harus selalu sempurna seperti ekspektasi orang tuanya. Ia dipenjara dalam kabut bernama opini orang luar; kebebasannya diraup, ia berpacu dengan waktu, tidak boleh berhenti apalagi jatuh.

Sejak masih kanak-kanak, Jisoo tidak pernah mempunyai waktu untuk bersosialisasi. Satu-satunya yang ia kenal adalah upaya untuk mencapai harapan orang tuanya. Sahabat sejatinya adalah setumpuk buku pelajaran dan ensiklopedi, taman bermainnya adalah tempat les privat setiap senja menjemput. Nilai buruk berarti neraka, kendati nilai terbaik pun juga bukan berarti surga.

Jisoo memahami kehidupannya sebagai jalan hidup kedua milik orang tuanya. Jisoo belum pernah memahaminya sebagai milik Jisoo sendiri.

. . . . .

Ia meraung dalam sunyi.

Di dunianya sekarang yang mewujud dalam sebuah telaga biru, Jisoo meratap.

Ia mengingat setiap hentakan kasar yang ayahnya tujukan padanya, ia ingat setiap teriakan lengking pita suara ibunya. Ia ingat kobaran api yang menyala-nyala dalam netra keduanya, seperti membakar seluruh jiwanya yang terlanjur rusak.

Lagi, Jisoo bertanya, apa yang salah dari mencari kebebasan dalam dunia nyata? Apa yang salah ketika ia mencari pelarian dalam kungkungan?

Jisoo merapatkan lututnya, dan memagutnya erat dengan kedua lengan. Kepalanya tertelungkup, menyembunyikan air mata yang menganak sungai di kedua pipinya. Telaga biru dihadapannya terdistorsi, berubah warna menjadi kemerahan seperti anggur yang Jisoo teguk kemarin.

Kini, di dunianya, Jisoo tidak lagi sendiri.

Ia dikejar dosa yang enggan berhenti memakan jiwa dan akal sehatnya.

. . . . .

“Kau sudah dengar? Kemarin lusa Jisoo mabuk di jalanan. Ia berteriak-teriak seperti orang gila!”

“Jisoo? Jisoo yang itu? Dia mabuk?”

“Aku dengar ia juga menghisap narkoba.”

Jisoo ingin sekali menulikan pendengarannya, atau menghilang sekalian dari dunia nyata.

Dadanya sesak. Orang-orang begitu mudah menyebarkan berita buruk tentangnya, tanpa pernah menilik melalui sudut pandangnya. Jisoo seperti sampah sekarang, noda hitam pada secarik kertas. Orang memandangnya dengan tatapan menjijikkan, seolah mereka semua suci dan belum pernah melakukan kesalahan.

Jisoo mengangkat sudut bibirnya, ingin tertawa. Dunia menyediakan kelakar yang sungguh menggelikan, membuatnya mati rasa. Semua prestasi yang ia capai selama tujuh belas tahun hidupnya hancur lebur karena sebotol anggur, menguap dalam kurun waktu dua hari.

Jisoo jatuh, terperangkap dalam dosa.

. . . . .

“Kau frustasi? Kenapa tidak bunuh diri saja?”

“Ide buruk.”

“Tidak juga. Jika kau berubah pikiran, datanglah ke gedung XX besok pukul tujuh malam!”

“Tidak akan.”

. . . . .

Di penghujung hari, Jisoo berubah pikiran.

Ia sudah melangkah diatas lantai gedung. Satu langkah salah, ia akan terjun dari gedung lima belas lantai tersebut.

Ia memandang kebawah. Hamparan kerlap kerlip jalanan Seoul di malam hari seolah mengejeknya, mengejek keputusannya untuk berdiri disana sekarang.

Satu langkah, dan Jisoo akan bebas dari jeratan takdir yang melilitnya.

“Kau takut?”

Suara pria itu menginterupsinya, mengalihkan atensinya dari sorot lampu-lampu kendaraan bermotor.

“Tidak juga. Aku hanya berpikir, dimana aku akan berada setelah terjun ke bawah sana?”

Pria itu terkikik. Surai kelamnya melambai tertiup angin, dan ia sedikit terbatuk kemudian.

“Bodoh. Setelah ini tentunya kau akan berada di pemakaman. Yang menunggumu hanyalah kekosongan, atau paling bagus ya api penyucian. Kau tidak akan langsung terlempar ke neraka ataupun surga.” Pria itu menelantangkan lengannya, menyambut angin yang menerpa. “Kau pasti berpikir bahwa hidup di surga itu menyenangkan. Padahal, kau bisa membuat surga itu sendiri. Surga –adalah tempat dimana tidak ada sesuatu pun yang terjadi. Hanya ada kau, dan kau bebas menentukan kemana kau akan pergi. Kau bisa mewujudkan surga tanpa harus meninggalkan dunia.”

Jisoo terperanjat. Ia pikir pria itu akan mengajaknya bunuh diri ganda, namun ternyata ia mendapat ceramah gratis di saat-saat kritis hidupnya.

“Jangan mati konyol disini Jisoo-ya. Kau tidak akan pernah tahu kemana roda kehidupan akan berputar.”

Jisoo tidak yakin bisa mewujudkan surga. Yang ia yakini hanyalah bahwa roda kehidupannya masih berjalan.

The End.

Iklan
[BPF EVENT] Heaven

Satu pemikiran pada “[BPF EVENT] Heaven

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s