[BPF EVENT] Freedom

tumblr_oesizftxa71tpuw1xo1_1280

Freedom

by oldnavy
starring Black Pink’s Lisa
Slice of Life, etc.
“Kusenang, kusenang ku telah bebas.” —Kebebasan, Singiku.

Lisa menggigit bibir bawahnya, panik. Sesekali ia menyeka peluh di dahi yang kian menetes, suhu mendadak panas, situasi berubah tegang. Gadis itu kemudian memanjatkan do’a, memohon bantuan Tuhan atau Dewi Fortuna dalam keadaan mendesak seperti sekarang ini. Lisa mengacak surai cokelatnya frustasi, tidak tahu harus berbuat apa.
Kepalanya hampir mau pecah kala dwimaniknya bersirobok dengan angka-angka yang terdapat huruf didepannya. Laksana bom atom yang siap untuk meledak kapan saja. Lisa mengembuskan napas pasrah, ia seperti berada di sebuah persimpangan antara “menyerah” dan “tidak menyerah”. Ingin gadis itu mengayunkan kedua tungkainya menuju “menyerah”, tetapi hati nuraninya mencegah, seolah berkata kau tidak boleh menyerah.
Ia menoleh kebelakang, melihat sebagian teman-temannya yang sama-sama sedang mengalami kesulitan seperti dirinya. Lisa hendak membuka mulut—menanyakan beberapa hal kepada salah seorang teman yang tidak jauh darinya, namun tenggorokannya tercekat saat Si Mata Elang menatapnya dengan tajam. Celaka, aksinya ketahuan.
Kalian pasti bertanya-tanya siapa sebenarnya Si Mata Elang. Akan kuberitahu, Si Mata Elang adalah seseorang paling menakutkan di wilayah yang Lisa dan kawan-kawannya tempati. Ia dapat mengetahui dengan mudah gerak-gerik seseorang (atau sesuatu) yang berada di dekatnya, sekali bergerak, pelototan atau tatapan tajam melayang. Yah, meskipun tidak sehebat kelelawar dengan bantuan sonarnya, tetap saja menurut Lisa itu sangat amat tidak terduga.
Lisa menundukkan kepalanya, waktunya tidak lama lagi. Tidak ada kesempatan untuk tengak-tengok kebelakang, Si Mata Elang pasti sudah mengetahui taktiknya. Akhirnya Lisa memutuskan untuk menuliskannya, menulis apa yang ia ketahui, tulisan yang nantinya akan menentukan nasibnya di masa mendatang.
Alarm jam tangan digital Lisa berbunyi. Waktunya sudah habis, gadis itu tersenyum puas, akhirnya ia berhasil menyelesaikannya. Akhirnya ia bebas.
“Waktu habis, silakan dikumpulkan,”
Lisa segera menonaktifkan alarmnya yang masih berdering lalu bergegas menuju tempat Si Mata Elang, mengumpulkan hasil jerih payah otak dan tangan kanannya dengan hati bangga. Dilihatnya kawan-kawannya yang sedang kalang kabut mencari jawaban sana-sini dengan raut wajah memelas, Lisa terkikik geli, ah—sebaiknya ia keluar mencari ketenangan. 40 butir soal aljabar barusan membuatnya sedikit pening.
Ah, Lisa baru menyadari bahwa kebebasan bisa senikmat ini. Ujian tengah semester selama sepekan terakhir membuatnya lupa apa arti kebebasan yang sesungguhnya. Bagaimana tidak, orangtua Lisa yang sangat menjungjung tinggi nilai akademis itu membatasi waktu bermainnya di luar rumah. Bagai burung di dalam sangkar, Lisa tidak tahu-menahu apa yang telah terjadi di luar sana. Belum lagi ancaman Papa yang memikirkannya saja sudah membuat dirinya bergidik ngeri.
Namun, kini semuanya sudah berakhir. Lisa bisa bernapas lega sementara sebelum hasil ujian tengah semesternya dibagikan, baginya yang terpenting adalah ia telah mengerahkan seluruh kemampuannya dalam seluruh mata pelajaran. Yang penting, sekarang ia bebas.

“Lis! Parah banget, parah!”
Suara nyaring milik Jennie sukses membuyarkan lamunan Lisa. Ia berdecak sebal sembari memandang Jennie yang masih terengah-engah karena berlari dengan kecepatan maksimum dari arah kantin. Kedua alis Lisa bertaut ketika menatap raut wajah sobatnya yang terlihat begitu nelangsa, apa yang membuat Jennie menjadi sesedih ini?
“Ada apa, Jen? Lagi sedih banget kayaknya,” Lisa bertanya tepat ke inti permasalahan sehingga suasana hati Jennie semakin memburuk. Kerutan di dahi Lisa menebal kala ia melihat Jennie yang sudah hampir menangis, Lisa mengembuskan napas perlahan lalu memegang bahu kanan sobatnya—berusaha memberi kehangatan walaupun sifatnya temporer.
“Kamu tahu nggak, Lis…” Jennie mencoba untuk angkat suara, menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi kepada Lisa. Alis sebelah kiri Lisa terangkat, kedua tangannya terlipat sembari menunggu penjelasan dari mulut Jennie.

“Masa ada dua soal yang belum aku isi tadi. Dan bodohnya, aku baru sadar sekarang…”

end.

Edisi UTS 26 September lalu heee
Tau kok ini absurd he he he
Ocha, 02-line. Salam kenal semuanya!!

Iklan
[BPF EVENT] Freedom

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s