[BPF EVENT] Eyes, Nose, Lips

rwr

Eyes, Nose, Lips

 

Title : Eyes, Nose, Lips (Oneshoot) || Author: Zhie/@Zhiedara44 ||Main Cast : Kim Jisoo, Kim Hanbin || Genre: Hurt|

~

Why you do that babe ?
It doesn’t have to be this way, but there’s no way I could stay
-Eyes, Nose, Lips : Lydia Paek-

~~~

Noona, haruskah kau pergi?” tanya namja jangkung menahan pergelanganyeoja yang dipanggilnya NoonaYeoja bertubuh mungil dengan rambut panjang hitam yang tergerai itu pun mengangkat wajahnya menatap namja di hadapannya yang terlihat cemas. Terdengar helaan nafas panjang sebelum ia menjawab, dengan mata sendu dan senyum yang dipaksakan… yeoja itu pun melangkah pelan mendekati dan memeluknya.

Ne. Aku harus pergi, tidak ada alasan untukku tinggal.” jawab yeoja itu berusaha menahan rasa sesak yang ia rasakan, “Jagalah dia.” lanjutnya kali ini terdengar sangat lirih sebelum melepaskan pelukannya, dan akhirnya ia pun berbalik melangkah pergi.

Noona-” … “Jisoo Noona!”

Tak dihiraukannya lagi panggilan dari namja jangkung itu, namja yang seharusnya kelak akan menjadi adik iparnya… karena sebuah keputusan besar telah ia ambil, ia akan mengakhiri semuanya… mengakhiri hubungannya, mengakhiri cintanya, mengakhiri rasa sakit yang telah lama bersarang di hatinya.

.

.

.

“Kau bahkan tidak harus berbohong, Hanbin!” pekik suara yeoja yang terdengar sangat parau disela-sela isak tangisnya yang ia tahan, namja yang berusaha untuk menenangkannya pun akhirnya menyerah… ia terduduk di sofa dengan kedua tangan memijat pelan pelipisnya yang kini terasa amat sangat berat. Namja itu sadar ia telah kembali mengulang kesalahannya… itu membuatnya kehilangan cara bagaimana untuk kembali menjelaskan, meminta maaf, dan memperbaiki semuanya.

“Jisoo-yah… dengarkan aku, aku tidak bermaksud untuk membohongimu hanya saja- hanya saja aku tak mampu lagi menahannya. Aku tak bisa mengatakan tidak saat ia ingin bertemu denganku. Aku tak tahu sebenarnya bagaimana hatiku. Di satu sisi aku tak ingin meninggalkanmu atau pun menyakitimu tapi di sisi lain… aku tak bisa melupakannya, Jisoo. Aku… aku akui, aku masih mencintainya.”

“Lalu… bagaimana denganku? Apa artinya hubungan kita selama 3 tahun ini? Kau… apakah kau- kau hanya berpura-pura mencintaiku? Kau hanya kasihan padaku?”

“Ani… anio, tidak seperti itu. Dia adalah masa laluku dan kau kini adalah masa depanku…”

“Masa depanmu? Bagaimana aku bisa menjadi masa depanmu bila hanya dirinya yang ada dalam pikiranmu, eoh.” ucap Jisoo dengan suara yang kini melemah, ia berusaha keras untuk tetap bertahan tapi itu sudah mencapai batasnya, “Hanbin… Hanbin-ah.”

“…” Namja yang dipanggil Hanbin itu pun kini menatap Jisoo yang masih membelakanginya, Hanbin tahu pasti… Jisoo tidak ingin melihatnya sekarang.

“Sampai di sini-“

Mwo?” Hanbin tak mengerti.

“Kita akhiri sampai di sini.”

“Ya! Jisoo-“

“Aku menyerah-“

“Hentikan, Jisoo.”

“Aku menyerah untuk menjadi masa depanmu. Jadi… kau bisa kembali padanya. Arasseo?”

.

.

.

“Aku menyerah… aku menyerah… pergi… pergilah padanya…”

Ya! Jisoo… Jisoo-yah… bangunlah. Hei, bangun.” seseorang membangunkannya- Jisoo membuka matanya pelan.

“Jiwon.” gumamnya tersenyum saat melihat sosok yang sebelumnya sangat dekat dengannya.

Kim Jiwon. Teman sepermainnya sejak ia berada di taman kanak-kanak, dan hingga saat ini… ia adalah teman yang selalu mendengar keluh kesahnya.

“Bangunlah. Apa kau mimpi buruk, hah?” tanyanya kemudian membantu Jisoo untuk bangun dari posisi tidurnya.

Ne… begitulah. Terima kasih telah membangunkanku.” jawab Jisoo akhirnya.

“Ah. Itu bukan apa-apa… hanya tak lupa berdoalah setelah ini sebelum tidur. Aku akan membuatkanmu sesuatu yang hangat. Tunggulah.” ucap Jiwon berlalu meninggalkannya. Jisoo pun beranjak dari tempat ia terbaring beberapa hari ini. Yah, setelah ia tiba di kampung halamannya- Busan, ia mengalami demam dan saat itu tidak ada siapa pun di kediamannya… orangtua Jisoo terlalu sibuk dengan pekerjaannya di luar kota, sementara kedua adiknya tengah sibuk dengan kuliahnya dan lebih memilih tinggal di asrama. Jisoo tak ingin sedikit pun membebani mereka dengan kisah cintanya yang kandas, oleh karena itu… ia lebih memilih menyendiri untuk menenangkan diri tapi siapa sangka di saat ia meyakini dirinya kuat dan baik-baik saja, ia malah jatuh tak sadarkan diri tepat sebelum ia masuk ke dalam rumahnya dan saat itu Jiwon yang kebetulan melintas melihat dan menolongnya.

“Jisoo, apa yang kau lakukan?” tanya Jiwon saat melihat Jisoo telah berdiri di balkon kamarnya melihat ke langit luas- menyadarkan Jisoo dari lamunan, ia pun berdiri di sampingnya dan memberikan minuman hangat yang baru saja ia buat.

Ani. Aku hanya ingin menikmati malam yang tenang ini.” jawabnya kemudian menyesap secangkir minuman yang baru ia terima. “Hmm… coklat? Aku suka ini.” lanjutnya saat menyadari apa yang ia minum.

“Aku tahu, karena itu aku membuatnya.”

Gomawo.”

Ne. Apa kau sudah jauh lebih baik?”

Jisoo mengangguk pasti, “Berkatmu. Terima kasih sudah menjagaku, aku pasti sangat merepotkanmu beberapa hari ini dan sampaikan permintaan maafku padaahjumma karena telah banyak menghabiskan waktumu untukku.” jawab Jisoo kali ini bermaksud menggoda Jiwon, karena Jisoo tahu Jiwon sangat dekat dengan ibunya dan Jisoo suka melihat kedekatan yang seperti itu antara ibu dan anak. Jujur… ia merindukan saat dimana ibunya datang untuk sekedar memeluknya.

Ani. Eomma juga khawatir padamu, karena itu ia merelakan anak kesayangannya ini untuk merawatmu. Ah… tapi, aku benar-benar tak mengerti, apa yang namja brengsek itu pikirkan… bagaimana bisa ia kembali berbuat ini padamu, hah?” Jiwon tak lagi bisa menyembunyikan kekesalannya, karena ia lah satu-satunya orang yang tahu bagaimana kerasnya Jisoo bertahan untuk cintanya. Bahkan saat Jiwon dengan tegas tak menyukai pilihannya untuk kembali memaafkannya, ia berusaha untuk percaya laki-laki yang dicintai Jisoo itu akan berubah, tapi nyatanya… ia kembali menyakitinya.

Anio. Tak ada yang salah dengan dirinya, tapi akulah yang salah karena memaksa hadir dikehidupannya.”

Ya! Jisoo-yah… apa kau akan terus seperti ini, hah? Menyalahkan dirimu di saat terlihat jelas dia lah yang menyakitimu, berhentilah Jisoo- berhenti menyalahkan dirimu.”

Araesso. Karena itu… Jiwon-ah, bisakah kau bantu aku melupakannya?”

Mwo?”

“Aku benar-benar ingin berhenti menyalahkan diriku sendiri, menyalahkan karena masih memikirkannya, menyalahkan karena aku tak bisa membencinya, menyalahkan mengapa aku merindukannya dan menyalahkan diriku karena sampai saat ini aku masih mengharapkannya. Apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku lakukan untuk bisa melupakannya? Apa yang harus aku lakukan, Jiwon? Apa kau tahu?” tanya Jisoo berusaha keras menahan air mata saat mengucapkannya. Jiwon tak lagi bisa untuk menjawab, ia hanya mendesah dan ikut menatap langit malam dalam diam.

~~~

Sesosok namja dengan jalan terhuyung baru saja keluar dari mobil rekan yang mengantarnya, dan kini ia berusaha untuk masuk ke dalam rumah.

“Kau minum lagi, Hyung?” tanya sebuah suara yang menyambutnya. Sekilas ia melihat ke arah dari mana suara itu berasal.

“Jung Chanwoo. Diamlah.” jawabnya singkat, sambil mengendurkan ikatan dasi dan setelah itu menghempaskan tubuhnya di sofa.

“Setidaknya kau masih bisa pulang dengan aman.” guman namja bernama Chanwoo itu mendekati sosok yang ia panggil Hyung. Sosok yang selama 10 tahun ini berusaha untuk ia dekati dan itu tidaklah mudah- tidak… sampai seorang Kim Jisoo masuk ke dalam kehidupan mereka.

Kim Hanbin- ia lah sosok yang berhasil ditaklukkan Jisoo dan sejak saat itulah ia lebih membuka diri dan mau menerima Chanwoo sebagai adiknya. Yah… orang tua Hanbin telah bercerai dan ayahnya memutuskan untuk kembali menikah dengan wanita beranak satu sementara ibunya pergi tanpa adanya kabar.

“Maaf.”… “Maafkan aku… Jisoo, maaf.” terdengar ucapan Hanbin lemah ditengah kesadarannya yang tak lagi utuh, Chanwoo pun berlutut melepaskan sepatunya.

“Aku tahu kau akan menyesal, Hyung… tapi harusnya kau mengucapkan kata maaf itu langsung di hadapannya. Jisoo Noona adalah yang terbaik, bukan?” gumam Chanwoo yang entah sudah berapa kali mengatakan itu pada Hanbin, tapi Hanbin tak kunjung juga memberikan jawaban- jawaban akan kepastian untuk dirinya dan hatinya.

.

.

.

Annyeong. Kim Jisoo imnida, aku guru privatmu mulai hari ini.” ucap yeoja dengan pakaian casualnya tersenyum ramah.

Ne. Anneyong… Jung Chanwoo imnida, seonsangnim.”

“Anio. Panggil saja aku Noona, karena bagaimana pun aku belum terlalu tuakan? Ah. Lagipula aku telah memberitahu ibumu tentang ini, aku tak terlalu suka dipanggil seongsangnimssaem… atau sejenisnya, itu terlalu formal bagiku dan ibumu tidak masalah.”

“Ah… Ne, Jisoo Noona.”

Semenjak hari itu Jisoo selalu datang ke kediaman Chanwoo, 3 kali dalam seminggu untuk mengajar dan membantunya menghadapi ujian masuk universitas.

Sampai suatu hari… Jisoo bertemu dengannya- di hari hujan.

Hujan tak kunjung berhenti, dengan tergesa Jisoo menggunakan payungnya menembus hujan untuk sampai di halte. Hari itu ia ada jam mengajar privat… dan pantang baginya untuk terlambat, tapi ia harus rela ketinggalan bus yang telah melaju saat ia baru tiba di halte- itu membuatnya harus menunggu kurang lebih 10 menit untuk bis selanjutnya.

“Argh. Ottoke?” gumamnya mulai mengeluh, dan tiba-tiba pandangannya terhenti… “Omo. Apa yang orang itu lakukan, hah? Apa ia tidak sadar dengan hujan?” batinnya saat melihat seorang namja seperti terpaku melihat papan iklan yang berada di seberang jalan, sementara tubuhnya telah basah kuyup oleh hujan- orang itu seolah tak menghiraukan sekitarnya. “Pabbo-yah.” ucap Jisoo lirih berusaha mengabaikannya, tapi sedetik kemudian entah mengapa Jisoo telah berjalan menghampirinya dan dengan payung yang terbuka lebar… Jisoo telah berada di sampingnya- membuatnya berada di bawah payungnya. Jisoo dapat merasakan namja itu sekilas melihat ke arahnya, tapi Jisoo berusaha untuk tak membalasnya… karena ia akan bingung bila ditanya apa alasannya memayunginya, karena jujur… ia benar-benar tak tahu kenapa- itu berjalan begitu saja.

“Apa yang kau lakukan?” tanya namja itu akhirnya.

“Ah… aku hanya penasaran, dengan apa yang kau lihat hingga kau seperti orang bodoh di bawah derasnya hujan.” jawab Jisoo berhasil menguasai dirinya.

“Cih. Dan itu mengartikan kau lebih bodoh karena memayungi orang bodoh yang tidak kau kenal.” ucap namja itu membuat Jisoo kini melihat ke arahnya.

Omo. Menyebalkan. Ck ck… sepertinya aku mulai benar-benar bodoh karenanya.” batin Jisoo hendak berbalik pergi, tapi langkahnya terhenti saat namja itu mengatakan sesuatu yang membuat Jisoo mengurungkan niatnya.

“Apa aku terlihat menyedihkan?” ulang namja itu bertanya padanya, Jisoo pun kembali memposisikan diri di sampingnya.

Mwo?”

“Lihatlah… yang di sana.” namja itu menunjuk papan iklan yang menampilkan wajah sesosok selebriti yang cukup terkenal, dan Jisoo tahu… selebriti itu bernama Nana- Nana Komatsu. Ia adalah keturunan Jepang-Korea, dan beberapa waktu yang lalu ia telah mengumumkan pertunangannya dengan salah satu orang terkaya di Korea.

Ne… waeyo?”

“Dia tanpa alasan yang jelas memutuskan dan bertunangan dengan pria lain. Bukankah itu menyedihkan?”

Omo. Apa dia gila? Apa dia seorang fans yang patah hati?” batin Jisoo tak habis pikir dengan yang namja itu ucapkan.

“Kau pasti berpikir aku gila iya’ kan?”

Tepat sasaran. Jisoo ingin mengiyakan, tapi ia menahannya untuk tak berkomentar. Namja itu pun tersenyum saat Jisoo tak kunjung menanggapinya dan ia kembali melihat ke arah papan iklan itu dengan tatapan yang tak bisa dilukiskan, dan entah kenapa Jisoo merasa sesak saat melihatnya… tatapan sendu yang menyakitkan.

Ciiiittt

Terdengar decitan roda bus dan aspal yang saling bergesekan. Pintu bus yang terbuka. Jisoo pun tersentak menyadari bus yang telah berhenti di halte…

“Ah. Busnya.” Jisoo telah berbalik untuk pergi, tapi kali ini namja itu menggapai pergelangan tangannya yang kosong dan menariknya mendekat- memeluknya- erat. Jisoo membulatkan matanya tak mengerti sementara satu tangannya masih tetap bertahan memegang payungnya. “A… ap… apa… apa yang kau lakukan?” tanya Jisoo akhirnya di tengah dadanya yang tiba-tiba berdetak lebih cepat karena mereka kini terlalu dekat. Itu membuatnya seketika merasakan aliran hangat menjalar di seluruh tubuhnya.

“Jangan pergi.”

Mwo?”

“Kubilang jangan pergi.”

Wae… wae?”

“Karena aku membutuhkanmu…”

Mwo?”

“…membutuhkan payungmu.”

“???”

Ouch. Dia Gila.

~

“Maaf saya terlambat.”

“Tidak biasanya kau datang terlambat, Jisoo-ssi?” tanya Jung Haeyeon- Ibu Chanwoo saat menyambutnya.

“Ah. Itu karena-“

“Aku pulang.” potong seseorang di belakangnya.

Mwo? Buat apa ia mengikutiku hingga ke sini? Bukankah ia mengatakan hanya ingin mengantarku?” tanya Jisoo dalam hati, ia tak mengerti… namja yang tiba-tiba memeluknya dan memaksa untuk mengantarnya, kini ikut masuk ke dalam rumah anak didiknya. “Bukankah ini berlebihan? Mengapa ia mengekoriku, hah?” batin Jisoo terus menerus bertanya bingung.

Omo. Kau pulang?” Jisoo semakin mengerutkan keningnya, saat ibu Chanwoo terlihat mengenalnya. Namja itu pun melewati Jisoo, dan terlihat acuh tak mengabaikan wanita paruh baya yang tengah menatapnya.

“Eh… eh… apa ini? Tidak sopan.” pikir Jisoo mengamati.

Ne. Anda tidak suka aku pulang?”

“Ah. Anio… bukan begitu. Masuklah- ada apa denganmu, kau basah kuyup? Aku akan segera membuatkanmu sup hangat.”

Ani. Tidak perlu melakukannya. Aku hanya mampir sebentar. Oh iya… dia- terlambat karena aku, jadi tak usah lagi menanyakannya.” Jisoo tersadar, saat namja itu menunjuk ke arahnya. Terlihat ibu Chanwoo kini tengah menatapnya, Jisoo hanya bisa mengangguk membenarkan tanpa bisa lagi berkata-kata.

Beberapa saat kemudian…

“Jadi Noona, jadi apa hubunganmu dengan Hanbin Hyung?” tanya Chanwoo di sela-sela mengerjakan soalnya.

“Hanbin Hyung?”

“Iya. Dia kakakku, Eomma mengatakan kau datang bersamanya. Yah, walaupun sebenarnya kami bukan saudara kandung tapi ia tetap kakakku, kan? Jadi apa hubunganmu dengannya?”

Anio. Tidak ada… tidak ada apa pun.”

Jinjja?

Ne.”

“Ah… kupikir-“

Mwo?” tanya Jisoo saat  tak kunjung melanjutkan ucapannya.

Anio. Tapi gomawo Noona, kau telah membawanya kembali ke rumah. Walau hanya sesaat, senang rasanya ia mampir dan berbicara pada Eomma.”

“Ah… itu hanya kebetulan.”

Ne. Tetap saja, aku berterima kasih Noona. Suatu saat mungkin ia juga bisa menerima dan berbicara denganku.”

Wae? Suatu saat? Memang kau selama ini tak pernah bicara dengannya?” tanya Jisoo menatap tak mengerti. Chanwoo tersenyum kecut.

Anio. Hyung– ia tak suka… ah, ani maksudku ia belum menerimaku dan Eomma masuk ke dalam kehidupannya dan aku sangat memaklumi itu.”

Omo. Bukankah ia seharusnya bertindak lebih dewasa? Mengapa ia seperti itu hah?” gumam Jisoo tak bisa memahaminya.

“Mungkin karena ia masih menganggap kami adalah benalu atau tanaman yang mengganggu di pekarangannya…”

Mwo?”

Eommaku dan Appa Hanbin Hyung telah menikah 2 tahun lalu… aku senang saat itu, karena yang kutahu Appa Hanbin Hyung orang yang sangat baik dan hangat, berbeda dengan appaku yang sebelumnya selalu memukulku dan eomma bila sedikit saja ada yang salah di matanya. Appa Hanbin Hyung juga mengatakan dengan jujur bahwa dia saat itu masih dalam proses perceraian dengan istrinya yang hanya sibuk dengan karirnya tanpa memperdulikan perkembangan putra mereka, terlepas dari itu semua tanpa tahu bagaimana perasaan Hanbin Hyung– aku menyambutnya dengan sangat terbuka dan gembira… hingga aku sadar saat kami dipertemukan pertama kali, dia memiliki tatapan yang sangat tak bersahabat padaku. Aku sempat berpikir, apa aku dan Eomma telah melakukan kesalahan? Seandainya Eomma dan aku tak masuk kekehidupan Appa Hanbin Hyung, mungkin saja kini Appa dan Eomma Hanbin Hyung masih bersatu? Aku terus memikirkan tentang hal itu… karena itu- semua menjadi wajar bila Hanbin Hyung masih tak bisa menerima kami dengan tulus.”

“Ah. Aku sedikit mengerti sekarang, tapi tetap saja… tidak bisa terus seperti ini. Chanwoo-yah… tenang saja Noona ini akan membantumu.”

Dan hari demi hari, bulan demi bulan pun berlalu.

Jisoo hadir di kehidupan mereka membawa sebuah keajaiban- dengan keceriaan, kehangatan dan senyum tulusnya ia mampu merubah semuanya… bahkan Hanbin akhirnya menyerah dan membuka hatinya yang sebelumnya terasa beku dan mati kini mencair seiring berjalannya waktu. Yah, Jisoo telah membuatnya menerima semuanya… menerima uluran kasih sayang tulus orang-orang yang kini berada di sekelilingnya. Jisoo. Kim Jisoo- telah merubah hidupnya.

.

.

.

“Hei! Kau sudah lebih sehat sekarang? Kau akan pergi?” tanya Jiwon saat melihat Jisoo baru saja keluar dari rumahnya dengan pakaian dan rambut yang tertata rapi.

Ne. Aku mendapat panggilan interview di Seungha High School hari ini. Lagipula tidak baik untukku jika terus mengurung diri di rumah.” jawab Jisoo yang Jiwon tahu ia tengah berusaha keras untuk dapat bangkit dari keterpurukannya.

“Ah. Itu benar,” gumam Jiwon akhirnya, “Kalau begitu kajja, aku akan mengantarmu.” lanjut Jiwon dengan semangat meraih lengan Jisoo dan mensejajarkan diri di sampingnya.

Mwo? Kau tidak perlu melakukannya.” sungut Jisoo merasa aneh dengan perlakuan Jiwon yang tiba-tiba menempel padanya.

“Ya! Waeyo? Bukankah wajar seorang sahabat mendukung sahabat kecilnya? Dan kau perlu tahu Jisoo, aku ini pembawa keberuntungan. Jadi kau akan sangat beruntung bila bersamaku… dan kupastikan kau akan segera diterima sebagai guru tetap di sana.”

“Cih. Kau terlalu percaya diri.” cuap Jisoo akhirnya, membuat Jiwon hanya mencibir.

“Ais. Terserahlah jika kau masih meragukan dewi fortuna yang selalu mengikutiku itu. Sokajja… atau kau akan terlambat nanti.” jawab Jiwon membuat Jisoo berpikir sejenak dan akhirnya…

“Baiklah. Kajja… pembawa keberuntunganku, kau harus pastikan aku benar-benar beruntung kali ini.” ucap Jisoo lantang disusul teriakan bersemangat dari Jiwon.

Ok. Let’s go!”

Jisoo pun kembali tersenyum dengan segala tingkah Jiwon di sampingnya, ia harusnya bersyukur di saat seperti itu- ia memiliki Jiwon untuk menghiburnya dan tak seharusnya ia mendorongnya menjauh karena yang ia butuhkan memanglah sebuah penghiburan.

Melewati hati yang terluka seorang diri- itu sungguh tak akan menyembuhkan apapun… tapi dengan seseorang yang tulus menemanimu, luka itu pasti akan pulih dengan cepat. Benarkan?

~~~

Bukan awan putih, langit biru dan sinar matahari yang menghiasi Kota Seoul hari ini, tapi langit mendung yang mungkin akan menjatuhkan butiran-butiran airnya sesaat lagi. Hanbin masih berada di kantornya dan ia melupakan waktu makan siangnya. Ia belum mengubah posisinya- ia masih menatap jauh keluar jendela dengan pikiran yang entah kemana.

“Hanbin.” Sebuah suara menyadarkannya.

“Ah. Jinhwan HyungWae?”

“Kau tidak makan?”

“Ah. Aku belum lapar.”

“Memikirkannya lagi?”

Mwo?

“Aku tidak tahu pasti, Nana atau Jisoo yang berada dipikiranmu sekarang. Kau menyukai keduanya, menginginkan keduanya dan kau menjadi seorang egois yang brengsek, ops-“… “Jangan marah, bila aku katakan itu.” ucap Jinhwan akhirnya, yang hanya di respon anggukan pasrah oleh Hanbin. Ia tidak marah bukan karena Jinhwan lebih tua darinya atau karena Jinhwan adalah sahabatnya tapi itu karena apa yang dikatakannya kali ini benar. “Ayolah, man.Tetapkan hatimu, Nana telah lama memutuskanmu walaupun aku kadang masih tak mengerti mengapa ia selalu menghubungimu- dan Jisoo… aku sangat prihatin padanya kali ini, tapi bukan berarti aku berpihak padanya, aku berada di posisi yang netral… kau tahu itu? Hanya saja temuilah dia, paling tidak minta maaf padanya jika memang pada akhirnya kalian tidak mungkin lagi bersama… aku yakin itu dapat sedikit membantumu melupakan rasa bersalahmu padanya dan Jisoo pun dapat lebih mudah melepasmu dan melangkah maju lebih baik ke depan.”

Hanbin menghela nafas panjang, “Aku harusnya melakukan itu, tapi entahlah- mungkin tidak kembali muncul di hadapannya itu adalah yang terbaik. Aku hanya berusaha untuk membantunya lebih cepat melupakanku. Aku telah menyakitinya begitu banyak, ia terlalu lama bertahan tapi pada akhirnya aku tak bisa membuatnya untuk tetap tinggal.”

“Itu karena kau tidak pernah memintanya, Hanbin- dan saat ia pergi, kau bahkan hanya melihatnya tanpa berkeinginan untuk mencegah.” Sindir Jinhwan tahu pasti bagaimana gilanya Hanbin saat mendapat kabar dari Chanwoo bahwa Jisoo akan pergi meninggalkan Seoul. Jinhwan yang saat itu berada satu mobil dengannya setelah melakukan pertemuan bisnis pun harus benar-benar rela nyawanya tertinggal dimana-mana karena Hanbin mengendarainya mobilnya seperti orang yang tak waras, tapi well… apa yang terjadi selanjutnya, saat tiba di sana… Hanbin hanya melihatnya dari kejauhan tanpa sedikit pun berniat keluar dari mobil untuk menahannya, Hanbin hanya meremas kemudinya saat melihat Jisoo masuk ke dalam taksi yang akan membawanya sementara Chanwoo yang telah berusaha menahannya tidak dapat berbuat banyak.

“Yah begitulah, Hyung. Aku hanya berharap, ia dapat segera menemukan orang yang dapat menyembuhkan luka yang ku buat.”

Ne. Dan kau akan menyesal?”

Sigh.

“Yah. Aku akan-” guman Hanbin akhirnya. Lagi-lagi membenarkan.

.

.

.

Siang yang cukup terik di musim panas kali ini, beberapa tempat makan telah mulai terisi penuh saat jam makan siang. Jisoo dan Hanbin berada di salah satunya- mereka duduk saling berhadapan menikmati makanan yang telah tersaji di hadapan mereka.

“Waahhh… Hanbin-ah, ini sangat lezat.” ucap Jisoo pada kekasihnya Hanbin di sela-sela makan siang mereka.

“Omo. Makanlah dengan pelan, Jisoo.” Hanbin kembali mengingatkan, menjulurkan tangannya- membersihkan makanan yang masih tertinggal di sudut bibir Jisoo.

“Aku sengaja. Agar kau membersihkannya.” canda Jisoo membuat Hanbin tertawa.

“Benarkah? Jika begitu lakukanlah lagi, lalu aku akan membersihkannya dengan bibirku kali ini.”

“Uhuk… uhuk… uhuk. Ya!” Jisoo tersedak.

“Hahaha… minumlah dulu.”

Hari-hari Hanbin telah berlalu dengan baik semenjak Jisoo berada di sampingnya, ia sangat menikmati kebersamaan mereka saat itu… berpikir memang itulah yang terbaik- sampai akhirnya wanita yang berusaha untuk ia lupakan kembali menghubunginya dan menyita kembali perhatiannya dan semenjak itu… ia tak dapat menolak.

“Hanbin-ah. Kau sangat sibuk akhir-akhir ini. Jadi bisakah kau sedikit luangkan waktu untuk peringatan hari jadi kedua kita pekan depan?” tanya Jisoo penuh harap saat menghubungi Hanbin melalui ponselnya, “Ah. Jinjja? Kau akan datang? Yuhuuuuu… kalau begitu aku akan siapkan semua makanan yang kau suka.” lanjut Jisoo begitu bersemangat.

Hingga akhirnya malam yang ditunggu Jisoo pun tiba.

Segala makanan yang Hanbin suka telah ia sajikan di atas meja dan gaun paling cantik yang ia punya telah ia gunakan dengan make up natural yang melengkapi wajah cantiknya. Ia berharap Hanbin akan benar-benar menyukainya, dan akan lebih terkesan dengannya.

Dan tak lama ponselnya pun berbunyi.

Yeoboseyo. Hanbin-ah. Kau di mana? Mwo? Kau tidak bisa datang? Wae? Ah. Kau ada rapat mendadak? Aku bisa menunggumu. Ah. Tak perlu? Ne. Araesso. Gwaenchana. Ah… baiklah, Hanbin. Ne.’

Dan akhirnya sambungan pun terputus, Jisoo hanya bisa menghela nafas panjang melihat makanan yang ia yakin ia tak akan mampu menghabiskannya dan melihat kembali pantulan dirinya di cermin- ia hanya bisa mengasihani diri,“Gwaenchana, Jisoo-yah. Ia benar-benar sibuk sekarang.” batinnya menguatkan.

Sementara itu di tempat lain…

“Siapa yang kau telepon, Hanbin? Apa ada janji yang penting?” tanya yeoja yang kini menghampirinya- memeluknya dari belakang.

Anio. Bukan apa-apa.”

“Ah. Baguslah… karena malam ini, aku ingin kau menemaniku. Terlalu banyak masalah menghampiriku, bahkan tunangan yang dipilihkan orang tuaku pun tak lagi memperdulikanku. Jadi maukah kau menemaniku? Aku bisa selalu mengandalkanmu, kan?”

Ne. Kau bisa mengandalkanku.”

Beberapa minggu kemudian…

“Kita memliki tanggal ulang tahun yang sama, jadi dimana sebaiknya kita merayakannya?” tanya Jisoo melalui saluran teleponnya saat itu. “Ah. Baiklah… tapi bukankah restoran itu sangat mahal? Ah. Araesso… araesso, kau punya cukup banyak uang untuk membayarnya. Ne. Kita akan bertemu di sana.” Jisoo pun mengakhiri sambungan dengan hati berbunga-bunga- ia akan makan malam di hari yang sangat sangat spesial bersama orang yang juga spesial- Hanbin.

Saat ini Jisoo tengah menunggu Hanbin di salah satu restoran yang cukup terkenal di Seoul. Sesekali ia memeriksa penampilannya agar itu tetap sempurna dan kini pandangannya menuju ke arah pintu masuk, berharap Hanbin akan segera muncul paling tidak dengan sebuket bunga tulip kesukaannya. Tapi telah lama ia menunggu- Hanbin tak juga menampakkan batang hidungnya, sampai akhirnya ia memutuskan untuk menghubunginya.

‘Hanbin-ah. Aku menunggumu. Mwo? Kau bersama rekan bisnismu? Tapikan- Araesso. Kau masih lama dengannya? Baiklah… kau benar, masih ada hari esok. Araesso. Aku tak kan menunggumu… aku akan pulang sekarang. Ah. Tunggu… selamat ulang tahun, Hanbin.’

Dan sambungan pun kembali berakhir, “Ah. Hanya terima kasih? Seharusnya kau juga mengatakan selamat ulang tahun padaku.” gumam Jisoo mencoba sekali lagi untuk memaklumi semuanya.

Sebulan… tiga bulan… lima bulan berlalu.

Waktu berjalan seperti biasa- tak ada yang berubah- setidaknya itu yang diharapkan Jisoo di saat ia mulai berpikir ada sesuatu yang salah, tapi ia tak bisa sedikitpun menebaknya.

Hingga suatu hari, ia merasakan kepalanya sangat berat- keringat dingin keluar dari tubuhnya dan saat itu ia mencoba menghubungi seseorang.

“Hanbin-ah… aku sedang sakit sekarang. Bisakah kau datang? Ah. Aku tidak perlu apapun. Hanya membuatkanku ramen seperti biasa… itu yang kusuka. Ne. Aku akan menunggumu.’

Satu jam… dua jam… berlalu. Jisoo masih menunggunya, berharap untuk kali ini saja Hanbin datang untuk menemaninya tapi pada kenyataannya? Sigh.

“Kyaaaaa!!! Aku lulus dengan sidang pertamaku, kau di mana sekarang? Bisakah kita merayakannya? Aku ada di- mwo? Kau tidak bisa? Wae? Ah. Kau ada meeting? Baiklah. Ne. Araesso. Aku akan menunggu di apartemenmu.” Jisoo berusaha keras untuk mengabaikan segala prasangka buruknya pada Hanbin, ia selalu berpikir positif… itu yang ia tanamkan untuk dapat selalu menjaga hubungan. Walaupun lagi-lagi itu kembali membuatnya menghela nafas panjang.

“Ah. Baiklah… aku akan belanja dan membuat makanan yang enak sebelum ia pulang. Ia pasti telah sangat lelah bekerja seharian ini.”

Ponselnya kembali berbunyi.

Ne. Yeoboseyo Chanwoo-yah, wae? Ah. Haeyeon Ahjumma ingin aku datang? Baiklah aku akan-“

Deg

Jisoo tak lagi dapat melanjutkan ucapannya kali ini, karena tepat di hadapannya- tak jauh darinya- ia melihat seseorang yang baru saja dihubunginya kini tengah berjalan hangat berdampingan dengan wanita yang bergelayut mesra di sampingnya. Walaupun wanita itu telah menutupi wajahnya dengan masker yang ia gunakan, Jisoo dapat menebak dengan baik siapa dia.

.

.

.

Jisoo melihat pantulan dirinya di cermin hari ini, memastikan bahwa make up-nya telah terpoles sempurna. Ini hari yang ditunggu setelah ia berhasil lolos dalam interview dan beberapa bulan masa training sebelum menjadi guru tetap di salah satu sekolah yang cukup terkenal di Busan.

“Ah. Akhirnya… aku benar-benar akan menjadi seorang guru yang profesional!” seru Jisoo saat kini ia telah berjalan dengan Jiwon di sampingnya menuju halte.

“Selamat, Jisoo… mimpimu telah tercapai, sekarang kau percaya dengan dewi fortuna yang selalu mengikutiku, bukan?”

Aigo. Kau begitu besar kepala sekarang. Ini juga hasil dari kerja kerasku, kau tahu?”

Araesso… araesso. Kalau begitu kau harus lebih bersemangat, Jisoo. Aku akan selalu mendukungmu. Fighting… fighting… fighting!” Jiwon mengepalkan kedua tangannya dengan ekpresi lucu di hadapan Jisoo- membuat Jisoo tak mampu untuk menyembunyikan tawa renyahnya.

“Ouch. Berhenti melakukan itu, Jiwon-ah… kau membuatku sakit perut.” ucap Jisoo di sela-sela tawanya.

Omo. Benarkah? Aku meniru para idol di TV saat melakukannya, Eomma bilang itu cute… tapi sepertinya itu tak berlaku untukku.” jawab Jiwon dengan wajah kecewanya yang ia buat-buat.

Jisoo kembali tertawa.

Jiwon pun sesaat mengamatinya. Sungguh ia sangat tak suka bila ada lagi yang menghilangkan tawa indah itu dari seorang Kim Jisoo, ia hanya berpikir… bukankah laki-laki yang dicintainya harusnya beruntung? Jisoo adalah sosok yang selalu ceria dengan segala kehangatan dari kepribadiannya. Kim Hanbin. Apa kabarnya sekarang?

Wae?” tanya Jisoo kemudian.

Ani. Hanya saja- senang rasanya melihatmu kembali tertawa seperti itu.”

“­Eoh?

“Tetaplah seperti ini, seperti Jisoo yang kukenal sebelum ia mengenal cinta.”

Deg

Jisoo merasa itu seperti tamparan keras baginya, Jiwon benar. Sakit hati yang di alaminya beberapa waktu lalu membuatnya benar-benar lupa seperti apa dia. Tapi- lihatlah sekarang. Ia memang butuh waktu dan- ia bisa.

Ne. Kau benar. Inilah harusnya aku.” gumam Jisoo kemudian, “Gomawo, Jiwon-ah. Gomawone.” lanjut Jisoo menatap Jiwon tulus, Jiwon pun tersenyum membalasnya tapi sedetik kemudian… “YA!” pekik Jisoo saat Jiwon tiba-tiba mengacak-acak rambutnya yang telah rapi, “Apa yang kau lakukan, hah?” seru Jisoo tak terima mengejar pria yang kini telah berlari menjauh darinya.

Yah, cinta terkadang dapat membuatmu- merubahmu- menyempurnakanmu- menjadi seseorang yang paling bahagia di dunia, tapi tidak bisa dipungkiri… cinta dapat menjatuhkanmu- menyakitimu- bahkan mematahkan hatimu- menjadi sesuatu yang tak akan pernah kau pikirkan.

Itulah sisi lain cinta. Ia bagai dua sisi koin- bagai hitam dan putih- bagai yin dan yang– di mana itu akan selalu berhubungan dan berlawanan, lalu pada akhirnya… hanya keberuntungan yang membuatmu bertaruh dengan hidupmu di dalamnya.

~~~

Sementara itu, di sisi lain… terlihat seorang namja tengah menatap kebersamaan Jisoo dan Jiwon dengan penuh arti. Ia tak bisa memungkiri segala perasaan tengah berkecamuk di dadanya… dan saat melihat bagaimana kini Jisoo dapat kembali tertawa dan tersenyum- jujur, ia merasa lega. Lega- karena Kim Jisoo telah mulai kembali kepada kekehidupannya yang tenang sebelum ia menorehkan luka. Kim Hanbin. Tak ada lagi yang ia ingin lakukan sekarang- bahkan niat untuk meminta maaf pun telah dikuburkannya dalam-dalam. Hanbin tak ingin lagi mengusiknya. Ia tahu ia begitu merindukan sosok yang kini tengah tersenyum ceria tak jauh darinya- ia merindukan segala yang ada pada dirinya- tatapannya- hembusan nafasnya- bahkan manis bibirnya… ia merindukannya semuanya. Tapi kini ia harus rela melepaskan semuanya. Jisoo- Kim Jisoo… inilah akhirnya.

Dengan helaan nafas yang berat, Hanbin pun berbalik- pergi- menjauh- menahan segala keinginan untuk menariknya kembali ke sisinya, dan kini ia hanya berharap jika suatu saat mereka dipertemukan kembali, tidak ada luka yang terlihat dan itu baik-baik saja.

~~~

Apa itu penyesalan?

Ketika semuanya terasa begitu terlambat…

Apa itu kehilangan?

Ketika tidak bisa lagi mendapatkannya…

Dan apa itu keputusasaan?

Ketika tidak ada lagi jalan untuk memperbaikinya…

~~END~~

Iklan
[BPF EVENT] Eyes, Nose, Lips

2 pemikiran pada “[BPF EVENT] Eyes, Nose, Lips

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s