[BPF EVENT] Could Be Like That

[BPF Event] Could Be Like  That_Vhaerizz.jpg

Could Be Like That

|| Rosie Park/Rose Blackpink • Kwon Jiyong/G-Dragon Bigbang || Romance • Angst || PG-15 || Vignette ||

|| A Story by Vhaerizz ||

“Why can’t you hold me on the street? I wish that it could be like that.”—Secret Love Song, Little Mix feat. Jason Derulo

***

 

Rose kelabakan pagi ini. Tidak begitu ingat apa yang dilakukannya semalam sebelum tidur, tapi yang pasti alarm di nakas samping tempat tidurnya tidak berbunyi dan membuatnya terlambat bangun.

Astaga! Waktunya tidak lebih dari tiga puluh menit sebelum kelas paginya dimulai dan sekarang Rose masih bingung sibuk membenarkan kancing kemeja kotak-kotak lengan panjang yang sangat longgar di tubuh kecilnya.

“Bangun terlambat lagi, Cantik?”

Tidak perlu berbalik, Rose sudah bisa melihat siapa yang berdiri dengan tampang menyebalkan di ambang pintu kamarnya. Apakah semalam Rose juga lupa mengunci pintu kamarnya? Sejak bangun dengan keterkejutan tadi, sepertinya Rose belum keluar kamar sama sekali. Kamar mandi pun ada di dalam kamarnya.

Jadi bagaimana bisa pria menyebalkan bernama Kwon Jiyong itu berada di sana sekarang?

Rose berusaha tidak menghiraukan eksistensi pria yang memiliki tato sayap di leher belakangnya itu. Cepat-cepat ia memasukkan buku catatan bersampul tebal gambar naga ke dalam tasnya dan mengikat asal rambut hitam yang panjangnya hampir menyentuh pantat.

“Minggir, Oppa,” pinta Rose tidak sabaran. Ia berharap Jiyong akan langsung menyingkir tanpa ada sesi memohon seperti sebelum-sebelumnya.

Sayangnya, Jiyong menggeleng. Masih dengan wajah menyebalkan yang sangat membuat Rose sebal. Dengan sengaja Jiyong melebarkan kaki, menghalangi jalan Rose sepenuhnya tanpa ada celah sedikit pun.

“Astaga! Aku bisa terlambat, Oppa. Minggir sekarang atau aku akan mengadu pada Lyn kemarin kau—”

“Kucium kau jika masih berani mengancamku.”

Rose menutup mulutnya rapat-rapat. Sekarang ia masih di rumah, bisa menimbulkan bencana jika Jiyong yang tidak punya rasa takut itu menciumnya saat ini juga. Tidak ada jalan lain kecuali memohon. Kenapa Jiyong senang sekali membuat orang lain merasa tertindas?

Oppa, please.” Rose memasang wajah memelas yang semoga saja mengundang rasa kasihan dari Jiyong. Ada kuis hari ini, jadi Rose tidak boleh terlambat apalagi tidak masuk sama sekali. Kolom nilainya bisa kosong dan berpengaruh ke nilai akhirnya nanti.

Kiss me.” Itu bukan permintaan, melainkan syarat yang diajukan Jiyong pada Rose. Semacam password yang akan membuka pintu yang terkunci.

“Ini di rumah, Oppa.”

“Aku tahu.”

“Jadi tidak mungkin aku menciummu sekarang. Kumohon menyingkirlah. Riwayatku akan tamat jika terlambat hari ini.”

Tentu saja mereka bicara dengan suara pelan, nyaris seperti berbisik. Kamar Rose ada di lantai dua rumah keluarga Park. Menempati kamar yang dulu ditempati kakak perempuannya, Lyn Park, yang kini pindah ke kamar bawah di samping tangga.

“Sayang, Rose sudah bangun, belum?”

Nah! Itu suara Lyn. Jiyong benar-benar gila sudah minta Rose untuk menciumnya padahal jelas-jelas ada Lyn di rumah. Pasti tadi Lyn yang meminta Jiyong ke atas untuk membangunkan Rose dan dengan sifat sok penurutnya, Jiyong mengiyakan.

Rose mendorong dada Jiyong hingga pria yang lengah saat menoleh itu terhuyung ke belakang. Rose bisa keluar dari kamar tanpa harus menuruti syarat cium yang diajukan oleh Jiyong.

Dengan langkah tergesa, Rose menuruni satu per satu anak tangga rumahnya dan menghampiri Lyn yang sedang menyiapkan sarapan berupa roti isi di meja makan. Tanpa duduk, Rose menyambar satu dan berpamitan pada Lyn untuk langsung berangkat. Lyn mengoceh pada Rose yang tidak bisa bangun tepat waktu selagi Rose memakai sepatu di dekat pintu.

“Sayang, aku mengantar Rose sebentar. Tadi dia merengek minta diantar karena takut dimakan dosennya.”

What?!” Rose tidak dapat menahan diri untuk memekikkan satu kata tanya itu. Bahkan ia keceplosan bicara dalam bahasa Inggris. Kebiasaan karena ia belasan tahun tinggal di Australia dan baru pindah ke Korea Selatan setahun yang lalu.

Merengek minta diantar, katanya? Minta pun tidak, ini Jiyong malah bilang dirinya merengek?

“Ya sudah. Sekalian belikan tissu toilet di minimarket depan, ya? Persediaan kita habis,” kata Lyn memberikan izin. Jiyong mengiyakan lalu membuahkan satu kecupan di bibir Lyn, sebelum menyambar kunci mobil yang ada di meja bar kecil di dapur, yang jaraknya hanya dua meter dari meja makan.

“Ayo cepat! Katanya sudah terlambat.”

Jiyong keluar rumah lebih dulu, diikuti Rose yang mengekor di belakangnya dengan wajah cemberut. Mempertimbangkan keterlambatan yang akan semakin lama jika naik kendaraan umum, maka Rose tidak protes. Keselamatannya di depan dosen menyeramkan yang akan mengadakan kuis pagi ini adalah yang utama.

Masuk ke dalam mobil, Rose memperhatikan penampilan Jiyong yang masih mengenakan celana jeans pendek dan kaus putih polos, seraya memasang sabuk pengamannya. Alas kaki pun hanya memakai sandal rumahan. Meski dengan pakaian sederhana begitu, Rose akui jika Jiyong tetap terlihat tampan.

“Terpesona, Nona?” goda Jiyong dengan kerlingan genit yang justru membuat Rose merasa geli.

“Dalam mimpimu saja, Oppa. Cepat jalan!”

“Siap, Nona.”

Sebenarnya, Rose tidak begitu suka berkendara dengan Jiyong. Alasannya adalah jarum kecepatan yang selalu berada di kisaran angka delapan puluh ke atas. Jalanan memang sedang lengang, tapi tetap saja yang dilewati itu jalanan umum, bukan arena balap.

Sisa waktu Rose sebelum kelas dimulai tinggal sepuluh menit lagi dan dengan kecepatan gila yang ditempuh Jiyong, kini ia sudah sampai di depan gerbang utama kampusnya, dengan jantung yang berdegup dengan kecepatan berkali-kali lipat. Lain kali, seterlambat apapun dirinya, tidak lagi-lagi Rose mau diberi tumpangan oleh Jiyong.

“Belum terlambat, ‘kan?” tanya Jiyong enteng.

“Nyaris,” ketus Rose. “Tapi omong-omong, aku tidak merengek minta diantar jadi aku tidak akan berterima kasih.”

Rose sudah membuka sabuk pengamannya dan ingin membuka pintu untuk keluar, namun sayangnya pintu di samping kanannya itu terkunci. Dengan kendali di balik roda kemudi, Jiyong sengaja menguncinya. Menghalangi Rose untuk pergi.

Oppa!” Kali ini Rose protes. Sepuluh menit yang tersisa itu pas-pasan untuk sampai di kelasnya di lantai tiga. Jiyong malah masih menghalang-halanginya lagi.

Kiss me.” Jiyong mengajukan syarat lagi. Untuk kali ini, Rose tidak yakin bisa menghindar seperti saat di rumah tadi.

“Aku terlambat.” Rose mencoba mengelak.

“Kau masih punya sepuluh menit. Cium aku sekarang atau kau benar-benar terlambat.”

Di hadapan seorang Kwon Jiyong, Rose Park tidak pernah punya yang namanya pilihan. Jiyong selalu bisa mendiktenya, namun hasilnya selalu berakhir dengan Rose yang selalu luluh dan takluk padanya, tanpa bisa protes atau berontak secara berlebihan.

Kiss him or you will late, batin Rose dongkol.

Waktu semakin berkurang, Rose mendekatkan dirinya pada Jiyong dan merangkulkan kedua tangannya ke leher pria dewasa yang usianya sembilan tahun lebih tua darinya tersebut. Tak perlu waktu lama untuk membuat bibir mereka menyatu dalam pagutan dalam dan memabukkan. Juga pagutan yang membuat Rose semakin jauh terperosok masuk dalam pesona seorang Kwon Jiyong.

 

***

 

Lahir dan besar di Australia tak lantas membuat Rose buta tentang kampung halaman kedua orang tuanya, Korea Selatan. Bahasa sehari-hari menggunakan bahasa Inggris, namun orang tuanya selalu mengajarkan bahasa Korea padanya, juga pada Lyn.

Lyn memutuskan pindah ke Korea setelah mendaftar dan diterima di salah satu universitas negeri di sana delapan tahun silam. Rose menyusul dua tahun yang lalu saat dirinya juga diterima di universitas yang sama dengan Lyn, bertepatan dengan hari pernikahan Lyn dengan Kwon Jiyong.

Ya, Jiyong adalah suami dari Lyn.

Pria itu brengsek. Brengsek dalam artian positif dan negatif. Nakal juga. Jiyong tidak main mata dengan perempuan di luar sana, tapi Jiyong bermain mata dengan Rose. Adik kandung istrinya.

Bukan menggoda dengan mengumbar kata-kata manis, justru Jiyong melakukan yang sebaliknya. Dengan mudahnya Jiyong selalu berhasil membuat Rose melambung, lalu menghempasnya sesaat kemudian. Rose awalnya jengkel, kesal, sebal. Namun lama-lama, Rose mengerti kenapa wanita kaku seperti Lyn bisa jatuh dalam perangkap cinta Kwon Jiyong.

Tidak perlu waktu lama untuk Jiyong membuat Rose mencicipi rasa manis sekaligus pahit dari cinta terlarang.

“Rose?”

Sebuah tangan dengan tiga tato bintang di punggungnya melambai di depan wajah Rose. Tangan itu adalah milik pria bermarga Kwon itu yang kini tengah duduk di sampingnya, berdalih ingin mengajarinya materi kuliah yang sedang dipelajari, padahal yang dilakukan sejak tadi hanyalah mencuri kesempatan untuk skinship ini dan itu.

Jiyong memang punya pesona yang tak terbantahkan, tapi Rose tidak menyangka jika Lyn yang kaku bisa berselera pada pria yang genit dan nakal sepertinya.

Oppa, aku harus belajar. Menjauhlah!”

“Tidak mau.”

“Nanti Lyn lihat.” Walau diajarkan bahasa Korea sejak kecil, Rose tetap terbiasa memanggil Lyn tanpa embel-embel eonni.

“Lyn sedang di luar kota sampai lusa.”

Rose membanting pelan penanya. Tangannya mengusuk wajahnya frustasi. Kapan Jiyong akan berhenti mengganggunya? Sampai kapan Jiyong akan membuatnya terjebak dalam situasi yang salah ini? Rose sadar jika perasaannya terhadap Jiyong salah, karena itu ia berusaha menghindar, namun Jiyong selalu punya cara untuk menahannya.

Oppa, please stop!” mohon Rose ketika Jiyong meraih tangannya dan menggenggamnya erat, terlalu erat sampai Rose tidak bisa melepasnya.

You want it, Rose. Kau mau kita seperti ini.” Jiyong mengangkat tangannya yang menggenggam tangan Rose. “Kau juga mau kencan dengan bergandengan tangan seperti ini, ‘kan? Kita memang tidak bisa berkeliaran bebas di luar sana dengan bergandengan tangan seperti ini, tapi selagi kita bisa melakukannya di rumah. Kenapa tidak?”

Sialnya, Jiyong benar dengan semua perkataannya. Rose juga ingin berkencan sembari bergandengan tangan di luar sana, seperti Jennie dan Hanbin—teman kuliah Rose—misal. Rose ingin seperti itu. Rose juga ingin mengatakan pada orang lain jika hatinya kini tengah merasakan cinta.

Tapi jelas itu tidak bisa karena cinta itu adalah untuk Kwon Jiyong. Suami dari kakaknya sendiri. Rose pikir dirinya sudah cukup gila karena bisa menyukai Jiyong, tapi Rose tidak mau dianggap benar-benar gila dengan mempertahankan cintanya pada Jiyong, apalagi sampai merebut Jiyong dari Lyn.

“Tapi kita tidak bisa dan tidak akan pernah bisa, Oppa. Kau sudah punya Lyn dan kita tidak seharusnya seperti ini.”

Jiyong tidak berkata apa-apa, hanya menarik Rose ke dalam pelukannya, mengelus puncak kepala hingga punggung gadis yang tak pernah disangkanya akan memiliki tempat di hatinya. Jiyong tidak berniat mempermainkan dua bersaudara yang sama-sama memiliki hati untuknya. Jiyong hanya tidak mau menipu diri jika ia mulai tertarik pada Rose sejak melihatnya pertama kali dihari pernikahannya dengan Lyn.

“Aku tidak mencintai Lyn.”

Perkataan yang diucapkan dengan tenang oleh Jiyong bagai sambaran petir untuk Rose. Sambaran petir yang mengejutkan, menghanguskan, namun menyelipkan sedikit kebahagiaan di saat yang bersamaan. Tapi apa maksud Jiyong dengan mengatakan tidak mencintai Lyn?

“Jangan tersinggung, tapi Lyn begitu terobsesi padaku. Dia bilang mencintaiku dan akan melakukan apapun untuk membuatku jadi miliknya. Dia menjebakku seolah kami sudah tidur bersama dan mengaku tengah hamil anakku.”

“Jangan mengarang cerita! Lyn tidak mungkin seperti itu.”

“Aku masih menyimpan testpack dan surat keterangan dokter palsu yang dibuatnya untuk menipuku.”

Rose bungkam. Lyn cenderung pendiam, kaku, menuruti apa yang diarahkan orang tua atau siapapun dengan baik. Namun sekali Lyn menginginkan sesuatu, ia harus mendapatkannya bagaimanapun caranya. Keinginannya untuk kuliah di Korea pun awalnya ditolak oleh orang tuanya, namun Lyn mengamuk dan menghancurkan barang-barang di kamarnya.

“Kurasa kau lebih mengenal Lyn daripada aku, Rose. Kau pasti tahu kenapa aku masih bertahan dengannya meski tidak ada cinta untuknya.”

Rose tahu. Sangat tahu. Untuk menjerat Jiyong saja sampai mengaku hamil, bagaimana nanti jika Jiyong menyerah padanya dan pergi? Rose tidak bisa membayangkan apa yang mungkin Lyn lakukan.

“Kenapa harus menggangguku? Kenapa harus terus menarikku di antara kalian?”

“Aku butuh tempat bersandar, Rose.”

 

***

 

“Jennie is crazy. I’ll slap her face if I meet her.

Jisoo terus mengumpat selama membereskan kamar apartemennya yang semula ditempati bersama Jennie. Semalam Jennie membereskan barang-barangnya karena memutuskan pindah ke apartemen Hanbin. Entah apa yang dipikirkannya, sampai ia mau tinggal satu atap dengan kekasih yang beluk resmi menjadi suaminya.

Sayangnya, Jennie membereskan barang-barangnya dengan meninggalkan cukup banyak ‘sampah’ dan itu membuat Jisoo kesal setengah mati. Jisoo tidak suka kamarnya berantakan dan Jennie paling malas membereskan kamar, meski hanya barang pribadinya sendiri. Mereka sangat bertolak belakang, makanya Rose heran bagaimana mereka bisa bertahan selama dua tahun tinggal di apartemen yang sama.

“Andai Jennie sepertimu, Rose. Aku akan menahannya mati-matian saat ia bilang akan pindah ke apartemen Hanbin.”

Rose tersenyum saja. Dirinya memang tidak terlalu terobsesi pada kerapian, tapi ia tidak suka juga jika ia tinggal di tempat yang berantakan. Jisoo sering membandingkan Jennie dengan Rose, makanya Jennie sering kesal dan dengan sengaja membuat kamar berantakan sebagai aksi balas dendam pada Jisoo.

Ya. Andai Jennie seperti Rose. Atau Rose saja yang tinggal bersama Jisoo.

“Rose, bagaimana jika kau tinggal di sini?” tawar Jisoo. Ide itu melintas begitu saja di pikirannya.

Rose yang sejak tadi duduk tenang di tempat tidur yang mulanya milik Jennie pun membelalakkan matanya. “Aku?” katanya.

“Ya. Aku senang Jennie pindah, tapi itu berarti aku harus tinggal sendirian dan aku tidak suka. Alasanku bertahan tinggal dengan Jennie yang pemalas adalah aku yang tidak mau tinggal sendirian. Jadi kenapa tidak kau saja yang mengisi kekosongan Jennie? Selama ini kau selalu mengeluh jarak rumah Kakakmu dan kampus yang cukup jauh, ‘kan? Apartemen ini hanya berjarak satu blok dari kampus.”

Rose memikirkan tawaran Jisoo benar-benar. Apa yang dikatakan gadis yang pernah tinggal di Amerika Serikat itu ada benarnya. Jarak rumah kakaknya dengan kampus cukup jauh. Jika tidak mau terlambat, Rose harus sudah berangkat dari rumah sekitar satu jam sebelum kelasnya dimulai. Kurang dari itu, Rose harus naik taksi dan memohon pada supirnya untuk mengebut.

Selain karena jarak, Rose pikir jika dirinya pindah ke apartemen Jisoo, ia akan lebih mudah menjaga jarak dari Kwon Jiyong dan bisa melupakannya secara perlahan. Ya, itu bisa dijadikan alternatif solusi karena bagaimanapun juga, ia harus pergi dari kehidupan percintaan Jiyong dan Lyn.

Menindaklanjuti persetujuan atas penawaran Jisoo, Rose mulai dengan meminta izin pada kedua orang tuanya yang sampai saat ini masih tinggal di Australia. Mereka keberatan ada awalnya, tidak mau Rose lepas dari pengawasan jika tidak lagi tinggal bersama Lyn. Namun Rose mengungkapkan alasannya dengan ekstra memohon, juga berjanji akan memberikan kontak Jisoo jika mereka ingin meminta gadis cantik penggila kerapian itu untuk mengawasinya.

Pada akhirnya, mereka setuju walau harus memikirkannya selama dua hari. Setelah itu, hanya perlu waktu sehari untuk mengurus pembayaran deposit dan uang sewa bulan pertama. Yang perlu Rose lakukan sekarang adalah mengatakan semuanya pada Lyn dan Jiyong.

“Aku akan pindah mulai besok.”

Lyn menghentikan kunyahannya, Jiyong tersedak air putih yang diteguknya. Mereka sedang makan malam saat Rose mengutarakan rencana kepindahannya. Rencana yang sudah hampir pasti terlaksana.

“Apa maksudmu pindah?” tanya Lyn tidak langsung mengerti.

“Pindah, ya pindah. Mulai besok aku akan pindah ke apartemen Jisoo karena lokasinya lebih dekat dengan kampus. Aku lelah menempuh jarak yang lumayan jauh atau harus spot jantung setiap kali diantar Jiyong Oppa jika nyaris terlambat.”

“Tapi Rose, bagaimana jika Ayah—”

“Aku sudah minta izin pada Ayah dan Ibu. Mereka bahkan sudah mengirim uang untuk deposit dan uang sewanya.”

“Kau sudah merencanakan kepindahanmu sejak lama, ya? Kenapa tidak memberi tahuku?”

“Kau sangat sibuk dan jarang di rumah belakangan ini, Lyn. Sekarang ini juga makan malam pertama sejak seminggu yang lalu. Bagaimana aku mau memberi tahu? Kau juga akan membuang ponselmu jauh-jauh kalau sudah berkutat dengan pekerjaanmu.”

Lyn mendesah pasrah. Ia tidak rela jika harus membiarkan Rose tinggal terpisah tanpa pengawasannya secara langsung. Tapi Lyn juga berpikir jika selama Rose tinggal bersamanya, dirinya juga jarang di rumah dan mengawasinya. Paling-paling mengandalkan Jiyong yang selama ini ia anggap sudah mengawasi Rose dengan baik sehingga adiknya itu tidak terjerumus dengan pergaulan bebas.

Lyn sama sekali tidak tahu jika Jiyong justru membuat Rose terjerumus pada cinta terlarang bersamanya.

“Kapan pindahnya? Benar-benar besok?”

“Ya. Besok aku tidak ada kelas. Sebagian barang-barangku juga sudah kukemas.”

“Ya sudah. Tapi besok aku tidak bisa membantu kepindahanmu karena harus ke Incheon pagi-pagi. Biar Jiyong Oppa yang antar.”

 

***

 

Rose sudah selesai mengemasi barang-barangnya sejak semalam. Menyisakan satu pakaian yang akan dikenakannya hari ini, sisanya masuk ke dalam koper. Sekitar jam sembilan pagi Rose baru pindah karena Lyn sudah memintanya tidak boleh menolak untuk diantar Jiyong sebelum ia berangkat ke Incheon jam setengah tujuh tadi.

Rose tahu jika Jiyong berbohong dengan mengatakan pada Lyn bahwa ia baru sempat mengantar jam sembilan nanti, karena ada sesuatu yang harus dikerjakan. Semalam Jiyong bungkam saat Rose mengutarakan keinginannya untuk pindah, maka Rose yakin jika Jiyong akan membicarakannya sekarang, setelah Lyn tidak ada di rumah.

“Sengaja menghindariku?”

Jiyong duduk di pinggiran bar kecil yang ada di dapur saat Rose sedang mengambil minum di lemari pendingin. Kakinya sengaja ia tumpukan pada dinding, menutup satu-satunya akses keluar dari dapur.

“Ya,” jawab Rose singkat dan jujur.

“Aku sudah bilang jika aku tidak mencintai Lyn.”

“Itu bukan urusanku,” tegas Rose. Gadis dua puluh tahun itu memberanikan diri menatap tepat pada mata Jiyong. Selama ini Rose selalu menghindari aksi yang satu itu. Takut ia semakin jatuh dalam pesona Jiyong dan perasaannya semakin tak terselamatkan.

“Itu urusanmu dengan Lyn. Aku tidak mau bermasalah dengan Kakakku sendiri bahkan dimusuhi karena dianggap merebut suaminya. Meski dijanjikan perceraian kalian pun aku sadar jika sampai kapanpun kita takkan bisa bersama.”

“Rose.”

“Aku lelah, Oppa. Aku ingin menjalani hidupku dengan normal. Menjalani kisah cinta yang normal. Berkencan di luar sana tanpa perlu dibayang-bayangi rasa takut ataupun rasa bersalah yang begitu besar. Aku ingin hubungan cinta seperti itu dan tidak akan mungkin bisa kudapatkan dari Oppa.”

Jiyong mengunci mulutnya. Dalam benaknya mencerna kata demi kata yang Rose ucapkan. Untuk pertama kalinya ia mengerti letak kesalahan atas perasaannya juga Rose. Perasaan yang hadir di waktu dan disituasi yang salah.

Untuk pertama kalinya Jiyong bisa memahami apa yang selama ini Rose rasakan. Rasa takut dan rasa bersalah yang bisa memenangkan tempat lebih tinggi dari rasa ingin memiliki.

“Kau mencintaiku?” Jiyong bertanya dan Rose bingung harus menjawab bagaimana, meski sudah jelas bagaimana perasaannya terhadap suami kakaknya tersebut.

“Jawab sejujurnya,” kata Jiyong meyakinkan.

“Ya.” Rose tidak mau membohongi perasaannya sendiri.

“Kau tidak nyaman dengan perasaan itu?”

“Ya.”

“Kau ingin mengubur perasaan itu?”

“Sejak lama, tapi Oppa selalu menggagalkannya.”

Jiyong tidak bertanya lagi, seperti tersadar jika selama ini ia membuat Rose tersiksa oleh perasaannya sendiri. Ego Jiyong terlalu besar sehingga selama ini yang dipikirkan hanya bagaimana ia selalu mendapatkan tempat yang nyaman untuk bersandar setelah menjalani segala kepalsuan bersama Lyn.

“Barang-barangmu sudah kaukemasi semua?” Jiyong mengubah pembicaraan.

“Ya.”

“Bersiaplah. Kuantar kau sekarang.”

Jiyong mendahului Rose ke kamarnya, mengambil dua kardus dan mengangkutnya ke bagasi mobil. Rose sudah menyusul setengah jalan dan kerepotan membawa koper besarnya, namun kemudian Jiyong mengambil alih dan menggabungkannya bersama dua kardus yang tadi.

Sepanjang perjalanan Jiyong menutup mulut rapat-rapat. Hanya menanyakan alamat apartemen baru Rose sebelum berangkat tadi dan mengetikkannya di GPS yang terpasang di mobil.

Rose merasa canggung karena ia belum pernah menghadapi sisi diam dan dingin dari Kwon Jiyong. Tapi mungkin itu lebih baik, karena dengan begitu Rose akan mulai membiasakan diri untuk tidak melihat sisi Jiyong yang membuatnya jatuh cinta.

Kurang lebih dalam tiga puluh menit mobil Jiyong berhenti di depan gedung apartemen lima lantai, di mana salah satu kamar di lantai empat akan menjadi tempat tinggal barunya bersama Jisoo.

Rose membawa kopernya, sedangkan Jiyong membantu mengangkut dua kardus yang berisi buku-buku kuliah dan beberapa barang pribadi lainnya.

Kamar kosong saat mereka datang. Semalam Jisoo bilang jika hari ini ia akan menghadiri resepsi pernikahan saudaranya di Gwangju dan mewanti-wanti supaya kamar sudah rapi saat ia pulang malam nanti.

Jiyong mengedarkan pandangan ke setiap sudut ruangan, juga memeriksa kamar mandi di samping dapur. Rapi, bersih. Nanti Jiyong bisa melapor pada Lyn, jika adiknya tidak akan tinggal dengan teman yang urakan atau pemalas.

“Lyn akan tenang kau tinggal di tempat yang rapi,” ucap Jiyong. “Di antara dua itu, mana yang akan tinggal bersamamu di sini?” Jiyong menunjuk bingkai foto Jisoo dan Jennie yang terpajang rapi di atas meja belajar Jisoo.

“Yang rambut hitam,” jawab Rose. “Oppa bisa pulang sekarang. Aku akan membereskan ini sendiri.”

“Kau mengusirku?”

Oppa ….” Jelas bukan itu maksudnya. Eh, iya.

“Sini.” Jiyong mengulurkan satu tangannya, isyarat meminta Rose untuk mendekat padanya yang berdiri di dekat meja belajar Jisoo. Namum Rose bergeming di samping tempat tidurnya dekat jendela.

“Kemarilah. Sebentar saja.”

Terselip secuil permohonan dalam permintaan Jiyong dan itu cukup untuk membuat Rose luluh dan mau menggerakkan kaki mendekatinya. Tanpa mau membuang kesempatan, Jiyong merengkuhnya ke dalam pelukan erat yang dirasa tidak akan mungkin dilakukannya lagi setelah ini.

“Aku mencintaimu, Rose. Tapi maaf jika kau tersiksa dengan itu,” ucap Jiyong lembut. “Aku tidak tahu dengan diriku sendiri, tapi aku menyerah untukmu. Untuk kebahagiaanmu. Jadi pastikan kau akan bertemu pria yang baik, yang bisa kau ajak kencan dan bergandengan tangan sepanjang jalan tanpa rasa takut atau rasa bersalah.”

Andai Rose bisa seperti itu dengan Jiyong. Awal-awal perasaan cintanya pada Jiyong muncul, Rose sering bertanya pada dirinya sendiri, kenapa ia tidak bisa seperti pasangan lain, kenapa ia tidak bisa saling bergandengan tangan dengan orang yang dicintainya?

Rose ingin seperti itu dengan Jiyong, tapi tidak bisa.

 

Fin!

Iklan
[BPF EVENT] Could Be Like That

8 pemikiran pada “[BPF EVENT] Could Be Like That

  1. Sejujurnya aku agak ‘anti’ sama fiksi maupun kisah nyata tentang perselingkuhan :”) ku gampang baper ama yg gitu2 :”) (you know lah) tapiiii … aku gabisa berhenti baca ff ini ampe akhir wkwk. Aku suka bgt ff ini karna: 1) Rose sebagai pemeran utama (fyi, Rose ngegeser posisi Lisa as my 1st bias :”) 2) Eyd, diksi, dialog tag dll di ff ini menurutku udh sangat baik dan ngebuat ff ini jadi enak bgt dibaca 3) Jalan ceritanya sesuai ama prompt dari lagu Secret Love Song yg dipilih.

    Top bgt deh ff event inii. So sorry baru baca&comment karna baru sempet. Semoga menang yaaa Fan^^

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s