[BPF EVENT] Alone Without You

75.PNG

Alone Without You

.

A absurd story by PutrisafirA255

.

Cast by Jisoo’s Black Pink and Sehun’s EXO

.

AU, Drama, Romance, Sad, etc.

.

Ficlet

.

Rated by Teen

.

Without you, i’m alone

Sofa, Crush

Langit semakin menggelap. Menenggelamkan semburat jingga yang sebelumnya menghiasi angkasa, teralih menjadi hitam kelam tanpa satu sinar pun yang menemani. Agaknya ikut berduka atas kesedihan penduduk bumi yang kalut. Entah mengenai kehidupan pribadi maupun kehidupan sosial.

Rambut gadis itu teruai panjang. Matanya bulat, hidungnya mancung, dan bibirnya tipis. Menggambarkan bagaimana uniknya wajah gadis itu begitu sulit. Seolah ciptaan Tuhan itu sudah melewati batas sederhana. Hingga para pria pun andil melirik,  kendati tak berani mendekat.

Pasalnya, pria jangkung berbadan tegap dengan rahang tegas itu ada meskipun keberadaannya tak diketahui. Masih duduk dalam satu bangku, tapi enggan meregas jarak. Membiarkan spasi tak konkret yang tecipta sedari dulu itu menjadi penengah yang baik.

Keduanya terdiam. Enggan membuka percakapan, atau lebihnya pria itu—Sehun—tidak berani menggemakan suara. Takut-takut jika ia melakukan meski hal sederhana sekalipun, si gadis akan meninggalkannya. Masa lalu lebih menakutkan dari apapun.

Si Gadis—Jisoo—tak bisa disalahkan juga dalam kasus ini. Masalahnya, tatapan yang menghujam lurus itu hanyalah sebuah simbolis semata. Bukan untuk memandang pemandangan yang disuguhkan oleh cahaya warna-warni taman. Melainkan untuk mencari gradasi warna dalam kegelapan.

Sudah lama sejak kecelakaan yang menimpanya, Jisoo tak lagi bisa menatap apa yang orang tatap. Bahkan ia tak bisa lagi melanjutkan studi karenanya. Terlebih menatap manik coklat pekat yang ia rindukan. Dan yang hanya bisa Jisoo lakukan hanyalah membiarkan angin malam menusuk kulitnya yang terlapis mantel, lantas membiarkan fantasinya bergelut dalam keheningan.

Setiap hari, inilah yang Jisoo lakukan. Mencari sesuatu yang selalu ia rindukan, hingga tak bisa menutup matanya ketika bayangan itu tak ada. Sesosok jangkung berdagu runcing dengan marga Oh di depan nama panggilannya sudah sangat ia rindukan. Sejak kejadian dua tahun itu, Jisoo tak lagi bisa bersentuhan, maupun bercakap basi. Namun yang pasti, Jisoo bisa merasakan kehadiran pria itu.

“Besok, aku akan datang kembali,” ujar Jisoo mengalihkan pandangannya ke samping. Mencoba mengatakannya, meskipun dirinya sendiri tak terlalu yakin. “Aku tahu, kau ada di sini.” Tambahnya lagi ketika tak ada suara sahutan maupun suara bass kendati se-oktaf pun. Sejurus kemudian, pelupuk matanya tergenang. Kelopak matanya terpejam perlahan, hingga liquid sudah berani membasahi pipi pualam sang empu.

“Ku mohon, katakan sesuatu, Hun.” Pinta Jisoo dengan lemah, juga diselingi sesenggukan yang tak lagi bisa dicegah. Sedangkan pria yang diajak bicara, menahan lebih banyak kesakitan. Dua tahun yang lalu adalah masa-masa sulitnya dalam menjalani hidup. Menyalahkan diri sendiri atas apa yang terjadi, meskipun tak seluruh kejadian adalah kesalahannya.

Tangan pria itu tergerak. Terangkat ke atas, terarah menuju Jisoo yang kini memejamkan matanya lebih dalam. Menahan gejolak di hatinya yang menginginkan lebih dari sebuah tangisan, menjadi sebuah pekikkan yang bisa menyadarkan pria itu. Harus berapa lama lagi Jisoo menunggu?

Sedetik kemudian, tak bisa diprediksi, Sehun justru menarik kembali tangannya. Menghempaskannya membelah dinginnya hawa yang menusuk kulit, lantas bangkit. Sehun tak bisa menahan gejolak amarah yang ia limpahkan kepada dirinya sendiri—dengan menjauhi gadis itu. Di satu sisi, Sehun ingin menjauhi gadis itu agar tak lagi menyakitinya—seperti yang dikatakan ibu Jisoo terakhir kali. Namun, sisi yang lainnya mengatakan agar lekas meregas jarak guna mengurangi rasa sakitnya selama dua tahun. Dua puluh empat bulan, tujuh ratus tiga puluh hari, bukan waktu yang sedikit untuk dijadikan pengabdian.

Perlahan, pria berambut coklat pekat itu merajut langkah panjang, namun gerakannya perlahan. Seolah setiap langkah, ada filosofi yang mendasarinya. Mengingat semua kenangan, entah itu buruk maupun baik. Sehun akan selalu mengenangnya. Karena ia sadar, semua yang dilewatinya begitu berat.

Pada langkah ketiga, Sehun berhenti. Menatap gadis yang kini mendongak. Sejurus kemudian, tatapan sendunya semakin menjadi. Bulir matanya menetes tanpa henti. Membekukan kaki Sehun hingga terasa nyeri. Enggan lagi menatap air muka kesedihan Jisoo, pria bermarga Oh itu mendekat, lantas meregas jarak antar muka. Menghentikan kinerja jantung sesaat, demi menuntaskan rasa rindu yang memang sudah lama berkutat.

Haruskah Sehun mengjauhkan bibirnya dari peraduan manis milik gadis itu? Ataukah Sehun harus melawan ego pada salah satu sisinya, agar tak ada lagi kedua belah pihak yang tersakiti? Pikirannya bergelut, kendati enggan memberikan peluang pada kesunyian untuk mendekat lagi. Keduanya bahagia, meskipun tak bisa lagi bersatu. Walaupun perasaan yang sudah tertancap itu tak bisa lagi ditarik.

Life is easy, but love is difficult

.

Love like examination, you’ll win when you know what the meaning of that word

.

Distance just make you hurt, when you can’t say if you missing him

.

FIN

Iklan
[BPF EVENT] Alone Without You

3 pemikiran pada “[BPF EVENT] Alone Without You

  1. WHOOOAAAAA
    Aku speechless sih pas bacanya. Pemilihan katanya bikin iriiii ;-; bagus bangettt
    Cuma aku di sini kurang dapet ceritanya. Di sini Jisoo buta kan? Terus… Sehun kenapa? Dia yang jadi penyebabnya gitu ya? .-.
    Dannnn pake lagu Crush astagaaaa 💕
    Pokoknya keep writing ya! Xoxo

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s