[BPF Event] Gadis Kusut di Depan Sana

cv1ns9dvmaasvxy

A fiction by gy

Jennie Kim

College-Life, Slice of Life | Vignette | T

.

“It’s okay if you’re out of breath.”—Lee Hi – Breath

***

 

Gadis Kusut di Depan Sana

(Jennie POV)

Di luar, langit menangis sejadi-jadinya.

Di atas meja, aku meletakkan dua buku tebal yang sedari tadi ku tenteng sebelum menyerahkan punggungku pada sofa coklat kecil di sudut ruangan. Di sisiku, sebuah jendela kaca terbentang. Nice spot. Aku tidak peduli kalau aku terlihat egois karena telah memilih area ini—meja nomor delapan, yang dikelilingi empat buah sofa kecil.

Hey, aku tidak datang sendirian, ok? Aku datang kemari bersama masalah-masalahku—yang kalau setiap masalah dapat berubah menjadi manusia, tentunya tidak akan bisa duduk nyaman di tiga sofa lainnya. Tidak akan muat.

Melepas pandang dari jendela, aku menatap lurus—dan saat itulah, aku melihatnya. Lumayan jauh di depan sana, seorang gadis berusia sekitar 19-20 tahun balas menatapku. Dia duduk sendiri.

Penampilan gadis itu terkesan cuek. Kemeja flannel hijau-nya tidak ia kancingkan, sehingga kaos putih bermotif rumus matematika yang juga dikenakannya terekspos. Rambut cokelatnya diikat sembarang ke atas membentuk cepol (yang, well, cukup berantakan). Ransel hitam yang masih menggantung di salah satu pundaknya terlihat lusuh, pun celana jeans abu dan converse putihnya. Ah, coverse ‘krem’ lebih tepatnya. Aku cukup yakin sepatu malang itu sudah berubah warna. Entah karena jarang dicuci atau karena memang sudah aus. Bisa jadi keduanya.

Saking seriusnya mengamati gadis itu, aku hampir lupa dengan tujuanku datang ke tempat ini. Sekali lagi aku meliriknya sebelum pergi memesan sesuatu. Gadis itu masih menatapku, rupanya. Dari sorot mata dan wajah kusutnya, dia terlihat seperti seseorang yang baru saja dipermainkan…

…oleh dunia.

Sebuah notes kecil ku keluarkan dari dalam tas begitu aku kembali ke mejaku lima menit kemudian. Aku menuliskan pengeluaranku barusan, lalu menghela napas.

Sial. Jumlah uang yang baru saja ku keluarkan untuk secangkir kopi (yang bahkan aku lupa apa nama kopinya) nyaris setara dengan uang makanku untuk dua hari.

Sekarang aku malah bermonolog seperti orang tolol. Aku bertanya-bertanya. Kalau ujung-ujungnya menyesal karena sudah merelakan sekian won melayang secepat kilat dari dompet, untuk apa aku ke café ini? Aku menatap rintik-rintik hujan sangsi.

Sekali lagi, aku mengembuskan napas panjang.

Tiba-tiba aku seperti kehilangan minat pada kopi. Ia tidak lagi semenggiurkan yang kubayangkan sebelumnya. Aku tidak mau apa-apa dan tidak mau ngapa-ngapain selain duduk di kursi empuk ini sambil menggunjing hujan. Menenangkan diri. Sendiri.

Aku lelah. Badanku, pikiranku, hatiku… semuanya.

Pandanganku lantas beralih pada gadis kusut di depan sana. Tidak sampai lima detik, aku membuang pandang ke jendela lagi. Cih, apa-apaan itu? Apa dia mau mengolok-olokku? Asal kau tahu saja ya, Nona, aku tidak suka melihat wajahmu yang semakin kusut. Tidak sekedar kusut, namun ekspresi putus asa-mu itulah yang membuatku muak.

Suara seorang pelayan menyabotase perhatianku. Dengan ramah ia meletakkan cangkir hitam berkepul uap itu di hadapanku. Masa bodoh, aku sama sekali tidak membalas senyumnya. Sejak melihat ekspresi si gadis kusut, mood-ku yang sedari pagi kurang baik, jadi semakin merosot. Padahal aku datang ke sini dengan tujuan menaikkan kembali mood, tapi sialnya, tujuanku itu dengan ‘manis’nya dijatuhkan oleh dia.

Kenapa, sih, dia?

Dia kelihatan sedang bermasalah. Kalau iya… sebegitu beratkah masalah yang sedang dihadapinya? Masalah seperti apa? Karena tidak punya uang? Atau… karena tidak sanggup menghadapi kehidupan barunya? Atau… karena merasa tidak berguna? Seberapa kejam kehidupan yang sedang dilewati gadis muda seperti dia? Ah, jangan-jangan dia lelah dengan urusan akademiknya? Dia lelah karena tugas-tugas kuliah dan kegiatan di kampusnya? Atau—

—ah, sial. Sekarang aku malah memikirkan tugas-tugasku.

Untuk besok saja ada tiga tugas. Membuat analisa dari sebuah artikel untuk mata kuliah bahasa Inggris, dan dua presentasi untuk mata kuliah Pengantar Ilmu Sejarah. Buruknya, aku belum mengerjakan ketiganya.

Aku menatap kopiku lesu.

Setelah hari ini aku tidak tahu apa aku masih sanggup melanjutkan aktifitas baruku sebagai seorang mahasiswi. Oh, ya, benar. Aku seorang mahasiswi sekarang. Aku nyaris lupa kalau baru dua bulan lalu aku menyandang gelar itu.

Selain tugas, banyak tekanan batin yang ku rasakan. Pertama, aku tidak begitu menyukai program studi yang aku ambil : Ilmu Sejarah. Sangat bertentangan dengan hobi dan cita-citaku yang sebernarnya. Aku memilihnya karena kudengar jurusan Ilmu Sejarah kekurangan peminat, mungkin saja aku bisa masuk dengan kemampuanku yang pas-pasan ini.

Aku tahu, otakku tidak begitu encer. Sejak SMA nilaiku biasa-biasa saja. Bisa dikatakan, aku dan dunia akademik bukan pasangan serasi. Tapi itu bukan berarti kalau aku sepenuhnya ‘sampah’.

Sejak SMP, aku ingin menjadi seorang seniman. Seniman tari lebih tepatnya. Dari lubuk hati yang terdalam, aku ingin mengambil prodi seni tari di salah satu Institut Seni terkemuka di Ibukota, tapi kedua orang tuaku tidak mampu membayar biaya pendidikan di sana yang memang lumayan tinggi. Aku tidak sempat mengajukan beasiswa ke Institut Seni itu karena aku kekurangan informasi. Bla, bla, bla… sampai akhirya takdir memilihkanku sebuah universitas yang… yah, masih berlokasi di Ibukota, sih, tapi tidak cukup populer.

Aku menghela napas sebelum menyeruput kopiku, dan kembali menerawang ke luar sana. Berusaha mencari kedamaian disela-sela rintik hujan.

Menit demi menit ku lalui dalam diam dan pikiran yang semrawut, sampai akhirnya sebuah denting penanda pesan masuk membuatku refleks merogoh saku celana.

[Mama :
Jennie, sedang apa? sudah makan?
Maaf mama belum bisa menjengukmu.
Doakan mama papa dapat rejeki supaya bisa jenguk kamu]

Aku meletakan cangkir kopi dan ponselku berdampingan di meja. Pikiranku melayang.

Ya Tuhan… kapan terakhir kali aku kontak dengan orang tuaku?

[Jenie Kim :
Aku sedang dalam perjalanan pulang ke kost
Kelasku baru saja berakhir]

Bohong.

[Mama :
Oh ya sudah.
Yang sehat, ya, di sana.
Belajar yang tenang.
Mama sayang kamu, putriku.

Belajar yang tenang. Ya ampun…

Aku tahu, selama ini mama dan papa menaruh harapan besar terhadapku. Mereka sudah mati-matian mencari uang untuk menebus biaya pendidikan dan biaya hidupku disini. Aku masih ingat wajah cerah mama dan papa ketika mendengar kabar jika akhirnya aku lolos ke salah satu perguruan tinggi, walaupun perguruan tinggi yang menerimaku bukan perguruan tinggi yang terbaik.

Sementara aku di sini…? Hah. Belajar saja jarang. Aku terlalu sibuk dengan pikiran-pikiran dan egoku sendiri. Aku cenderung menghindari tugas-tugas yang diberikan dosen, dan baru akan mengerjakannya dibawah tekanan deadline. Aku belum bisa menikmati kehidupanku sebagai mahasiswa sepenuh hati.

Ya Tuhan.. apa yang sudah aku lakukan? Kenapa kesannya aku tidak serius dan menyerah seperti ini?

Aku mengangkat kepalaku dan melihat gadis itu memasang wajah bersalah dan bingung.

Hey… kau kenapa? Kelihatannya kau merasa dirimu tidak berguna. Kau menyindirku lagi, ya?

Layar ponsel masih menayangkan pesan mama yang terakhir. Aku menatapnya dan membaca setiap kata-katanya dengan serius lalu aku membalas pesannya.

[Jennie Kim :
Iya ma, do’akan saja.
Sebaiknya mama papa cari uang buat mama papa saja di sana.
Menjengukku kapan-kapan saja, haha.
Aku baik-baik saja, kok. jangan khawatir 🙂 ]

Meski sebenarnya tidak, aku tetap harus meyakinkan mereka kalau aku baik-baik saja.

Ah, tidak.

Aku akan membuat diriku baik-baik saja. Yang hanya ku perlukan hanyalah berusaha. Berusaha sebisaku meski aku tidak tahu seberapa hasil yang akan kucapai. Aku tidak boleh seperti ini terus, seolah benar-benar memberikan harapan pada mama dan papa. Aku harus mempertanggungjawabkan kepercayaan yang telah mereka gantungkan padaku.

Aku menandaskan kopiku cepat, bangkit, meraih tas dan berjalan menuju gadis itu… yang juga sedang berjalan ke arahku.

Aku tiba di hadapannya. Tanganku terangkat untuk melepaskan ikat rambut dan merapikan rambutku. Identik, dia mengikutiku. Setelah selesai, kami bertukar senyum. Ku pandangi wajahnya lekat. Ada sedikit rasa yakin dan semangat di sorot mata bulat khas-nya.

It feels hard, isn’t it? But don’t worry…” Bisikku padanya. “…cause I know that you can do it. You’ll be okay. Yeah… we will.

Tanpa berlama-lama, aku dan bayanganku di cermin pun meninggalkan café itu.[]

 

Iklan
[BPF Event] Gadis Kusut di Depan Sana

9 pemikiran pada “[BPF Event] Gadis Kusut di Depan Sana

  1. OH TIDAK KENAPA KAK GY IKUT EVENT INI?!?!?!?!!?!?!??!?!?!?!?!?!
    Huhuhu ini bagus bgt i kno dat feel ketika stress mikirin tugas numpuk dan baru dirapel semua pas sehari sebelum deadline:”) dan rasanya punya kepercayaan dari orang tua yg besar bgt tapi nyatanya anaknya malah fangirlingan terhadap makhluk korea yang fana:(((
    Another great fic, Kak Gy! Jangan menang ya xoxo

    Disukai oleh 1 orang

    1. gy berkata:

      karena aku masuk ke jajaran staff sini jadinya ikutan haha. dan maaf baru bales karena baru buka wp huhu jaringan jelek banget kemaren-kemaren 😦
      hihi makasih ya zahra udah ninggalin jejak di lapak aku xD

      Suka

  2. Wa, ngena banget sama diriku. Terutama bagian orang tua yang sering bilang rajin belajar, tapi aku malah udah gak minat lagi sama kuliah karna salah jurusan 😞 Diksinya keren. Tapi waktu baca ff-nya masih berasa suasana Indo. Hehe. Yah, gak masalah sih. kan emang authornya orang Indo ^ ^ Cuma gak bisa bayangin Jennie nya aja. Tapi tetep, keren ff nya kak!! Semoga menang yaa!!!

    Disukai oleh 1 orang

    1. gy berkata:

      kamu merasa salah jurusan? ok sama -..- mangkannya cerita ini tercipta dengan bumbu-bumbu curcol wkwk (20% nya curcol).
      huhuhu aku juga mau pengakuan dosa. sebenernya ini emang aku edit dari cerpen aku yg belum pernah ku publish. soalnya waktu itu panik udah mau tanggal deadline event tapi aku belum nulis apa-apa. jadiya mungkin karena ini suasana indo nya masih kerasa :”D
      anyway terimakasih ya udah baca SMH…
      salam kenal dari gy ^^

      Suka

  3. KAK GY KAK GY HOLLA HAYYY
    Aduh, aku baru komen sih baru ada mood.. padahal udh tau ini dr seminggu yg lalu tp belum ada suasana baik buat baca heung maapkeun/.\

    DAN SETELAH BACA AKU MALAH GAMAU BERHENTI
    Ini asik bgt sih yaampun betah bgt aku bacanya flownya lambat tp asik/ngomong apa rik/ kak gy aku mau lagi yg begini nagih bgt soalnya/? XD

    KAK GY SEMANGAT YAA
    cuman bisa nyemangatin dr jauh sih ya, kak. semoga studinya lancar terus dan penyesalan soal salah jurusan itu gak berlarut spya gak jadi ancaman buat masa depat dengan titel yg akan dicapai/ngomong apa rik pt.2/

    UDAH YA KAK GY
    rika cabut ya yaampun sore sendu mendung kek gini trus baca ini malah bikin hati gak karu karuan wkwk

    OIYA
    rika jga ikut event ini boleh kakak scroll dikit aja postinganku persis di bawah postingan ini hehe kalo berkenan silahkan mampir mwah makasih dan smgt terooz ❤

    Suka

    1. gy berkata:

      RIKAAAAAAA HUHUHU *peluk*
      iya Rik tak apa telat juga… karena tbh aku juga belum baca karya temen-temn yang lain di challenge ini :’)
      oke nanti punyamu kutengok yah! semoga wifi-nya gak bitchy, ujan gede banget di tempatku jadinya wifi ngadat -..-
      terimakasih dan syukur alhamdulilllah kalo kamu suka ;;;;
      kamu ngomong apapun itu maksudnya aku ngerti kok haha tenangs~ terimakasih atas semangatnyah ;~;
      semangat juga kamuuuuu ❤

      Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s