[BPF Freelance] #RandomTalk

random-taklk-carolinea-pda-castorpollux.jpg

#RandomTalk
by CarolineaKim
Poster by
Castorpollux @PDA

Lalisa feat Ten
a random story; slight Jisoo and Jaehyun

“Hear me,
I want tell you about my heart…”

“Just kidding,
I like your face now, hehe…”

Happy reading and be a good reader.

-oOo-

The story begins…

-oOo-

“Lal?”

“Hah? Apa sih… Kalau menyingkat nama itu yang benar!”

Ten menahan tawanya dan menopang dagunya dengan telapak tangan. “Lalu, aku harus menyingkat bagaimana? Lis? Lisa? Oiy—sakit!” Lisa tersenyum puas saat Ten meringis menahan sakit karena dicubit olehnya. “Huh, dasar menyebalkan. Sehari saja tidak buat orang marah. Bisa?”

“Entahlah. Kurasa enggak, aku enggak bisa.” Ten mengangkat bahunya acuh. Lisa memanyunkan bibirnya kesal, dia membuka bungkus permen lolipop dan memakannya perlahan. “Aku hanya bercanda, Lal. Hehe, aku suka wajahmu sekarang.” Lisa mendengus kesal, rasanya ingin sekali menabok wajah Ten. Entah apa yang sedang ia bicarakan sekarang, garing sekali. “Tuan Dao Leechaiyapornkul, kamu menyebalkan sekali.”

“Terimakasih pujiannya, Nona Manoban. Aku tersanjung sekali.” Balas Ten sambil senyam-senyum kearah Lisa yang sekarang mengerutkan dahinya dan terus memakan lolipop. “Itu bukan pujian, patrick.” Sungut Lisa sambil mendorong dahi Ten cukup keras.

Karena hal itu, Ten hampir terjengkang ke belakang. Sepertinya, Lisa cocok menjadi seorang… bodyguard? Bodyguard yang cantik dan… seksi? Memikirkan hal itu, Ten jadi tertawa sendiri. Lisa memandangnya penuh tanya. “Ten gila.” Gumamnya tanpa ragu-ragu. Ya, tentu saja. Lisa mana mungkin sudi memikirkan tanggapan laki-laki absurd didepannya.

“Lal, dengar ini. Aku ingin memberitahukanmu tentang hatiku.”

Diam-diam, Lisa sedikit terkejut dan tanpa sengaja menggigit lolipop yang sedang dimakannya. “Aw! Aduhsakit!” Ten menjadi panik sendiri. “Hei! Lal, kamu ini kenapa, sih?” Lisa menjadi geram sendiri dan terus melanjutkan memakan lolipopnya. “Apa, sih. Orang aku-nya aja gak apa-apa.”

“Jadi, hatiku… itu ada untukmu.”

Lisa terbelalak.

“Kamu lembut sekali dan hangat.”

Hah? Aku? Lembut dari mana, batin Lisa.

“Kamu cantik sekali, Dewi Quan In.”

Wajah Lisa memerah.

“Kamu juga menemani setiap aku kesusahan.”

Duh, jantung kalem plis!, batin Lisalagi.

“Kamu-lah sang penyegar dikala dahaga.”

Sekarang, wajah Lisa benar-benar memerah dan dia berusaha untuk tidak menggigit lolipopnya lagi. Hening cukup lama. Lisa jadi bosan, jika hening terus, lama-lama keterusan hingga sore. “So, to the point, please. Intinya kamu itu nembak aku ‘kan, Tuan Leechaiyapornkul? Jawabannya aku pikir-pikir dulu, ya. Tapi, kalau dapat hidayah aku langsung iya-in, kok.”

Ten menggaruk lehernya yang tidak gatal, Lisa jadi ikut-ikutan. “Anu, Lal… kamu habis ngomong sama siapa? Kamu barusan ditembak sama laki-laki lewat ponsel, ya? Kok, namanya sama kayak aku, ya?”

Lisa merengut dan menjitak kepala Ten. “Kamu apaan, sih. Ini samasekali enggak lucu, lho.” Ten memiringkan kepalanya menatap Lisa, “Lal, omongan kita, kok enggak nyambung.” Sumpah, sepertinya darah Lisa sudah penuh di ubun-ubun. Dia menghela nafas panjang dan menepuk dahinya dengan sabar. “Kamu yang enggak nyambung! Kamu tadi baca puisi-puisi yang gak jelas itu cara nembak aku ‘kan? Terus kenapa pura-pura amnesia, huh? Cara lain supaya kamu enggak kaget aku tolak?”

“Sepertinya ini salah paham, deh.”

“Terus kamu tadi ngomong sama siapa? Buku? Frankstein? Mumi? Enggak ‘kan? Kamu juga gak bakal mungkin nembak dinding pembatas.”

“Bukan itu maksudku. Kamu baper banget, sih, Lal. Aku tuh latihan puisi tentang kegemaran kita. Jelek, sih. Masa’ iya puisi buatanku ngebahas tentang sweater wol, patung dewi-dewi, macaron, dan susu cokelat. Aku mikirnya, bakalan dapat nilai C. Tapi, setelah tahu kalau kamu-nya aja sampai baperan apalagi perempuan lain dikelas. Susah, ya, jadi orang keren.” Ten menyeringai jahil saat menyudahi ocehannya.

Wajah Lisa merah padam, “Ten… berantem, yuk. Lapangan luas, lho. Lagipula, lapangannya sedang tidak dipakai. Ayo, aku sudah tidak sabar.”

“Lal, jangan marah, dong. Kalau marah lucu, deh. Jadi pingin poppo.”

“HEH! Awas kalau macem-macem. Udah, ah. Urusin sana puisi kamu yang gak jelas samasekali itu. Aku doain, kamu dapat nilai C. Puisimu gak berkualitas!” dengus Lisa dengan pedas seraya melangkah keluar pintu dengan kata hati yang lain. Inginnya Lisa, si Ten menahannya.

Yah, pucuk dicinta ulam-pun tiba.

“Lal, mau kemana?” tangannya ditarik oleh Ten. Deru napasnya semakin tidak beraturan saat merasakan tangan Ten melingkar di pergelangan tangannya. “Mau pergi. Kemana aja, yang penting gak liat muka kamu. Bosan.” Ten tertawa pelan dan menyuruh Lisa duduk disebelahnya, mautidakmau, Lisa duduk disebelah Ten dan merengut.

“Maaf, Lal. Kan aku cuma bercanda. Udah geer, baper, hidup lagi.”

“Masih mending aku! Lah kamu? Udah caper, sok pede, hidup lagi.”

“Lal, kali ini aku serius.”

“Ternyata, tukang PHP bisa serius, ya.”

“Aku enggak bohong, Lal.”

“Oh ya? Waw, aku tersepona.”

“Terpesona, Lal. Kamu typo, tuh.”

“Mulut mana bisa typo, Ten.”

Plis, dengar dulu. Aku seriusan, nih. Enggak bohong.”

Bwa—lalala—lalalala.”

“Aku suka kamu, Lal. Aku gak bohong. Aku suka kamu, kalau kamu butuh pengulangan.”

lalal—OHOK! A-apa? Kamu bilang apa, tadi?”

“Aku suka kamu. Aku janji kali ini enggak PHP.”

Lisa terbelalak saat Ten berhadapan langsung dengan wajahnya. “­A-anu, kamu enggak salah ‘kan? Masa’ kamu beneran naksir sama aku? Kalau karena kasihan, gak usah dipaksain. Aku enggak maksa kamu, kok. Cuman salah paham.”

Ten mengelus pipi Lisa pelan dan memberikan senyum menawan yang mampu membuat hati Lisa serasa meleleh—dia juga merasa menjadi perempuan tercantik disekolahnya, entah mengapa. “Aku suka kamu, Lal. Lupakan aja random talk kita tadi. Sekarang kamu udah dapat hidayah belum? Biar langsung ‘iya’ jawabannya.”

“Udah, kok. Udah dapat. Huh, iya. Aku juga suka kamu. Ya maaf, aku orangnya baperan, geer, hidup lagi. Tapi, aku ‘kan anak mama-papa.”

Gapapa, kok. Aku juga, udah caper, sok pede, hidup lagi. Dan aku anak mama-papa juga.”

“Iya, nih—Heh, kenapa mulai lagi?” kata Lisa saat menyadari percakapan mereka mulai tidak jelas lagi. Dan mungkin akan terus begini. Rasanya, Lisa ingin transmigrasi ke planet Neptunus jika bisa. Ten mengulum senyum, “Lal, aku suka kamu.”

“Astaga, iyaiya! Aku juga suka kamu.”

“Maaf yang tadi, udah buat kamu jadi geer dan malu. Kutukan nilai C, dicabut, ya. Nanti aku remedial pelajaran sastra lagi. Tapi, makasih. Aku suka kamu.”

Sepertinya sudah lima kali Ten mengatakan hal itu pada Lisa. Dan percakapan ini bertambah absurd, jujur saja. “Udah, ah. Basi kalau kita ngomongin ini terus. Naskah short film macam apa ini?!” gerutu Lisa seraya membanting lembaran kertas yang ada di hadapannya. “Jisoo sama Jaehyun enggak pintar buat naskah short film yang lebih berbobot. Mentang-mentang kalian sutradara terus buat short film amburadul begini. Tahu gitu ‘kan, aku saja yang jadi sutradara.”

Jisoo mematikan handycam-nya, “Nona Lalisa, jangan ngeyel. Lagipula, aku hanya menuruti kemauan Jaehyun saja, kok. Dia yang buat naskahnya. Aku hanya merekam. Selesai. Ayo, lanjutkan short film-nya.”

Ten berdecak kesal seraya melirik kearah Jaehyun yang sibuk mengunyah permen karetnya. “Oiy, naskah apa ini? Peranku kok gini-gini sekali, sih.” Lisa mengangguk setuju, “Mana aku orangnya geer-an. Astaga, kalian ini tidak bisa membuat naskah dengan baik dan benar, ya.”

Jaehyun mengangkat bahunya. “Ya sudah, batalkan saja project short film ini. Sepertinya memang sangat tidak bermutu, ya. Jisoo tuh, yang mengusulkan judulnya. Random Talk, dan hasilnya benar-benar jadi random.” Jisoo mencibir dan pura-pura sibuk membaca naskah short film yang gagal itu.

“—by the way, Lisa… kamu jangan kaget, lho. Aku mau bilang sesuatu. Sebenarnya, ini Ten yang buat naskah. Dia benar-benar suka sama kamu. Dan sebenarnya, ini salah satu media buat nembak kamu. Tapi, memang dasar dia gak berani aja.” Setelah Jisoo menyelesaikan kalimatnya, dia keluar bersama Jaehyun. Menyisakan wajah Lisa yang pias dan Ten yang penuh harap.

Lisa menatap Ten penuh makna. “Kalau yang tadi itu kamu nembak aku beneran, berarti yang tadi aku jawab itu juga.” Ten balas menatap Lisa, “Lal, kamu enggak bohong ‘kan?” Lisa menggelengkan kepalanya dan—

yaahh… semoga diruangan ini tidak ada CCTV atau semacamnya. Karena, mereka baru saja jadian dan langsung berciuman, tipikal orang Thailand kebanyakan. Dan semoga saja ini bukan naskah short film buatan Jisoo atau Jaehyun yang sekarang sedang mengintip mereka dari luar dengan perasaan ‘astaga-mereka-berani-sekali-aku-jadi-iri’.

Once again, semoga ini bukan cara jadian yang benar-benar random.

-oOo-
end
-oOo-

Note.

Haha, saya tahu ini random sekali dan amat-sangat-tidak-jelas, tapi jika ada yang bisa menebak maksud atau inti cerita diatas, saya janjikan cerita lain dengan pair yang sama, tapi lebih bermutu dari ini.

Terimakasih karena telah membaca tulisan random ini, sebenarnya bukan mereka yang random. Tapi, saya. Yah walaupun saya mengharapkan mereka benar-benar terlibat percakapan seperti ini, sih XD

Terimakasih sekali lagi untuk para pembaca dan para kakak di BPFFINA yang sudah bersedia menerima fanfiction absurd buatan saya. Laffya! ❤

Iklan
[BPF Freelance] #RandomTalk

Satu pemikiran pada “[BPF Freelance] #RandomTalk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s