[BPF EVENT] You And I

you and i.jpg

You and I
by Purplepirates

Kim Jisoo [Black Pink] | S.Coups (Choi Seungcheol) [Seventeen] | other cast find yourself

                   Genre: Romance, Angst | Length: Ficlet | Rating: General      

“It’s ambigous, our relationship.”—from Chen ft. Heize – Lil’ Something

Barangkali memang Kim Jisoo yang terlalu percaya diri sampai bisa menyimpulkan kalau Choi Seungcheol—pria tampan yang menjabat most wanted 2016—itu menyukainya.

Simpulannya itu bukan tak berdasar apalagi mengada-ada. Justru mungkin itu adalah hal paling realistis yang masuk otak kalau berada diposisi Jisoo.

“Jadi? Masih mau mengharapkan si Seungcheol?”

Jisoo menatap tajam Kim Jiwon yang tengah mengacungkan ponselnya tepat di depan wajahnya. Nyengir selebar bokong gajah seolah memamerkan hasil temuannya. Padahal faktanya, temuan itu bahkan tak lebih dari berita tak mengenakan hati yang tak sepatutnya dibanggakan.

“Kau bicara apa? Mengharapkan siapa? Bicaramu ngawur, Won.”

Tapi jelas. Yang namanya Kim Jisoo tentu tidak menunjukan emosinya secara terang-terangan. Maka, gadis itu memilih memiringkan kepala sok bingung dan bertanya seperti orang yang tidak tahu apa-apa di depan Jiwon. Kendati sebetulnya Jisoo paham betul poin dari kalimat Jiwon barusan.

“Ayolah, aku yakin kau paham K—“

“Tidak, tuh. Aku sama sekali tidak paham dengan apa yang ingin kau bicarakan.” Memasang wajah sok polos mungkin sudah jadi keahlian baru Kim Jisoo.

“Seungcheol sudah pacaran dengan Sowon. Kau masih mau mengejar pacar orang?” tanya Jiwon sambil menggoyangkan ponselnya. Meminta atensi Jisoo pada ponselnya. Yang berisi foto Seungcheol dan Sowon yang bergandengan tangan mesra dengan caption lengkap dari Seungcheol yang merujuk pada hubungannya dengan Sowon yang bukan lagi sekedar teman biasa melainkan sepasang kekasih. Penjelasan yang panjang, tapi memang begitu kenyataannya.

Seriously? Kau masih bisa memikirkan hubungan orang lain ketika hubunganmu sendiri dengan Nayeon belum jelas? Aku turut prihatin padamu, Jiwon.” Tutur Jisoo dengan wajah kasihan yang dibuat-buat pada Jiwon. Mengundang desisan halus dan mata yang makin menyipit dari Jiwon.

“Kau sendiri bagaimana? Hubungan tanpa statusmu dengan Seungcheol sudah beres memang?” balas Jiwon tak ingin kalah. Membuat Jisoo mau tak mau ikut menyipitkan mata menatap Jiwon.

“Sudah beres. Kau sendiri yang bilang kalau Seungcheol sudah punya Sowon.”

“Lalu bagaimana hatimu? Sudah kau rapikan dengan baik?”

Jisoo naik pitam. Tak pernah mengerti kenapa lelaki bernama Kim Jiwon ini bisa jadi saudara sepupu terdekatnya. Rasanya tidak sudi menerima fakta kalau lelaki menyebalkan di depannya ini adalah saudara satu kakek-nenek. Sudah wajah tidak begitu bagus, otak tidak begitu cemerlang, masih saja menyebalkan dan bernafas dengan udara yang sama dengan Jisoo. Bagaimana Jisoo tak habis pikir dengan ini?

“Terserah, Kim Jiwon. Itu urusanku untuk apa kau urus-urus segala,” Jisoo bangkit berdiri dan mengambil tasnya bersiap pergi, “dasar kurang kerjaan.” Cibirnya lalu berlalu begitu saja meninggalkan Jiwon.

<><><>

Jisoo tak mengerti kenapa ia harus merasa kesal dan marah pada Choi Seungcheol. Karena post instagram lelaki itu? Yang menyebut kalau Kim Sowon anak jurusan keperawatan itu kekasihnya? Hell, no.

Selama ini Seungcheol tak pernah bilang kalau Jisoo adalah pacarnya, selingkuhan atau apalah itu yang mengindikasikan kalau Jisoo berhak marah kalau tahu Seungcheol menggandeng wanita lain. Selama ini yang Jisoo tahu, ia hanyalah anak satu jurusan dengan Seungcheol yang kebetulan tetangga dekat, satu sekolahan ketika SMA dan satu kelompok ketika masa-masa orientasi. Mereka hanya sahabat yang kelewat dekat. Itu saja.

Lalu kenapa Jisoo harus merasa seperti dikhianati ketika mendengar berita Seungcheol sudah punya gandengan baru? Ah, mungkin saja Jisoo hanya kesal karena Seungcheol tak pernah memberitahunya.

Ponsel Jisoo bergetar di saku kemejanya. Membuat sang pemilik hampir saja melompat dari kursi saking terkejutnya.

Sayang, kau dimana?

Begitu sederet kalimat yang merupakan pesan masuk barusan. Dengan malas-malasan Jisoo membalas pesan itu. Mengetikan ‘tempat biasa’ tanpa basa-basi sedikitpun.

Ya, yang barusan mengirim pesan itu Choi Seungcheol. Dan kalian sama sekali tidak salah baca atau apa karena, disana memang tertulis kata ‘sayang’ yang ditujukan pada Jisoo. Dan—lagi—Seungcheol bukan salah kirim karena, Seungcheol memang memanggil Jisoo begitu. Kendati sebutan sayang bukanlah hal lazim diantara dua sahabat yang salah satunya sudah punya kekasih.

Sebersit pemikiran melintasi serebrum Jisoo secara kilat. Menegakkan punggungnya dengan cepat karena sebuah konklusi baru telah muncul.

Jisoo bukan marah karena merasa dibodohi, kan?

Maksudnya, selama ini Seungcheol selalu memanggilnya dengan sebutan-sebutan untuk sepasang kekasih. Dan Jisoo tidak begitu keberatan dengan itu. Tapi, hei, Jisoo juga seorang gadis yang kalau diperhatikan terus menerus akan merasa nyaman dan terlena dengan itu. Jadi? Kesimpulannya, Jisoo marah pada Seungcheol karena merasa diberi harapan palsu secara cuma-cuma oleh lelaki itu.

Case closed.

“Soo!” panggilan itu masuk ke rungu Jisoo dengan lembut. Membuatnya menoleh dan memberi senyum setengah hati pada si pemanggil.

“Kukira kau dengan Jiwon. Tadi kulihat kau ke kantin bersamanya.” Katanya lalu duduk di sebelah Jisoo.

“Aku memang sempat ke kantin tadi. Mengobrol urusan keluarga dan beberapa hal tidak penting.”

“Ah, mengerti-mengerti,” katanya sambil mengangguk-angguk. “By the way, seharian ini kau free, kan? Jalan-jalan bersamaku, bagaimana?” lanjutnya sambil menyandarkan kepalanya ke bahu Jisoo.

“Kenapa mengajakku? Tidak dengan Sowon?” tanya Jisoo tanpa berusaha menggeser kepala Seungcheol dari bahunya.

“Tidak. Dia bilang dia ada acara, jadi hanya kau yang bisa kuajak jalan.” Setelah itu tidak ada percakapan lagi diantara mereka berdua. Hanya gemerisik dedaunan yang bergesekan yang mengisi keheningan yang bagi Jisoo, menyesakkan.

“Jadi, sebetulnya hubungan kita itu apa, Cheol?” tiba-tiba saja Jisoo berbisik. Tanpa Seungcheol jawabpun, Jisoo sudah tahu jawabannya. Tapi, Jisoo masih penasaran dengan itu. Ia masih berharap jawaban Seungcheol akan berbeda dari apa yang Jisoo pikirkan.

“Kita sahabat, tentu saja. Kau sahabatku yang paling berharga, Kim Jisoo. Bukankah aku sudah sering mengatakannya?”

Manusia memang makhluk yang lemah. Salah satu contohnya Kim Jisoo. Gadis itu tetap membiarkan kepala Seungcheol bertengger di bahunya, membebaskan Seungcheol memainkan jemarinya dan tetap bersikap naif pada keadaan. Ia sudah terlanjur nyaman dengan ini semua. Dan membiarkan semua terjadi adalah pilihannya untuk tetap bisa merasakan kenyamanan itu. Jisoo sudah tak peduli dengan hubungan ambigu antara dirinya dan Seungcheol yang hingga kini, masih jadi tanda tanya besar. Persetan dengan hati yang tersakiti, ia menyukai Seungcheol lebih dari apapun.

.fin

Iklan
[BPF EVENT] You And I

Satu pemikiran pada “[BPF EVENT] You And I

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s