[BPF EVENT] Treat You Better

1477177767439

TREAT YOU BETTER

.

.

“‘Cause I know I can treat you better than he can—”

.

 

.

 

Kim Jisoo meneguk cairan bewarna oranye dari gelas yang genggam sebelum ia meletakkannya kembali ke atas meja. Matanya kembali mencoba menatap liar ke sekitarnya. Kiranya kembali dentuman musik yang luar biasa—masih membuat kepalanya pusing. Sorot lampu bewarna-warni—masih membuat matanya berkunang-kunang. Mungkin seharusnya ia terbiasa dengan semua ini, atau mungkin ia harus mulai membiasakan diri.

Dari kejauhan, setidaknya seorang pria masih berdiri di sana, menggerakkan kedua tangannya—atau hampir keseluruhan tubuhnya selaras dengan dentuman musik yang bergema tanpa henti—bersenang-senang. Nyatanya hanya karena hal sesederhana itu, ia rela datang kemari tiap malamnya. Ya, sebuah tempat penghibur lara meski hanya dalam satu malam. Meski ia tak tahu apakah laranya cukup terobati kali ini.

“Kau akan minum segelas orange juice di tempat seperti ini?”

Kim Jisoo mengalihkan pandangannya dimana kini seorang pria lain tengah menyunggingkan senym padanya. Kim Jisoo hanya menyeringai malu.

“Aku tak tahu orang sepertimu akan rela datang kemari untuk menghabiskan malam,” ujarnya sembari meneguk cairan berbau menyengat tersebut dari botolnya sebelum akhirnya kedua matanya menatap ke salah satu arah. Ya, arah dimana pria yang sedari tadi Jisoo perhatikan berada.

“Jika itu sebagai satu-satunya alasan kau berada di sini.” Bobby, pria yang kini menatap sinis pria yang masih menggerakkan tubuhnya di lantai dansa. Ya, pria yang masih setia menjadi perhatiannya. Jisoo hanya tersenyum tipis—mengiyakannya. Matanya masih tertuju pada pria di sana, meski kini ia tahu pasti seorang gadis lain tengah menggodanya. Dan pria itu, Hanbin, dengan senang hati menerima ajakannya untuk menari dengannya.

“Apa yang kau harapkan dari pria seperti Hanbin?”

Jisoo mengalihkan pandangannya sekedar menatap Bobby yang kini menatapnya datar—atau mungkin lebih tepatnya  menatapnya dengan tatapan iba atas dirinya.

“He treats you with the worst way—” ujar Bobby dengan setengah mengumpat. Ia kembali meneguk minumannya, kali ini dengan gusar.

“Dan kau akan membiarkan dirimu dipermainkan seperti ini? Untuk selamanya?” Jisoo masih terdiam. Matanya masih menatap Hanbin yang berada cukup jauh dengannya. Memeluk pinggang gadis lain dan membuat tubuh keduanya dekat dengan satu sama lain—sangat dekat. Dan ia yakin, gadis itu baru saja menyentuh pipi Hanbin dengan bibirnya dan Hanbin membiarkannya.

“And you know it’s not love.”

Jisoo memejamkan matanya. Entah mengapa namun apa yang diucapkan Bobby seakan menamparnya cukup keras.

“I’m sorry.”

Jisoo menarik nafasnya dalam-dalam sebelum ia membuka matanya demi menatap Bobby yang masih menatapnya iba.

“But i won’t lie to you. I know he’s just not right for you.”

Jisoo tertunduk saat Bobby menyentuh punggung tangannya dan menggenggamnya erat. Mungkin pria itu benar. Mungkin Hanbin bukan orang yang tepat. Atau mungkin ia terlampau ‘sakit’ untuk bisa membedakan artinya dicintai dan dikhianati.

Bobby membuang nafasnya. Mungkin ia terlalu kasar padanya. Ia memang tak seharusnya meyakinkan kekasih temannya bahwa temannya adalah seorang pria brengsek yang tak layak untuk dicinta. Benar, Hanbin adalah seorang pria brengsek yang akan melakukan apapun demi tidur dengan wanita yang ia suka. Meski Bobby yakin, Hanbin tak pernah menyentuh Jisoo—atau mungkin lebih tepatnya Bobby yang mengancam Hanbin untuk tidak melakukannya.

Sebuah kenyataan yang begitu menyakitkan. Ya, Bobby menyukai Jisoo. Oh bukan, tapi ia mencintainya—meski ia tahu Hanbin selalu menang.

“Tell me what you want to do—’cause I know I can treat you better than he can. And any girl like you deserves a gentleman.”

Jisoo mengembangkan senyumnya sebelum ia melepaskan tangan mereka. Ia mengalihkan matanya kembali pada Hanbin. Alunan musik melembut, ia dapat melihat dengan jelas saat gadis itu mengalungkan kedua tangannya pada leher Hanbin, namun sekali lagi Jisoo hanya dapat menahan nafasnya dan mengalihkan pandangannya untuk kesekian kalinya.

“I can’t, Bobby.”

Jisoo mengaduk minumannya acak sebelum kembali menatap Bobby yang masih menunggu jawabannya.

“I don’t care if you call me as a fool. But i don’t want to leave him.” Jisoo mengembangkan senyumnya.

“Maybe i’m too naive—but it’s okay if he played around with other girls out there—it doesn’t matter, how many times he slept with other girls out there—”

Jisoo menggantung kalimatnya. Saat entah kini semua terasa begitu menyakitkan, tanpa ia sadari. Ia menarik nafasnya kali ini.

“But it does matter—knowing my name is still in his mind. Knowing him, still want to be with me till today.”

Kim Jisoo yakin ia mendengar Bobby mengumpat saat ia memyelesaikan kalimatnya tadi. Namun apa yang ia bisa lakukan? Ia bahkan tak tahu pasti alasan mengapa ia mempertahamkan hubungannya selama ini? Meski dengan jelas ia tahu Hanbin bermain dengan orang lain di luar sana, bahkan ia tak sungkan mengumbar semuanya.

Ia kembali menatap Hanbin yang masih setia di tempatnya. Kini pria itu terlihat mengatakan sesuatu pada pasangan dansanya tersebut—sebelum Jisoo dapat melihat gadis itu sempat mengecup bibir Hanbin sekilas dan meletakkan sesuatu pada kantung jaket milik Hanbin.

“You know Bobby—”

Jisoo mengembangkan senyumnya saat Hanbin mengayunkan tangannya seakan baru sadar Jisoo memperhatikannya sebelum akhirnya pria itu berjalan ke arahnya.

 

“I’m sure know when i will stop these things. So please don’t worry about me.”

.

.

“Hey babe—Oh, hyeong!”

Bobby tersenyum hambar saat Hanbin datang dan menepuk pundaknya. Ya, bahkan pria itu tak merasa malu atas apa yang ia lakukan di lantai dansa—atau merasa bahwa mereka tak memperhatikannya sedari tadi.

“Aku akan mengantar Jisoo pulang dahulu. Kau tidak pulang, hyeong?” Bobby mengedikkan bahunya, sebagi satu-satunya jawaban darinya. Ia terlalu muak.

“Baiklah, let’s go home babe” Jisoo mengangguk singkat sebelum beranjak dari bangkunya. Ia menatap Bobby yang masih terdiam disana—atau mungkin tengah menahan diri untuk tidak menghajar Hanbin saat ini. Jisoo mengembangkqn senyumnya sebelum berkata

“I’ll see you soon, Bob.”

Bobby hanya tersenyum hambar sembari mengangkat botolnya sebelum akhirnya kedua benar-benar berjalan menjauhinya.

 

Benar, ia kalah lagi.

Or maybe he will never win over Hanbin.

Never.

.

 

.

 

.

 

-Fin-

 

 

 

Iklan
[BPF EVENT] Treat You Better

3 pemikiran pada “[BPF EVENT] Treat You Better

  1. Riana🌛 berkata:

    Hai, there!

    Aku nggak bisa berkata apa – apa lagi renting fanfic kamu. Pemilihan katanya udah oke, alur dan plotnya keren, feel gregetnya dapet banget, dan hal bagusnya, fanfic ini seolah – olah punya ciri khas. Aku paling suka pas bagian Bobby sama Jisoo ngomong pake bahasa Inggris. Tapi penggunaan huruf kapital juga harus diperhatikan.

    Pada kalimat “But i won’t lie to you” seharusnya ditulis “But I won’t lie to you” karena itu lebih baku dan terlihat enak dibaca 😊

    Dan juga aku pengen notice satu hal lagi, ada typo.

    Tapi overall, aku suka banget, keren, dan luar biasa :’)

    Semoga sukses dan keep writing ya!

    Mohon maaf bila ada kata – kata yang salah

    Suka

    1. Hi riana! it’s sora here. Hahaha makasi banget uda mau baca cerita abal ini. Makasi juga uda smpet meninggalkan jejak 🙌 punya ciri khas? haha wah jadi terharu—it’s the first time i’ve heard such good words! Haha iya nih karena bkinnya by phone, jadi banyak banget yg salah. Padahal ud dikoreksi hehe. Makasi sayang 😉

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s