[BPF EVENT] Photograph

Photograph 3.jpg

Photograph

Author : Deliadeaa

«Lenght» Ficlet contain 948 ±words

«Genre»:Angst | Sad | AU | Romance

«Rating»  : PG 15!

«Cast» BLACKPINK Jennie, NCT 127 Taeyong

« Disclaimer » Storyline and poster murni milik aku, apapun bentuk plagiarism are totally restricted.

 

Where our eyes are never closing

Our hearts are never broken

And time’s forever frozen, still

 

 

Tak pernah lepas atensiku darinya.

Menawan.

Kulihat dirinya berdiri tegap sempurna dengan balutan jas wisuda, tersenyum kepada setiap orang yang memberinya ucapan selamat. Aku juga ingin. Memberinya ucapan hangat dan menerima bingkisan hadiah terindah dalam hidupku, sebuah senyuman.

“Jennie-ah…”

Sampai-sampai aku berdelusi bahwa malaikat itu memanggil namaku.

“Jennie Kim?”

“Ya?”

Aku terkesiap. Wajah rupawannya itu berjarak sangat dekat dan tak bisa kuantisipasi.

Bagaimana wajahku sekarang? Apa penampilanku sudah bagus? Sial. Benda ajaibku tertinggal di mobil… Dan dia bahkan masih terlihat tampan walau toganya miring beberapa senti.

“Ayo kita berfoto bersama…”

.

Demi jenggot Zeus!

Mungkin ini berkat jimat yang diberikan oleh ahjusshi tua kemarin itu.

“Tentu.”

Langkahku terasa sempit, mengekor kaki panjangnya ke tempat photobooth di luar ruangan. Jangan lupakan tanganku yang berkeringat karena terbungkus oleh tangan besarnya.

Fotografer pun mengaba-aba, menyuruh kami berdua berpose. Tentu aku bingung harus bagaimana. Situasi ini benar-benar awkward.

“Jennie, boleh aku bertanya sesuatu?” bisiknya tepat di telingaku. Grr. Ini terlalu berlebihan, wajahku pasti benar-benar konyol sekarang.

“Apa?”

“Ya atau tidak?”

Sejenak aku terdiam, berusaha mencerna kalimatnya yang masih rumpang.

“Maksudmu?”

“Pilih saja, ya atau tidak?”

“…”

Perlu beberapa sekon untuk menjernihkan akalku yang mulai keruh. Aku tidak tahu ini benar atau tidak, namun naluriku mengatakan…

“Ya.”

 

***

 

Foto ini… Satu-satunya benda yang bisa kusimpan sampai saat ini. Walau kusut tertekuk, sedikit memudar termakan usia, aku masih mengingat semua warna yang ada di dalammya. Bukan monokrom, melainkan warna-warni kenangan indah yang sempat kami lalui.

Senyum, tawa, dan perasaan suka. Kian melekat di benakku bagaimana ia berusaha membuatku bahagia. Kami melewati hari-hari berdua, aku ingat sekali waktu itu kami menghabiskan waktu untuk sekedar piknik di taman. Meskipun pada akhirnya basah kuyup karena hujan.

Dia mendekapku. Begitu hangat dan nyaman. Pandangan kami pun bertumbukan. Aku memandanginya, setiap lekukan garis di wajahnya, hidungnya, matanya, bibirnya… Semua terpahat dengan indah. Darahku berdesir. Tak henti-hentinya memompa lebih cepat daripada biasanya. Hingga jarak kami terpaut kepalan jari. Begitu dekat, sampai aku bisa merasakan hembusan napasnya yang hangat menerpa kulit pipiku.

“Aku mencintaimu, Jennie.” bisiknya. Aku hanya bisa terpejam, menikmati sentuhan pertama kali yang mendarat di bibirku. Baru kali ini aku merasakan sesuatu yang seperti ini. Begitu memabukkan, membuat semuanya terasa indah.

***

“Aku hamil!”

“Apa!?”

Kulihat air mukanya berubah menjadi tegang. Nampaknya kehamilanku ini tidak diinginkan. Padahal bukan itu yang kumau.

“Oh sungguh, bahkan aku tidak punya pekerjaan tetap sekarang, dan aku lupa kalau aku belum lulus.” ucapnya gusar, sambil memijat pelipisnya. Aku tersenyum melihatnya, “Tidak apa-apa.. Kau bisa mencarinya nanti… Tahun depan kau akan diwisuda, bukan?”

“Bukan itu masalahnya, Jennie! Kau tahu, aku belum siap! Aku belum siap menjadi ayah! Semuanya terjadi begitu cepat, diluar dugaanku.”

“Lalu?”

“Aku belum siap Jennie. Kita masih berumur 19 tahun, dan akan menjalani kehidupan rumah tangga? Oh, jangan bercanda!” bentaknya.

Aku berusaha keras menahan air di pelupuk mata ini-

“Gugurkan saja kandunganmu.”

-hingga kata-kata itu akhirnya meruntuhkan pertahananku.

“Kau ingin aku melakukan apa!?”tanyaku lagi, masih tak percaya dengan pernyataan yang baru saja dilontarkan oleh pria ini. Entah kenapa, hatiku sesak mendengarnya. Tanpa kusadari, bulir bening di pipiku kini sudah menganaksungai.

“Gugurkan  kandunganmu.”

“Menggugurkan kandungan? Membunuh bayi tidak berdosa karena tingkah kekanakanmu itu!? Jangan harap!” aku berkata setengah menjerit, lantas pergi meninggalkan dirinya sendirian. Membebaskan diriku dari pembicaraan yang memuakkan ini.

***

 

Meskipun kami terpisah, justru itu merupakan awal di mana kesetiaan dan cinta kami diuji. Tidak ada hubungan tanpa pertikaian.

Anggap saja itu adalah sebuah hukuman dari Tuhan karena telah menjadi seorang pendosa sepertiku, seorang wanita murahan yang memasrahkan seluruh hidupnya demi sesuatu yang bernama cinta.

***

 

“Aku hamil, dan ayahnya sendiri bahkan takut akan hal ini.”

“Astaga! Jangan bilang kalau si brengsek itu yang melakukannya!”

Aku hanya mengangguk lemas. Sahabatku, Rose juga ikut lemas mendengarnya.

“Sudah berapa kali aku katakan, Jennie! Dia itu buruk. Tidak pantas untukmu. Lalu bagaimana sekarang? Apa yang terjadi jika bayimu itu tak memiliki ayah?”

 

“Mungkin akan sulit bagiku, tapi aku sudah memutuskan untuk membesarkannya sendirian.”

Rose terlihat benar-benar kesal dengan ucapanku. Aku tahu, dia pasti ingin menghajar bajingan itu, sama sepertiku.

“Jennie! Pakai akal sehatmu! Kau tidak tahu betapa mengerikannya hidup seorang ibu tanpa ayah! Hidupmu hanya akan dipenuhi oleh mulut busuk yang ditujukan kepadamu, jangan lupakan bahwa masa depan anakmu adalah yang terbaik. Dia butuh seorang ayah, Jennie.”

“Aku bersumpah akan melakukan yang terbaik demi anakku. ”

 

***

 

Lembar demi lembar album ini semakin membawaku pada kisah manis kami. Bunga-bunga musim semi yang bermekaran saat itu, angin semilir menerpa rambutku yang tergerai. Wajahku yang masih pucat karena sedang hamil muda. Surai legamnya yang terlihat berantakan namun masih tetap terlihat begitu tampan.

I’m sorry for all scar i’ve made for you. I know I’m just a smug jerk. But, you must know, Jennie Kim. I love you. My smile depends on you, Jennie. My laugh, my heart, and my soul.

Aku masih syok dengan perkataannya. Kuharap ini bukan mimpi. Oh tidak, bahkan sekarang ia berlutut di depanku.

“It may sounds cheesy, but, will you marry me?”

Setelah apa yang dia lakukan kepadaku, semuanya terasa sangat aneh. Tak bisa dipungkiri, hati jalang sepertiku memang miliknya seutuhnya, selamanya.

Belum sempat aku membalas perkataannya, kulihat darah segar mengalir dari hidungnya. Wajahnya kian pucat menyamaiku. Aku semakin panik saat dia mulai limbunme

“Oppa!”

Tubuhnya tumbang. Aku mengguncangnya, namun tak ada respon. Air mataku pecah, tumpah ruah membasahi kelopak matanya yang terpejam. Hatiku menjerit pilu, serasa dihujam berbagai benda tajam tak kasat mata. Baru semenit yang lalu ia mengucap kalimat manis padaku. Baru semenit aku merasakan kupu-kupu beterbangan di perutku.

Kelopak bunga sakura yang berjatuhan menjadi saksi bisu pernyataan cintanya padaku.

Dan saat itu, aku benar-benar ingin tersenyum padanya, memeluknya. Menghabiskan sisa hidupku bersamanya. Tanpa lelah mengucapkan kata cinta.

Namun kini, semua itu hanya bisa tersampaikan pada sebatas kepingan photograph.

 

-Fin

 

Iklan
[BPF EVENT] Photograph

5 pemikiran pada “[BPF EVENT] Photograph

  1. Reva Nur Ayu Safitri berkata:

    woahh …keren banget, aku suka ceritanya, rasanya terharu banget, sampai pengen nangis, kasihan banget dia…gimana perasaannya saat dia ditinggal sama orang yang dicintai, pasti sakit banget… nggak bisa bayangin kalau itu terjadi sama aku…pasti kaya mau bunuh diri…
    good job keep writing yaa kak…

    Suka

    1. Jangan terlalu baper nak, semua ada hikmahnya /dilempar/ Aku sukaa sama pairing Jennie-terong >< Karena pada dasarnya mereka berdua sama-sama rapper dan punya latar belakang yg agak mirip kali ya?

      Makasih udah mau mampir 😄

      Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s