[BPF EVENT] Fragment Memories

fragment-of-memories-jisoo-version

 

TITLE : FRAGMENT OF MEMORIES (Jisoo Version)

AUTHOR : AokoCantabile

CAST : Kim Jisoo (Jisoo of Black Pink) & Kim Jiwon (Bobby of iKON)

also with Song Yunhyeong (Yunhyeong of iKON)

GENRE : Family, Brothership, Hurt/Comfort, Angst, Psychology, Slice of Life

Length : Vignette (±2300 words)

Rating : General, Teen

 

 

This town is colder now, I think it’s sick of us

It’s time to make our move, I’m shaking off the rust

I’ve got my heart set on anywhere but here

I’m staring down myself, counting up the years

 

Ruang segiempat bercatkan putih tersebut adalah pemandangan pertama yang dilihat oleh Jisoo saat membuka sepasang netranya. Pikirannya hampa dan kosong. Gadis berusia 22 tahun itu bahkan takkan mengenali dirinya bernama Kim Jisoo apabila tidak membaca papan nama besar yang terpampang di seberangnya.

Dengan hati-hati, Jisoo pun bergerak, berupaya bangkit dari tempat tidurnya, berniat untuk menggapai sebuah gelas berisi cairan bening. Akan tetapi, dirinya terlampau lemah, sehingga menyebabkan gelas tersebut jatuh ke lantai, pecah dan mengakibatkan suaranya bergema sepanjang ruangan.

Takut. Jisoo lalu menggigit bibirnya. Dia benci bunyi peraduan kaca tersebut pada benda keras di bawahnya. Bunyi itu menyebabkan kedua telinganya berdenging, seakan-akan hal tersebut tidaklah asing baginya. Jisoo muak mendengarnya dan berteriak sekencang-kencangnya, mencoba mengeluarkan kegusaran yang bercokol di dalam nuraninya.

Dan, sebuah bidang persegi panjang di ujung ruangan tersebut mengayun. Menyembul sesosok wanita yang berusia tak jauh darinya, mengenakan pakaian putih dan membawa nampan berisi beberapa botol plastik kecil. Jisoo berhenti menjerit, termenung melihat manusia selain dirinya.

“Kau sudah bangun, Nona Jisoo?” tanya wanita itu. Suara lembut wanita itu menyihir Jisoo, sehingga dia menurut saat disuruh menegak tiga butir zat warna-warni yang terasa kelat sekali di tenggorakannya.

“Hari ini saudaramu yang tampan akan datang menjegukmu. Kau pasti akan senang melihatnya. Sekarang kau harus mandi, menyisir rambutmu yang cantik ini dan berpakaian indah untuk menyambutnya.” Lagi-lagi Jisoo mengangguk patuh tatkala wanita di sampingnya itu berucap. Sekilas, Jisoo menengok papan nama di seragamnya yang bertuliskan Yamada Aoko.

“Kau Aoko?” tanya Jisoo lirih, yang dibalas senyuman oleh wanita itu.

“Iya, namaku Aoko. Dan, kau sudah menanyakannya berjuta-juta kali, sayang.” jawab wanita tersebut seraya membereskan pecahan kaca di bawahnya.

“Maaf, aku tak mengenalmu.”

“Ya sudahlah. Sehabis aku merapikan ini, kau harus mengikutiku ke kamar mandi. Oke?” perintah Aoko sambil mengedipkan sebelah matanya. Jisoo tertawa lepas melihat aksi ganjil yang dilakukan wanita itu. Dia pun beringsut berdiri, membuntuti jejak Aoko.

***

Jisoo tengah mendengarkan cerita tentang seorang anak kecil yang berpetualang di dunia ajaib karena mengekori kelinci yang berucap ‘aku terlambat’ dari buku yang dipegang Aoko ketika seorang pria bertubuh tegap datang menghampirinya.

“Ah, Jisoo. Saudaramu telah datang. Aku pergi dulu..” ucapan Aoko terhenti tatkala Jisoo menahan tangan kanannya. Bulir keringat membanjiri kening Jisoo, kedua manik kelabunya menyiratkan ketakutan saat bertatapan dengan pria asing di depannya itu.

Noona. Ini Jiwon. Aku adik kembarmu, noona.” panggil lembut pria itu. Suara berat yang keluar dari mulutnya mengingatkan Jisoo dengan suatu hal yang menyenangkan.

“Kim Jiwon.” Jisoo membeo. Secepat kilat, Jisoo memeluk erat tubuh pria itu, menghayati aroma tubuh lelaki yang disayanginya.

Jiwon mengusap puncak rambut saudarinya, kemudian meminta Jisoo untuk kembali duduk di bangkunya tadi. Tanpa Jisoo sadari, Jiwon telah memberikan pertanda kepada Aoko –suster yang merawat Jisoo untuk meninggalkan mereka. Ada suatu hal mendesak, yang ingin Jiwon katakan pada Jisoo.

Noona. Apakah kau menyukai tempat ini?” tanya Jiwon pelan. Jisoo menengok adiknya itu, kemudian melengkungkan garis simetris dari bibirnya.

“Aku suka dengan Aoko. Aku suka dengan cerita Alice in Wonderland yang dibacakan Aoko. Dan, aku suka dengan kehadiranmu, Jiwon” ucap Jisoo polos.

Jiwon menghela nafasnya. Berat baginya untuk menyampaikan hal yang mungkin Jisoo tak akan paham, namun tekadnya telah bulat. Dia harus mengeluarkan Jisoo dari rumah sakit jiwa yang telah membelenggu Jisoo tiga tahun ini. “Sekarang aku akan membawamu ke tempat yang lebih indah dari tempat ini, noona. Tempat dimana kita dulu bermain bersama. Tempat dimana kita seharusnya berada. Mari kita pulang, noona!” ajak Jiwon.

“Dimana tempat itu, Jiwon? Apakah Aoko juga akan pergi bersama kita?”

“Tempat itu bernama Seoul. Dan, maaf noona. Aoko tidak bisa menemani noona selamanya. Dia harus bekerja merawat orang lain disini.” Jiwon berusaha meyakinkan Jisoo. Gadis bergaris Kim itu memandang lekat Jiwon, menerawang tempat yang digambarkan oleh lelaki yang mirip dengannya itu.

Jisoo manggut-manggut, setuju dengan ajakan Jiwon. Jiwon tertawa lepas kala melihat Jisoo mengiyakan permintaan egoisnya. Walaupun Jisoo akan jauh dari perawatan intensif yang selama ini berupaya menyembuhkannya, Jiwon yakin kepulangan Jisoo ke Seoul akan menciptakan kenangan terindah untuk kakaknya dan juga dirinya. Setidaknya, Jiwon akan melakukan apapun yang disukai oleh Jisoo sebelum dia akan berpisah dengan Jisoo selamanya.

###

They trying to come back, all my senses push

Untie the weight bags, I never thought I coukd…

Noonaku telah pulang, Hyung. Jika kau memang merasa bersalah karena selama ini tidak menjenguk noona, maka sekarang adalah waktu yang tepat bagimu untuk menebus kesalahan itu.” ucap Jiwon kepada lelaki di seberangnya melalui telepon. Setelah menyampaikan pesan, Jiwon menutup panggilannya, kemudian menengok keadaan saudarinya yang tengah tertidur lelap di kamarnya. Dia merajut tungkainya hati-hati agar tidak membangunkan Jisoo yang pastinya lelah berpergian dari Jepang menuju Korea, kampung halaman mereka.

Memandangi Jisoo yang terbaring nyaman membuat Jiwon gelisah. Dia menatap siluet Jisoo dengan nanar, lantas duduk bersimpuh di samping dipan Jisoo.  “Noona, kumohon jangan meninggalkan aku. Berikan aku waktu untuk membahagiakanmu.”

Jiwon lalu mengelus lembut lengan kakaknya. Benaknya kembali teringat pada pertemuannya dengan dokter yang menangani Jisoo dua hari lalu. Dokter itu berpesan agar Jiwon harus ikhlas untuk merelakan kepergian Jisoo yang tidak akan lama lagi. Daya tahan hidup Jisoo selama tiga tahun sejak dia didiagnosa Alzheimer sekaligus Demensia adalah sebuah keajaiban. Dokter itu lalu meminta Jiwon untuk merawat Jisoo di rumah, menyelami setiap detik yang berharga sebelum Jisoo lupa dengan Jiwon selamanya. Ya, selamanya. Itu adalah satu kata yang beberapa hari ini membuat Jiwon kehilangan fokus.

“Siapa kamu?” Suara kakaknya membuyarkan lamunan Jiwon. Jiwon mendesah saat menyadari Jisoo telah melupakan semua peristiwa yang dialaminya hari ini.

Noona, ini Jiwon. Aku adik kembarmu, noona.” Pernyataan yang selalu Jiwon ucapkan, entah ke berapa kalinya, hingga membuatnya fasih mengucapkan apabila Jisoo telah pikun.

“Bukan, kau. Tetapi wanita tua jelek yang berada di belakangmu. Dia….dia terlihat marah dan juga kesal padaku. Siapa dia? Tolong usir dia dari hadapanku!!” Jiwon terkejut mendengar perkataan Jisoo, dia lalu melihat ke arah yang ditunjuk Jisoo dan kembali memandangi Jisoo yang telah terpekur di balik selimut, mengigil ketakutan.

Noona, disana tidak ada apa-apa. Mungkin, kau salah…”

“TIDAK!! KAU BOHONG!!!” pekik Jisoo. Alih-alih menyembunyikan dirinya di dalam selimut, dia bergerak menuju Jiwon, menutupi pandangan dengan membenamkan kepalanya ke dalam dada bidang adiknya.  “Wanita tua itu memegangi sapu, ingin memukulku. Aku takut..aku takut, Jiwon~ah”

Jiwon merangkul Jisoo, menenangkan dengan menepuk punggungnya. Setelah dirasa Jisoo mulai kalem, Jiwon bersenandung,

You and I must make a pact. We must bring salvation back. Where there is love. I’ll be there. I’ll reach out my hand to you. I’ll have faith in all you do. Just call my name. And I’ll be there.[1]

“Jiwon, lagu apa yang kau nyanyikan?” potong Jisoo. Jiwon tersenyum saat melihat tingkah lugu kakaknya.

Noona, lagu ini adalah lagu kesukaan noona. Noona selalu memintaku untuk bernyanyi lagu ini bersama noona di tempat karaoke.”

“Benarkah? Tapi kupingku terasa sakit mendengarkan suaramu bernyanyi.” Respon Jisoo yang tak biasa membuat Jiwon tertawa lepas.

“Kau selalu mengatakan hal seperti itu setiap aku melantunkan lagu, noona. Ah, sudah lama sekali aku tak mendengar kata-kata pedasmu.” balas Jiwon sembari mengacak-acak surai saudarinya.

Noona, bagaimana kalau besok kita pergi berjalan-jalan? Kau mau kan?” usul Jiwon yang langsung ditanggapi dengan anggukan Jisoo. Melihat hal tersebut, Jiwon tersenyum lebar, lalu meminta kakaknya untuk kembali tidur.

###

Untuk pertama kalinya, benak Jisoo mengingat suatu peristiwa. Kejadian dimana dia dan Jiwon merayakan ulang tahun ke-17 mereka di sebuah ice skating rink. Saat itu, mereka sedang melarikan diri dari rumah karena melihat kedua orang tua mereka bertengkar hebat di hari yang berharga bagi saudara kembar Kim tersebut.

Jisoo berulang kali menggosok kedua tangannya yang dingin, suhu minimal ice skating rink membuat tubuhnya kaku. Dia hanya bisa menyengir tatkala melihat adik kembarnya memamerkan aksi meluncur di atas permukaan es dengan menirukan gerakan balet.

Tiba-tiba, badan Jisoo menghangat, sebuah jaket disampirkan ke bahunya oleh seseorang. Jisoo reflek menoleh dan memandang bingung lelaki yang memakaikannya jaket,  tengah berdiri di sampingnya.

“Ah, hyung. Kau sudah datang?” sapa Jiwon yang mendadak menghentikan gerakannya. Yang dipanggil, melambaikan tangan kepada Jiwon, mengulas senyum yang menunjukan deretan gigi yang rapi.

Jisoo mencelos. Hatinya tergelitik kala melihat senyuman pria tersebut. Entah kenapa, senyuman itu merupakan sesuatu yang indah dan bermakna sehingga Jisoo ingin melihatnya lagi.

Jiwon kemudian mendekat pada Jisoo dan lelaki asing itu. “Noona, aku akan menitipkanmu pada dia. Kau akan bahagia bersamanya saat aku tidak ada.” ujar Jiwon seraya menepuk bahu kakaknya.

“Kau mau kemana, Jiwon~ah?” tanya Jisoo was-was. Dia tak ingin Jiwon pergi meninggalkannya, meskipun Jisoo yakin pria di sampingnya tidak berniat buruk.

“Ah, aku ada urusan penting sebentar. Nanti, aku akan menjemputmu di rumahnya. Aku pergi dulu ya..” pamit Jiwon sambil mengedipkan sebelah mata. Jisoo menunduk, hatinya terasa sakit saat melihat bayang punggung Jiwon menghilang dari keberadaannya. Kenapa ini? Apakah aku kembali kumat? batin Jisoo sembari mengurut dadanya.

“Jisoo~ah, kau masih ingat padaku? Aku oppa yang selalu kau rindukan setiap malam” panggil lelaki itu. Jisoo menengok, kemudian menatap kedua iris lelaki itu dengan sayu.

“Aku Yunhyeong. Aku adalah pacarmu. Ya,  berstatus pacar sebelum akhirnya kau menghilang dan melupakan eksistensiku.”

Kedua manik Jisoo berkaca-kaca. Pantas Jisoo merasa bahagia melihat presensi lelaki itu. Dia Yunhyeong. Song Yunhyeong, lelaki yang selalu berkeinginan Jisoo untuk selalu tersenyum sepanjang hari. Lelaki yang tak pernah lelah mendengarkan keluh kesah Jisoo saat Jisoo sedang terpuruk. Lelaki yang pernah berucap akan selalu menemani Jisoo dalam keadaaan apapun.

“Kau..kau kemana saja selama ini?” tanya Jisoo getir, cairan likuid telah menggenang di pelupuk matanya. Kedua tungkai kakinya melemas, dia hampir jatuh jika Yunhyeoungtidak sigap menahannya.

“Maafkan, aku Jisoo. Aku terlalu takut untuk menemuimu. Kau yang sedang kacau dan Jiwon yang segera membawamu ke Tokyo membuatku selalu merasa belum siap untuk bertemu denganmu. Aku selalu menanyakan kabarmu melalui Jiwon dan begitu Jiwon mengabarkan kau telah berada di Seoul. Aku langsung bergegas menghampirimu. Aku tak ingin melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya.” Uraian Yunhyeong panjang lebar, membuat Jisoo mengerjapkan mata. Ini aneh! Biasanya dia akan menghapus kenangan yang buruk baginya dan kembali kosong keesokan harinya. Tetapi, munculnya Jiwon dan Yunhyeong membuat Jisoo selalu awas dengan dirinya. Dia tak berniat sedikitpun untuk menghilangkan sosok mereka di ingatannya. Apakah ini yang dinamakan dengan sembuh? Apakah ini yang dimaksud Jiwon kalau Jisoo akan sembuh?

“Jisoo? Jisoo?” panggilan Yunhyeong memutuskan renungan gadis tersebut. “Kau tidak apa-apa kan?” tanyanya lagi untuk memastikan keadaan gadis yang dicintainya itu.

Oppa..” seru Jisoo sembari menatap Yunhyeong. “Aku pusing. Bisakah kau membawaku pergi darisini?” suara Jisoo melemah.

“Ah, baik. Aku akan membawamu ke rumahku. Nanti, aku akan menghubungi Jiwon untuk menjemputmu jika kau sudah baikan.” Yunhyeong lalu menuntun tubuh Jisoo keluar dari arena seluncur es itu, bergerak perlahan menuju parkiran dimana mobil Yunhyeong berada.

###

Steady feet, don’t fail me now

I’mma run ‘til you can’t walk

Something pulls my focus out

And I’m standing down….

Gelap. Sesak. Jisoo sedang berlari…berlari terus berlari… mengejar sebuah wujud yang berada nun jauh disana. Jisoo lalu berhenti, sebuah pemandangan ganjil mengalihkan niatnya. Sebuah jalanan kosong yang gelap dengan siluet seseorang terbujur kaku. Pelan, Jisoo berjalan, berniat mencari tahu sosok apa yang menelungkup, menyatu dengan aspal jalanan. Namun, itu terasa mengerikan! Kedua matanya membulat. Mulutnya mengangga, air matanya tumpah, dadanya nyeri. Dia berharap apa yang dilihatnya hanya sebuah mimpi, kemudian sayup-sayup suara familiar memanggil dirinya..

“Jisoo..Jisoo, kau sudah sadar?” Pertanyaan Yunhyeong membuat Jisoo terpaku.

“Jiwon? Dimana Kim Jiwon?” pekikJisoo sambil mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Sinar putih menyilaukan penglihatannya, orang-orang yang tak dikenalnya hilir mudik, seakan-akan ada suatu hal mendesak yang harus mereka kerjakan.

“Jisoo, tenangkan dirimu terlebih dahulu!” perintah Yunhyeong diacuhkan Jisoo. Dia lantas berdiri, tertatih-tatih menghampiri sebuah ranjang besi yang tergeletak tak jauh darinya. Yunhyeong yang berupaya menahan, tak mampu bertindak apa-apa kala Jisoo telah melihat adiknya terbaring kaku dengan luka goresan hampir di seluruh wajah.

“Jiwon?” tanya Jisoo lirih, nyaris tertelan oleh helaan nafasnya sendiri. Tangannya meraba tubuh Jiwon yang telah dingin.

“Jiwon telah meninggal dunia, Jisoo. Dia menjadi korban tabrakan truk, saat terburu-buru ingin menjemputmu.” Perkataan Yunhyeong membuat kedua rungu Jisoo menuli. Meninggal dunia? Apakah itu berarti Jiwon pergi meninggalkannya selamanya?

Jisoo jatuh bersimpuh. Dia menangis, menjerit sesuka hatinya. Terus memekik hingga ia merasa pita suaranya serasa akan putus. Mengapa di saat dia telah mengingat kehadiran Jiwon yang berwarna di hidupnya, Jiwon malah tiada? Pergi jauh dari sisinya, pikir Jisoo.

Yunhyeong berlutut, mengikuti Jisoo. Dia mendekap erat Jisoo, mengusap bahunya perlahan, ingin menenangkannya. Tangisan Jisoo kemudian berhenti seketika. Matanya mengerjap, pandangannya kosong.

“Mengapa aku menangis? Ada apa dengan diriku ini?” gumamnya pelan. Lelaki bermarga Song terkejut dengan tingkah Jisoo yang berubah.

“Kepalaku pening, hatiku perih. Tetapi, mengapa aku tidak tahu penyebab diriku seperti ini?” suara Jisoo serak.

“Jisoo? Kau tidak apa-apa kan?” tanya Yunhyeong, memastikan kondisi Jisoo.

“Kau siapa? Kenapa aku bisa bersamamu? Kau siapa??” isak Jisoo, mulai menangis yang membuat Yunhyeong terperanjat heran. Jisoo menatap hampa manik Yunhyeong, seolah-olah lelaki di hadapannya adalah wujud pertama kali yang dia lihat.

“Jisoo…kau tidak lupa lagi kan?”

“Jisoo? Siapa Jisoo? Kenapa kau memanggilku Jisoo?” Mendengar pernyataan gadisnya, Yunhyeong perlahan merenggangkan pelukannya. Lelaki itu meringis, kesal mengapa hal itu kembali terjadi.

“Apakah kau Jiwon?” lanjut Jisoo, yang semakin membuat Yunhyeong frustasi. Sekarang Jisoo benar-benar melupakan dirinya.

“Aku….”

“Jiwon~ah, kau pergi kemana? Jangan tinggalkan noona..” Jisoo memotong kata-kata Yunhyeong. Dia lantas berdiri, berjalan tak tentu arah, meninggalkan Yunhyeong yang masih gamang dengan kelakuan Jisoo.

“Jiwon…Jiwon..kau mau kemana, Jiwon..” panggil Jisoo pada sesuatu yang tak tampak.

Stop and stare

I think I’m moving but I go nowhere

Yeah, I know that everyone gets scared

But I’ve become what I can’t be

Oh, do you see what I see?

_OneRepublic ; Stop and Stare_

 

Yunhyeong menggertakkan gigi. Sekarang, dia pasrah. Mungkin inilah maksud dari pesan terakhir Jiwon untuk menjaga dan membuat kakaknya bahagia saat dia telah tiada.

“Jiwon..meskipun Jisoo melupakanku. Aku berjanji akan membuat Jisoo mengingat diriku kembali, sama seperti yang kau selalu lakukan tiga tahun terakhir ini.” Ikrar Yunhyeong pada jasad Jiwon. Dia lalu menutup wajah Jiwon dengan selimut, berpamitan untuk terakhir kalinya.

Fin.

[1]Sebait lagu dari Jackson5 ; I’ll Be There

Iklan
[BPF EVENT] Fragment Memories

2 pemikiran pada “[BPF EVENT] Fragment Memories

  1. Kak Aoko.. maafkan aku yang baru komen sekarang lantaran baru ada mood/.\

    Asli aku pengin nangis ih beneran kenapa kakak tega sekali membiarkan Jiwon berpulang ke rahmatullah dan membuat Jisoo jadi lupaan macam ninik2 gitu sih yaampun aku sedih bgt 😥

    Oiya trus ya kok aku agak envy sama mbak Jisoo pas dia bersandar di dada bidangnya Jiwon. Sumpah gak kebayang mereka tuh saudara kembar makanya aku kaya yg gak kebayang dan malah jealous wkwk/timpuked

    Ini menyentuh sekali kak Aoko mengingat bahwa memang tak selamanya kehidupan berjalan mulus/hiks/lap ingus

    Overall aku suka kok kak Aoko keep fighting ya ❤

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s