[BPF EVENT] Beautiful In White

beauty

Beautiful In White

a storylinebyCho Hana

(Blacpink) LaliceManoban❄ (NCT) TenLeechaiyapornkull

Romance❄Angst

G ❄Ficlet

.

.

You looksobeautiful in white

Andfromnowtomyverylastbreath

 

– Beautiful in White – Westlife –

.

.

 

“Bagaimana penampilanku? Cantik bukan?”

 

Lisa mematut dirinya di depan Ten. Ia berlenggak-lenggok bak model kelas internasional. Tak pelak tingkahnya itu mengundang gelak tawa dari sang calon suami.

 

“Gaunnya cantik. Kaunya yang jelek.”

 

Lisa langsung merengut kala kalimat itu lolos itu dari mulut Ten. Ten, pemuda berwajah tampan dengan selera humor yang tinggi itu terbahak puas. Melihat wajah cemberut Lisa dengan pautan bibir tipisnya seperti sebuah hiburan terlucu yang ia nikmati siang itu.

 

“Huh, menyebalkan. Kau pikir, kau juga tampan apa? Berterimakasihlah pada Kak Jisoo, karena setelan jas rancangannyalah tubuh pendekmu bisa tersamarkan.”

 

Kini giliran Lisa yang membalas Ten. Tentu saja dengan ejekan tak kalah hina dari yang Ten lontarkan padanya tadi. Sejujurnya, jauh di lubuk hati terdalam, mereka saling memuji penampilan satu sama lain. Hari itu Lisa sangat cantik dengan balutan gaun putih berekor panjang yang membalut tubuh langsingnya. Wajahnya terlihat sangat manis dengan riasan makeup natural dan tatanan rambut yang dikuncir satu. Begitu pula dengan Ten. Penampilannya benar-benar sempurna hari itu. Balutan setelan jas abu-abu itu cocok di tubuhnya. Bahkan sang mertua sempat memujinya semalam saat ia feeting baju.

 

Lisa dan Ten adalah sepasang kekasih yang telah menjalin hubungan selama hampir 5 tahun. Hubungan mereka terjalin seperti lumrahnya pasangan kekasih pada umumnya. Mereka sering menghabiskan waktu bersama di sela kesibukan kerja mereka. Menonton bioskop atau mungkin sekedar nongkrong di kedai bubbletea kesukaan Lisa. Yang istimewa adalah cara mengimplementasikan gaya pacaran romantis mereka.

 

Lisa bukan sosok gadis manis penggila drama romansa seperti Jisoo. Begitu pun dengan Ten. Ia bukan sosok pemuda serius seperti Bobby, yang punya seribu satu kalimat manis yang bisa diberikan pada Jisoo bersama setangkai bunga mawar merah. Jadi, intinya gaya pacaran romantis ala Bobby-Jisoo tidak cocok disematkan dalam gaya berpacaran Lisa dan Ten.

 

Mereka lebih senang mengungkapkan perasaan sayang melalui celaan dan hinaan. Seringkali kata-kata celaan super kejam terlontar dari bibir mereka masing-masing, bahkan tak jarang mereka saling adu jontos saat sama-sama tak mau mengalah dengan argumen masing-masing. Tapi, itulah yang membuat mereka berbeda. Mereka bahagia dengan cara mereka sendiri.

 

“Lihat. Para tamu sudah banyak yang datang. Woah, Kak Jisoo datang bersama Kak Bobby. Aku senang melihatnya,” Lisa memekik kegirangan sambil melompat-lomoat seperti anak kecil. Lupakan sejenak tentang masalah higheels-nya yang nyaris patah di bawah sana.

 

“Oh, Kak Taeyong dan yang lain juga datang. Aku tak menyangka mereka mau meluangkan waktu untuk datang,” Ten ikut memekik kala maniknya menangkap sosok pemuda bersurai perak yang datang bersama rombongannya. Mereka adalah teman satu bandTen saat SMA dulu.

 

Ten dan Lisa tersenyum puas melihat kedatangan para tamu yang memenuhi gedung gereja siang itu. Tamu yang datang sangat banyak. Bahkan pendeta Han sudah siap berdiri di atas altar.

 

“Lis,” Tiba-tiba Ten menarik tubuh Lisa, membuat tubuh mereka saling berhadapan sekarang.

 

Lisa terdiam. Kini raut wajah Ten berubah jadi serius. Tidak seperti biasanya. Apa karena acara sakral itu akan segera dimulai sebentar lagi? Ah, mungkin ia sedikit gugup sekarang.

 

“Ada apa, Ten?” Tanya Lisa heran.

 

Ten menghela napas panjang lalu tersenyum tipis, “Tidak apa-apa. Aku hanya ingin bilang, aku merasa beruntung memilikimu di sisiku selama ini. Aku tadi hanya bercanda kok. Jujur, kau sangat cantik dengan balutan gaun pengantin ini dan-” Lisa sudah mengulum senyumnya. Linangan air tercipta di sudut matanya. Entahlah. Mungkin ia terlalu terharu dengan lisan manis yang Ten ucapkan untuk pertama kalinya itu. “-Dan aku akan terus mencintaimu… meskipun nantinya kita akan berada di tempat yang berbeda.”

 

Sebuah kecupan lembut mendarat di bibir Lisa. Lisa terdiam menikmati ciuman hangat sang kekasih. Alunan musik terdengar menggema dengan merdu, mengiringi masuknya dua buah peti kayu ke dalam gedung gereja. Lisa tersenyum, ia masih bisa melihat semuanya dari ekor matanya yang berlinang. Peti itu, tempat peristirahatan terakhir mereka. Dua badan tanpa raga yang tewas semalam sebelum upacara pernikahan.

 

“Tuhan, tolong satukan kami di tempat yang sama. Aku sungguh mencintai Ten.”

 

Fin

 

Iklan
[BPF EVENT] Beautiful In White

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s