[BPF Event] Winter, Wish, Him

winter-wish-him-copy

{Winter, Wish, Him}

let’s quietly hold hands and make a wish– Wish Tree (Red Velvet)

BlackPink’s Lisa | NCT’s Ten
Slice of Life, bitOfRomance, Angst | Ficlet(±900) | Teen n Up
©2016 syongbaby

 

Aspal hitam mulai memutih dan salju tak pandang bulu turun di manapun. Ornamen merah yang menghiasi tiap sudut kota menandakan penghujung Desember sudah dekat, pun berkantung-kantung gingerbread hangat berjajar di etalase toko mampu menguarkan aroma khas nikmat. Mentari sedang menguap lebar kala snowflakes kecil menyapa, satu per satu kemudian berkawan menutupi apapun yang bisa ditutupi, berjatuhan bak slow motion ke tempat dimana anak-anak tengah menunggu untuk membangunkan Pak Manusia Salju.

Saat ini Lisa lebih memilih bertarung dengan dingin di kursi taman yang beku alih-alih bergulung dalam pelukan selimut atau barangkali menghabiskan jatah bulanan dengan gingerbread hangat. Semua kesenangan itu tak mampu bersaing dengan rindu walaupun Lisa sangat benci mengakuinya.

Entah kali keberapa ketika Lisa kembali meniup jemari dan mengusapnya, mencoba menghangatkan diri meski sepasang tungkai terguncang gemetar hingga jemari kaki mengerut menahan dingin.  Sebagai keturunan Thailand dimana salju adalah suatu keajaiban, Lisa tetap tak kuat dengan suhu minus mau seberapa lama ia berada di bawah langit Belgia yang kini menjadi rumah kedua baginya.

Kalau bukan karena sosok yang tengah berlari kecil dari ujung jalan sana—Lisa bisa saja mengubah pilihan dan kembali ke rumah. Bersama waktu, figur itu semakin membesar seiring terpangkasnya jarak, tersenyum persis seperti dalam ingatan. Ciptaan Tuhan paling rupawan, bagi wanita itu, menjulang dihadapannya. Tak apa Lisa tersiksa dingin sekali lagi, karena ketika ia melihat Ten—ia tersenyum. Segala rasa itu menguap.

Sudah berapa lama? Lisa tidak tahu. Yang pasti ia sudah terlalu rindu sampai hatinya ngilu.

“Ayo pergi.” Kebiasaan yang tak berubah—tanpa basa-basi dan penuturan maaf penuh penyesalan. Namun apa pentingnya hal itu sekarang?

Setelah tahun-tahun menanggung rindu, hanya kisah tentang hidup masing-masing yang mampu mengobati, tak perlu di café mewah atau amusement park yang sedang booming—hanya kedai kecil di dekat taman. Tak ada menit terbuang sia-sia. Obrolan penuh nostalgia, dua potong waffle madu ukuran sedang, dan tawa yang melebur dengan angin. Satu kata : Sempurna.

“Sulit mengatakan ini tapi terima kasih sudah menungguku,” Ten mengulas senyum. Ada secarik rahasia yang berusaha dikaburkan tetapi tak ada yang Lisa tak tahu. Lalu, Ten melanjutkan bernada amat tulus, “Terima kasih untuk segalanya.”

Jangan berbohong, batin Lisa, mau tak mau ia mengulas senyum juga mesti di bawah meja, tangannya mengepal menahan pedih hati. Lisa mau Ten mengatakan segalanya—opini diri dan rasa sakit yang bergumul bertahun-tahun lamanya, barangkali diiringi tangis pun tak apa. Lisa mau Ten tak merasa sendiri; ada ia dan seluruh waktunya. Sesakit apapun tubuh Ten rasakan, tangannya akan selalu digenggam jemari Lisa.

Dan tak ada yang lebih menyakitkan daripada membayangkan sosok yang sedang terbahak di depan mata lambat laun akan tiada suatu hari nanti, pergi ke tempat dimana tukang pos tak dapat memberikan suratnya, memberhentikan penantian di stasiun kesedihan dengan lambaian lemah dan bekal doa.

Lukisan jingga milik senja tak lagi indah sekarang. Lisa takut—sangat takut bahkan. Mentari yang semakin tenggelam kemungkinan membawa hari baru dan Lisa takut hari esok, seolah kejutan yang terbungkus dalam 24 jam tersebut selalu berisikan duka serta luka. Lisa ingin menghindarinya dan memilih jatuh cinta pada hari kemarin.

Sebab, waktu telah membekukan kenangan, pun esok hanyalah bom waktu.

Menit-menit berlalu, tibalah mereka di penghujung hari, serta sekantung kue Oliebollen untuk berdua dalam apitan Lisa. Sudah sekian sudut kota terkunjungi bersama sebelum mengakhiri hari di taman berkolam luas. Ten berkata jika seseorang berhasil memasukkan koin ke bagian tengah kolam doanya akan terkabul, maka ia lakukan itu. Hal yang bodoh, pikir Lisa, namun setelah Ten selesai, ia mengambil alih tempatnya dan sukses melempar tiga keping koin seperti yang Ten lakukan. Kemudian mengaitkan jemari dan memejamkan mata.

Waktu seakan berhenti dan air mata nyaris menyeruak di antara untaian doanya.

“Apa tiga permohonanmu?” tanya Ten polos setelah wanita bersurai sebahu itu membuka mata. “Langgeng denganku salah satunya ‘kan? Atau Range Rover yang waktu itu kita lihat?”

Kurva simetris yang terlukis menyiratkan ambigu. Barangkali pria di sampingnya mengharapkan permohonan materialistis yang akan terucap tapi dia salah besar. Harta paling mahal yang Lisa punya hanya dirinya dan itu lebih dari cukup.

“Pertama,” kata Lisa, menyampingkan segala rasa, menarik nafas dalam. “Aku ingin kita selalu bahagia seperti hari ini, selamanya.”

Ten tersenyum, tipikal senyum seseorang yang sedang menyembunyikan sesuatu, menyulut api pada sumbu bom tangis milik Lisa. “Kedua, kita akan selalu bersama sampai musim dingin selanjutnya, selanjutnya, dan terus selanjutnya.”

“Tiga,” kini Lisa hanya mendesah pasrah dan tersenyum tak sampai. “Semoga semua permohonan ini terkabul.”

Kehidupan memang kejam dan kadang tak adil tapi begitulah cara dunia terus berputar. Kisah tiap manusia yang hidup di bumi akan selalu berputar seperti roda—kadang di bawah, kadang di atas. Waktu yang mencuri kenangan membuat semua orang belajar tentang betapa berharganya ia. Kebahagiaan dan kesedihan yang datang bergilir tak berhenti hingga kata ‘selesai’ tercetak besar dalam kisah hidup seseorang.

Dan kisah Ten mungkin tak sepanjang yang Lisa harapkan. Ada beberapa perubahan yang tak akan pria itu alami, mau tidak mau,  tahap penuaan akan berlangsung di suatu tempat yang Lisa tak akan pernah tahu dimana. Baru terpikir oleh Lisa untuk pertama kalinya bahwa manusia tak bisa merencanakan apapun—dimana ia lahir, kepada siapa hatinya berlabuh, bagaimana caranya ia mengatakan selamat tinggal pada kehidupan.

Sekarang adalah kenangan yang paling bahagia, yang terbingkai dalam hati, dan akan dicuri dengan mudah oleh Tuan Waktu. Garis rahang itu, senyuman itu, segala kebiasaan dan detik-detik itu akan menjadi angin lalu. Seolah tak pernah terjadi. Dan Lisa tahu sekali bahwa cepat atau lambat, Ten akan mengucapkan salam perpisahan dan pamit—untuk selamanya.

Maka ketika Ten hanya mengulas senyum lemah sembari menilik maniknya—ia tahu semua permohonan tak akan pernah terkabul.

 

 


hae! maapkan poster yg kebnyakan porsi Ten T^T ga nemu foto yg pas huhu

Iklan
[BPF Event] Winter, Wish, Him

3 pemikiran pada “[BPF Event] Winter, Wish, Him

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s