(Oneshoot) Tentang Namjoon

By Ravenclaw

Genre : Family | Rating : PG-13 | Length : Oneshoot

Karena pada dasarnya manusia tidak selamanya bangga menjadi manusia

Based on Wings

 

Dalam dunia ini, tidak ada yang tahu kalau sesosok Jennie yang terkenal semenjak beberapa bulan yang lalu mempunyai seorang pelindung dalam wujud yang sama, berbeda gender, dan terpaut usia dalam beberapa tahun. Tidak ada yang tahu soal itu.

Sosok itu juga seseorang yang sudah terkenal duluan sebelumnya, sudah beberapa tahun berkancah di dunia entertainment Korea Selatan yang cukup keras dan ternyata mampu mengimbangi dengan kerja yang cukup keras pula.

Kalian hanya mengenal nama panggungnya saja, percayalah. Itu pikir Jennie.

Dan ia tidak akan pernah memanggil kakaknya tersebut dengan nama panggung pemberian perusahaannya. Ia selalu memanggil dengan nama pemberian kedua orang tua mereka.

Namanya Kim Namjoon.

Jika ada yang tahu kalau kakaknya adalah seorang pemimpin dari boy group terkenal, BTS, maka akan banyak orang mengatakan seperti ini, “pantas saja, sama-sama pintar bahasa inggris,” atau “kok keren?” atau “tidak ada mirip-miripnya sih,” atau akan ada orang yang kagetnya luar biasa, terkejut parah, lebay setengah mati lalu diakhiri dengan ucapan, “kau beruntung punya kakak sepintar dia!”

Tapi sayangnya, Jennie tidak akan mengungkapkan tentang kejadian itu kepada seluruh orang yang ia kenal maupun yang tidak ia kenal, apalagi dirinya sekarang sudah menjadi public figure sebagai Jennie, leader dari girl group Black Pink besutan YG Entertainment.

Tidak, tidak akan pernah dan tidak akan ia laksanakan jika kedua orang tuanya menyuruhnya untuk menceritakan yang sebenarnya.

Bukan, bukannya ia tidak mau menjadi adik kandung dari seorang Rap Monster itu, bukan. Justru ia bangga. Tapi, ia tidak mau dikenai rumor-rumor aneh yang akan bertebaran di media sosial atau di dunia nyata atau di dunia tak kasat mata sekalipun yang ternyata dibuat oleh para haters-nya atau haters dari kakaknya.

Ayolah, hidup itu lebih kejam kenyataannya.

Dan kakaknya itu juga setuju akan pemikirannya tersebut, dua kakak beradik itu dengan sepakat tidak akan menceritakan siapa yang sering menjahili mereka saat berkumpul bersama di rumah, siapa yang sering menelepon di saat-saat jam sibuk mereka, siapa yang sering mengirim teror tidak jelas kepada mereka, dan siapa yang saling memotivasi mereka satu sama lain hingga menjadi sukses seperti saat ini.

Cukup keluarga besar mereka saja yang tahu soal itu.

Tetapi, jika ada yang tanya kepadanya apa perubahan Namjoon yang paling menonjol sejak kakaknya menjadi salah satu public figure yang berpengaruh di dunia musik Korea Selatan, Jennie akan menjawab, tidak ada.

Namjoon tetap pintar berbahasa inggris, tetap menyapa menggunakan bahasa inggris, selalu mengajarinya hal-hal yang tidak ia mengerti, selalu belajar, selalu tersenyum, selalu jahil, dan selalu misterius.

Sampai saat ini, Jennie tidak tahu apa yang dipikirkan kakaknya, apalagi semenjak Namjoon menjadi leader di boy group BTS, Namjoon semakin mengurungkan diri dalam kamarnya, itupun kalau mereka punya waktu pulang ke rumah. Biasalah, resiko orang terkenal memang seperti ini, jarang pulang ke rumah, karena sudah disediakan dorm dari perusahaan rekaman mereka.

Jennie baru saja selesai melakukan debutnya dengan sukses bersama kawan-kawan segrupnya. Tak lupa ia membawa kabar gembira ke seluruh keluarganya, dirinya sukses, dirinya sekarang bisa dibanggakan, dirinya bisa disetarakan dengan kakaknya. Dan kedua orang tuanya bersyukur sembari menyiapkan makanan kesukaannya, sup rumput laut. Dan yang paling penting, saat ini Namjoon pulang ke rumah, dengan senyum hangat juga pelukan hangat juga yang menyambutnya.

Tapi, sayangnya itu tak berselang lama.

Setelah selesai membantu ibu mereka membereskan sisa-sisa makan malam yang sederhana, kakaknya izin balik ke kamar, hendak menyelesaikan proyek, katanya. Ibunya mengangguk mengerti, ayahnya memperingati supaya tidak larut malam tidurnya, dan dirinya hanya terdiam dengan kepergian kakaknya menuju lantai dua rumah mereka.

“Jennie, temani ayah nonton konsermu,” untuk sementara waktu ia mengalihkan perhatiannya untuk menuruti perintah beliau.

Hanya satu jam saja, diselingi dengan nasihat, canda, saling diam memperhatikan iklan televisi, juga menikmati teh madu buatan ibu. Masih sama, tetap hangat. Kecuali Kim Namjoon.

Hingga waktu sudah semakin larut, ayah dan ibunya sudah pergi ke alam bawah sadar masing-masing. Sengaja menyuruh mereka duluan dengan embel-embel membantu mencuci gelas ‘pesta’ mereka tadi. Tetapi, niatnya tetap satu, apa yang sedang dilakukan Namjoon saat ini.

Sepuluh menit kemudian, dirinya sudah membilas tangannya, tak lupa juga mematikan lampu dapur juga lampu ruang utama di lantai satu. Kakinya melangkah ke lantai dua dibawah remang-remang rumahnya. Langkahnya awas, takut membuat kegaduhan. Tidak, dirinya tidak akan menuju kamarnya yang hampir sampai. Tapi, ke kamar satunya, siapa lagi kalau bukan kamar kakaknya.

Pintu berwarna cokelat tua itu terbuka, terlihat di dalamnya kamar tersebut sedikit luas dengan posisi benda-benda yang masih menempati posisinya, rapi. Sang pemilik tengah duduk serius di salah satu kursi di balkon kamarnya, tidak terganggu dengan kedatangannya.

“Kak?”

Namjoon menoleh, kaget, lalu tersenyum, “belum tidur?” ia hanya menggeleng, menghampiri kakaknya.

“Ayah ibu sudah tidur?” Jennie mengangguk.

Matanya tertuju pada beberapa kertas dan sebuah buku yang ia tahu itu adalah novel, “kau sedang buat apa?”

Namjoon mengikuti lirikan adiknya, “oh, ini proyekku nanti di BigHit, kenapa?” Jennie tampak berpikir, seolah berusaha membaca pikiran kakaknya, “mau comeback?” dan Namjoon mengangguk.

Pria berambut pirang itu tertawa kecil, “kok tahu?”

Ia hanya mengangkat bahu sembari menaikkan alisnya, “firasat, mungkin.”

“Firasat, ya?” Namjoon menoleh kearahnya, ia hanya mengangguk sekali lagi, merasa situasi mulai serius.

“Menurutmu, comeback yang seperti apa nantinya yang akan aku kerjakan?”

Jennie nampak sedikit berpikir, jika dipikir-pikir sepertinya kakaknya akan membuat video yang penuh teka-teki, yang penting berhubungan dengan video musik yang dibawakan BTS sebelumnya.

“Masih lanjutan albummu kemarin, kan?” dan sekali Namjoon tertawa, kali ini sedikit renyah dan tak lupa tangan besarnya mengelus rambutnya, “kau ternyata sudah pintar, ya?”

“Jadi, selama ini kau menganggapku bodoh?” menyebalkan, kesalnya. Namjoon menggeleng, masih tertawa, tetapi setelahnya semua kembali sepreti semula, “kenapa kau bisa mengatakan kalau ini masih lanjutan dari albumku?”

“Karena Jin sunbae belum mendapat tempat, juga menurutku konsep-konsep dari albummu itu belum selesai. Aneh saja, kalian sudah punya album yang banyak tapi Jin sunbae belum mendapat tempat,” Namjoon terdiam sesaat, lalu tersenyum kecil. “Tebakanmu hampir benar, tapi soal Jin itu, dia sudah mendapat tempatnya meskipun sebagian.”

Pria itu mulai berbagi kertas yang sudah ia tulis sebelumnya, menjelaskan isinya, “kau tahu, sebenarnya ini adalah proyek panjang grupku, dan semua ini adalah konsep yang kita bikin bersama,” jelasnya menunjuk sebuah nama dengan alfabet, bukan hangul, BTS.

“Menurutmu, dari semua video yang diluncurkan di youtube, saling berkait tidak?” Namjoon meliriknya, seperti memancing pengetahuannya, dan beberapa ekon kemudin ia mengangguk.

Jennie mengambil sebuah pensil, mencoret-coret beberapa nama lagu yang ia tahu, “jangan pernah tanya aku tentang apa kaitannya, dimulai dari mana semua ini tercipta. Tapi, firasatku sih, semua ini berkaitan, mengikat satu yang lainnya hingga membentuk cerita.”

Namjoon tersenyum lebar, kali ini ia tunduk pada adiknya yang semakin pintar, “aku suka penjelasanmu.”

“Baiklah akan kujelaskan sedikit dari konsep ini, aku tidak mau spoiler kepadamu supaya kau semakin penasaran dan bisa menebak-nebak sendiri.”

TUK!

“Bilang saja kalau kau ingin menguji kepintaranku!” kesalnya setelah memukul kening Namjoon dengan pensil, pria itu tertawa, minta ampun. “Oke, dengarkan aku baik-baik.”

Jennie memperbaiki posisinya, semakin menjorok ke arah Namjoon, “ini adalah tentang kehidupan, kau pasti tahu itu kalau kau adalah seorang ARMY,” pria berpirang itu menjeda penjelasannya, menunggu respon apa yang diberikan adiknya atas kesombongannya, mungkin?

“Aku bukan ARMY tapi tahu urut-urutan videomu itu.”

Oke, Namjoon kalah.

“Memangnya kalau yang mau tahu soal konsepmu itu harus seorang ARMY?” tanya Jennie seolah-olah memojokkan kakaknya, Namjoon tertawa kecil, Jennie menanggapinya terlalu serius, “tidak juga, tergantung saja sih, kau terlalu sensitif, adikku. Apa kau merasa kalah dengan my group?”

Gadis itu berdecak, “untuk apa merasa minder dengan grupmu? Dalam waktu 13 hari saja aku mampu mendapat trofi,” ujarnya sombong.

“Wow…”

Jennie tersenyum kecil, “aku anggap itu sebagai pujian. So, bisa kita kembali ke topik semula?”

“Siap, tuan putri.”

Dan mulailah Namjoon bercerita soal konsep-kosnep yang ia pikirkan selama beberapa tahun terakhir. Jika temanya tentang kehidupan, Jennie menebak pasti tidak jauh dari keputusasaan, manusia yng belum punya arti tujuan hidup, atau semacamnya. Tebakannya mungkin benar, sejak namjoon sedikit menjelaskan tentang beberapa lirik yang sempat ia buat.

“Menurutmu, music video apa yang paling mengena?”

Jennie tampak sedikit berpikir, tetapi ia segera menjawab dengan mantap, “No More Dream?”

Namjoon tersenyum. “Aku suka jawabanmu, by the way, what your opinion about No More Dream?

“Dari liriknya sih, menurutku, tentang seseorang yang hanya menjalani hidup seperti air, hanya mengikuti alurnya tanpa melawannya.”

Namjoon berdecak kagum, eksperisnya berubah, “I like it, my sister!”

Setelah bertukar pikiran, pria Kim itu mulai menjelaskan lagi tentang konsep yang diusung. Tentang kehidupan, tentang tujuan manusia dilahirkan ke dunia, tentang perjuangan untuk diakui, tentang liarnya realita, tentang semua yang ada dari sudut pandang Kim Namjoon.

“Itu bukannya novel yang penulisnya Herman Hesse, kan?” Namjoon mengangguk.

“Untuk referensimu?” sekali lagi pria itu mengangguk.

“Aku pernah dihadiahi novel itu oleh Lisa, benar-benar keren,” tuturnya, sedikit spoiler tentang isi buku itu, tidak peduli apakah kakaknya sudha membaca atau belum.

Namjoon mengambil novel tersebut, menatapnya sejenak, “menurutmu, apa yang paling bagus dalam novel ini?”

“Apa saja?”

Namjoon diam, berarti iya.

Jennie tersenyum kecil, terngiang tentang sebuah penggambaran di dalam otaknya, “dalam sebuah waktu, ada siang dan malam, ada dua dunia yang berbeda, terang dan gelap.”

Namjoon menyukai jawaban dari adik kecilnya, tepat. “itu adalah penggambaran dari sosok manusia.”

“Tidak selamanya manusia bangga menjadi manusia.”

Mulutnya ia masukkan, dahinya berkerut, bingung apa yang dimaksud ucapan kakaknya tersebut.

“Kau pasti bingung dengan ucapanku tadi, kan?” seolah bisa membaca pikirannya, Namjoon menyiapkan sebuah kertas kosong, mulai menggambar disana. Terlihat siluet manusia dengan gambar apa adanya. “Anggap saja ini adalah manusia.”

Kemudian ditulisi beberapa kata disekitar gambar manusia tersebut. Uang, politik, jodoh, kepintaran, perbedaan, dan lain sebagainya, “ini adalah masalah-masalah yang ada disekitar kita.”

“Pada dasarnya, seorang manusia memiliki sisi baik dan sisi buruk atau gelap.”

“Sering kali kita melihat seseorang itu dari sisi baiknya saja, atau sebaliknya. Setiap manusia pasti mempunyai masalah sendiri. Dari masalah yang ia punya, bagaimana ia mengatasinya, apa ia bisa mengatasinya, atau tidak. Tergantung masalahnya dan tergantung orangnya. Aku ambil contoh permasalahan dari perbedaan.”

Sebuah garis lurus tercipta dari lingkaran yang membungkusi kata ‘perbedaan’. Diakhir garis tersebut, ditulisi sebuah permasalahan yang ada, seperti adanya orang Korea Utara di Korea Selatan.

“Sederhana saja, contoh, aku mempunyai teman yang asalnya dari Pyeongyang. Dia pindah ke Seoul karena tidak nyaman berada disana. Sah-sah saja orang itu pindah negara asalkan tujuannya bukan untuk memata-matai atau membahayakan negara yang ia singgahi. Tetapi, sampai disana, saat masyarakat sekitar tahu dirinya berasal dari Korea Utara, dia dikucilkan. Kalau di sekolah pasti di bully, hanya karena asalnya dari Pyeongyang. Bukankah itu tidak adil baginya? Di negara seberang hidupnya susah, tujuan pindah kesini hanya untuk mencari kesejahteraan, justru yang ia dapatkan adalah pengucilan. Hanya masalah kewarganegaraan saja, hanya masalah asalnya saja, semua menjadi serba salah baginya.”

Yang terpikirkan oleh Jennie saat ini adalah cerita dari Lisa, teman segrupnya. Lisa memiliki anugerah di kedua matanya, bisa melihat hal-hal tidak terlihat di sekitarnya. Berkat anugerahnya, dirinya sempat dikucilkan oleh sepupunya juga teman sepermainannya. Tetapi, setelah pindah ke Korea Selatan, hidup Lisa mulai berubah. Lisa tidak dijauhi lagi, bahkan anak kelasnya yang sempat dikucilkan kini mempunyai teman berkat Lisa. Bahkan Lisa bisa membungkam mulut pedas teman-temannya dulu di Thailand dengan prestasinya di grup bersamanya, Jisoo, dan Rose.

Sempat terngiang sebuah ucapan Lisa yang menyayat hatinya saat itu.

“jika sampai sekarang aku masih seperti itu, aku lebih memilih terlahir kembali sebagai hewan. Terserah, hewan apa saja, yang penting aku diterima dalam kelompokku.”

“Coba, jika orang tersebut mempunyai seseorang yang mau mendengarnya, pasti ia akan mengeluh dan ingin terlahir menjadi sosok yang lain, selain manusia.”

Jennie setuju dengan ucapan Namjoon. Jika ia terlahir menjadi orang yang diceritakan oleh kakaknya, ia lebih memilih menjadi semut, hewan kecil yang pekerja keras dan saling bergotong royong membantu sesama demi mensejahterakan koloninya tanpa rasa salah yang berarti.

“Kalau kau diberi kesempatan untuk menjadi apa, kau ingin menjadi apa?”

“Burung gagak,” jawab Namjoon mantap.

Kerutan di dahi menghiasi wajahnya, “kenapa burung gagak?”

Pria itu tersenyum miring, menegakkan kembali kepalanya, “karena menjadi burung, kita bisa terbang kemana saja tanpa harus pesan tiket, buat visa dan paspor. Dan karena menjadi gagak aku ingin menghilangkan persepsi orang tentang keburukan gagak. Gagak memang horor, tapi kesetiannya adalah nomor satu. Jika ada makanan, mereka saling berbagi, semua membantu dalam koloninya tanpa pamrih meski dicap sebagai burung pengantar kematian,” jelasnya dengan bangga.

Jennie takjub dengan pemikiran kakaknya. Seumur-umur, dia belum pernah memikirkan sejauh itu, sampai harus melakukan ‘penelitian’ terhadap kejadian yang ada di sekitarnya.

Seumur-umur, Jennie merasa untuk pertama kalinya Namjoon bersikap terbuka padanya.

Bukan tentang hobi, makanan apa yang paling enak se-antero Korea Selatan, hal apa yang paling dibenci, kejadian yang paling seru di grup masing-masing, atau curhat tentang kesulitan yang mereka alami selama ini. Tapi, hanya masalah sepele, hanya bertukar pikiran, hanya penasaran apa yang dilakukan Namjoon selama ini, selama beberapa tahun menghilangkan waktu bermain dengannya.

“Tapi, pada akhirnya kita tidak bisa mengubah takdir kita sesuai keinginan kita, kan? Tentang ingin terlahir jadi apa,” Namjoon mengangguk setuju. “Semua manusia pasti ada yang mencari jati diri dan menemukannya, entah dengan cara apa,” kali ini Jennie mengangguk setuju.

Namjoon mengembuskan napasnya, “mau tidak mau harus tetap menjalani hidup sebagai manusia, atau bunuh diri. Tapi, bunuh diri itu tidak baik,” Jennie terdiam sesaat.

“Kau tahu, kenapa manusia disebut sebagai makhluk sosial?”

Jennie mengangguk, ia tahu, “karena hidup manusia adalah saling membantu.”

“Setiap manusia pasti membutuhkan teman, sesamanya, untuk mencari jati diri mereka masing-masing, saling membantu.”

“Tetapi, aku bersyukur karena aku hanya diberi masalah yang bisa kuatasi dengan baik atau dengan buruk, setidaknya dari semua itu aku bisa belajar bagaimana mengendalikan apa yang ada disekitarnya, termasuk aku yang harus mengendalikan 6 karakter yang berbeda dalam grupku.”

Jennie sadar kalau mereka berdua adalah leader dari group mereka masing-masing. Masalah-masalah pasti akan menghampirinya kalau dirinya atau kakaknya tidak bisa mengimbangi di dalam group mereka masing-masing.

“Jangan sombong jadi manusia,” Jennie menoleh, bingung dengan ucapan kakaknya yang tidak ia mengerti apa maksudnya.

Namjoon tersenyum lalu menepuk pundaknya, “setidaknya kita bisa memahami orang-orang disekitar kita, peduli setidaknya, apalagi kau adalah the leader in your group,”

Setidaknya, Jennie paham dengan ucapan kakaknya yang terakhir dan sedikit belum paham dengan ucapan yang sebelumnya. Ia tahu apa yang dimaksud dari semua penjelasan kakaknya tadi, selama dua jam terakhir menyambut pergantian hari, ia tahu mengapa Namjoon selama ini ‘menghindari’ dirinya untuk beberapa waktu.

Karena dengan sederhana, Kim Namjoon hanya ingin menyampaikan pesan melalui karyanya,

bahwa seorang manusia butuh jati diri, bahwa manusia adalah makhluk yang saling membantu, dan menjadi manusia jangan pernah untuk sombong.

 

Ravenclaww~

September, 2016

Wings

 

The end.

 

N.B

Hanya sekedar pemikiran dari sudut pandang yang berbeda, i’m so sorry kalau ini semua melenceng dari seharusnya, just idea.

Iklan
(Oneshoot) Tentang Namjoon

2 pemikiran pada “(Oneshoot) Tentang Namjoon

  1. Aw kakak-adik yang manis sekali!

    Aku emg ga terlalu ngikutin bts tapi pesan yang disampaikan lewat ff kamu ini keren bgt. Banyak deh yg bisa aku pelajari terutama menjadi ‘manusia’. Goodjob! Ff yg punya pesan moral kayak gini nih yang harus sering muncul. Keren banget serius deh . And last, beruntungnya Jennie punya kakak kayak Rapmon :’)

    With love

    -saras ’00

    Suka

    1. dipeluk atuh kakak adiknya kalo emang manis :v
      duh, aku cuma pengen nulis gini aja sih dari kacamata yang beda , maksdunya pandangan yang beda. kalo di BTS nyampeinnya disana mereka lagi nyari jati diri saat masih muda, menurutku itu mereka lagi nyari apa makna mereka jadi manusia
      gue keknya sok banget ya :v tapi itu yang aku tangkep wokowokoooo
      KUIRI SAMA MBAK JENNIE SUMPAHHHHH :V

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s