Stomatitis Aftosa

 

tumblr_oa2nr3hynz1uk80h8o1_500“Jatuh cinta itu ilegal”

Langit cerah, angin sepoi, tidak banyak kendaraan yang berkeliaran, dan dia ada di sisiku. Adalah sebuah perpaduan yang terlihat menyenangkan, menghangatkan hati, membangun rasa senang, dan membuatku mampu melihat dunia dalam sudut pandang yang lebih cerah. Aku dan dia saling bergandengan tangan, hendak menjajah café yang menyuguhkan sepotong cheesecake dan secangkir cappuccino.

Sesampainya di sana, aku dan dia duduk berseberangan. Memperhatikan rahangnya yang lembut tengah menyunggingkan sebuah senyuman, matanya bersih dan cemerlang, juga hidung mancungnya yang membuatku jatuh cinta padanya saat pertama berjumpa.

Dia masih betah menggandeng tanganku, lalu tersenyum dengan lebar. Aku balas gandengan tangannya, tapi tidak dengan senyuman yang lebar. Belakangan ini ada keanehan dalam diriku. Entah sudah tak cinta lagi, atau ada faktor yang lain. Yang pasti, Jeremy tidak mendapat senyuman yang lebar dariku karena sebuah alasan yang mungkin sekarang tengah berputar-putar dalam isi kepalanya.

Sepotong cheesecake dengan dua cangkir kopi kini hadir di antara kami. Membuat gandengan yang semula terpintal erat mulai meregang tergantikan gandengan pada sebuah garpu kecil.

Aku dan Jeremy memang pasangan, tapi aku masih belum mengerti kenapa orang berpacaran lebih memilih satu berdua daripada memiliki masing-masing satu. Satu potong sendiri pun aku yakin tak kenyang, apalagi jika satu dibagi dua. Terlalu banyak gengsi untuk mereka yang takut terlihat gendut atau takut terlihat jelek saat sedang makan dengan lahap. Mungkin juga berlaku untukku, karena faktanya aku pun begitu.

Ini adalah sebuah adegan klise, di mana Jeremy mengangkat garpu kecil berisikan potongan kecil cheesecake lalu hendak menodong mulutku agar bisa mengikuti film-film yang banyak adegan saling suap-menyuapnya. Ya, aku akui itu klise, tapi ternyata cukup menyenangkan jika Jeremy yang berbuat begitu.

Aku sempat bimbang beberapa saat, antara tetap diam atau membuka sedikit mulutku yang nyeri. Namun, ini demi Jeremy! Sudah terlalu sering aku membuatnya kecewa, lebih baik kuturuti saja kemauannya.

“Aw!” Sedari tadi aku sudah mencoba untuk tidak berteriak dengan frontal. Namun setidaknya hal ini bisa membuktikan bahwa saraf refleksku masih cukup bagus.

“Kenapa, Jen? Apa aku menyakitimu?” Rautnya terlihat khawatir, persis seperti ibuku ketika aku pulang larut tanpa meminta izin terlebih dahulu.

“Uh, Jeremy… Sebenarnya aku tak mau membicarakan hal ini, tapi sebenarnya aku sedang sakit.” Terangku tanpa ingin mengatakan dengan sejelas-jelasnya apa yang terjadi.

“Begitukah? Haruskah kita pulang? Eh, tunggu. Ada krim di sudut bibirmu.” Tangannya hampir menggapai bibirku yang cidera sebelum aku tepis dengan kasar, walaupun niatku bukan mengajak bertarung.

“Uh-Uhm… Ada yang salah?” Ia terlihat kikuk. Aduh, Jeremy. Aku benar-benar minta maaf atas gengsiku yang amat tinggi. Padahal aku sudah merasa menjadi bagian dari koloid di udara yang melayang bebas sejak Jeremy mendapati dirinya bersikap romantis. Aku tidak tahu apa itu romantis receh yang biasa dikatakan gadis lain, mereka bilang Jeremy punya selera percintaan yang kuno. Tapi sungguh, dia terlihat memukau saat ini. Sebelum aku menepis tangannya dengan kasar, tentunya.

“Uhm… Begini… Ini sangat memalukan jika harus kujelaskan dengan benar. Intinya, kuharap kau tak lagi menyentuh bibirku. Aku sedang sensitif.” Serius, aku hanya bisa berharap Jeremy tidak memikirkan hal-hal aneh seperti aku fobia disentuh, atau bibirku bisa membuat tangannya lumpuh.

“Ayolah, Jennie. Semakin banyak alasan, pemuda itu semakin tertantang!” Ia berdiri, lalu membungkuk sampai wajahnya sejajar dengan milikku. Matanya bersih, cerah, dan memikat. Kulitnya halus bahkan dari jarak yang dekat. Aku semakin berdegup ketika aku sadar bahwa aku bisa melihat tahi lalat kecil yang ada pada hidung mancungnya dengan mudah. Kalau Tuhan segera mencabut penyakitku detik ini juga, aku tak akan menolak hal apa pun yang akan pemuda itu lakukan.

Ia mendekat, namun aku berpaling.

“Kurasa kita tak bisa terus begini, aku pergi dulu. Maafkan aku, Jeremy. Aku akan kembali saat aku siap. Kuharap kau mau menunggu.” Dengan sigap aku meraih tas kecil berwarna pink dusty yang ada di sebelahku, lalu beranjak pergi meninggalkan Jeremy yang kebingungan setengah mati.

Kalian harus tahu, jatuh cinta itu ilegal. Khususnya untuk kalian yang menderita gengsi tinggi dan juga sariawan.

Fin.

A/N : aaaaaaa so sorry kubaru bisa ngepost sekarang:( anw hope u like it guyss :))

Iklan
Stomatitis Aftosa

3 pemikiran pada “Stomatitis Aftosa

  1. 애린Park berkata:

    Ya ampun, Jennie gamau romantis-romantisan cuma karna lagi sariawan. Oke, ini seru. Kukira ada masalah serius, tp ya, sariawan itu jg serius. Hehe^^ biar cepet sembuh mah pake a**o**l, Jen. Dijamin ga perih.. 😀 #abaikan

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s