Legend : Death Forest

image

a fanfic by drixya

LEGEND : DEATH FOREST

with Lisa and others

Genre : Fantasy || Rating : PG-13 || Length : Vignette
I own nothing, but storyline and OC. Thanks to Ravenclaw for beautiful poster.


Hati Lisa hancur lantaranketiga kakaknya sudah—sebut saja tamat. Ia tidak sanggup barang sedikit untuk menoleh ke belakang, lalu menyaksikan lagi tubuh ketiga sosok—yang kendati tak sedarah dengannya, telah menjadi bagian berarti dalam hidup—tersebut tergeletak tak berdaya di antara dedaunan gugur dengan kondisi yang tidak bisa disebut baik-baik saja.

Ini salahnya. Salahnya yang selalu berdalih tak mau ‘mengotori tangan’. Nyatanya? Ia hanya seorang pengecut yang terlalu takut mati lantas berlindung di balik punggung ketiga kakaknya. Harusnya Lisa juga berdiri di sana, berjuang bersama mereka dengan tangguh. Bukan berusaha lari dan melepas tanggung jawabnya begitu saja.

Lisa bangkit. Meluruskan lagi tungkainya yang tertekuk lemas. Menghapus kasar jejak basah di pelupuk matanya. Ia tidak boleh lemah. Setidaknya untuk saat ini.

Manik kelamnya perlahan memudar seiring abu pekat yang mendominasi. Tatapan nyalang ia layangkan tepat pada sesosok wanita di depan sana. Wanita dengan gestur angkuh yang menatapnya remeh seolah Lisa hanyalah debu yang dapat hilang dengan satu tiupan halus.

“Ku sarankan untuk menyerah saja sebelum kau mati seperti para sampah itu.” Wanita tersebut berbicara biasa, namun suaranya terdengar seperti seseorang yang tercekik.

“Aku memang tak pernah menyukaimu bahkan sebelum kau terpilih menjadi Ratu, tapi tidak ku sangka kau semenjijikan ini, Veryl. Membunuh tiga Guardian sekaligus adalah suatu kesalahan besar. Kau akan diadili di hadapan seluruh negeri sebagai seorang pembunuh dan penghianat.”

Bukannya gentar, wanita yang Lisa sebut ‘Veryl’ tersebut hanya melakukan gerak menguap. Menganggap ucapan Lisa tak lebih dari sekedar omong kosong belaka. “Sayangnya tidak akan ada yang bisa mengalahkanku jika aku sudah memiliki ke-empat kekuatan utama. Earth, Air, Water, Fire.” Veryl bersidekap. Netranya memancarkan kepercayaan diri penuh.

Lisa menggeleng pelan. “Tidak akan bisa.”

“Kau pikir aku tidak tahu soal legenda itu? Aku tentu bisa,” Veryl menyeringai, “jika aku juga membunuhmu.” Kalimat tersebut berakhir seirama dengan geraknya yang secepat kilat. Berdiri tepat dihadapan Lisa lalu mencekik lehernya dengan kuat hingga tudung yang semula memayungi kepala Lisa jatuh ke punggung.

Hitamnya bertemu tatap dengan abu pekat Lisa yang dipenuhi kebencian. Gadis itu tak melawan yang berarti kemenangan semakin dekat dengan Veryl. Ia tertawa penuh rasa puas. Yang sayang harus pudar ketika dirasanya sesuatu yang teramat menyakitkan.

Pandangnya turun. Telapak tangan Lisa berada di sana, menyentuh bagian bawah lehernya. Hanya sentuhan tapi Veryl merasakan panas yang luar biasa di daerah itu. Semakin kuat ia mencekik Lisa, semakin panas pula yang ia rasa. Tubuhnya terpental beberapa meter ke belakang ketika ia berusaha melepas tangan Lisa.

“Apa yang kau lakukan?!” Veryl bertanya dengan marah. Merasa tak terima harga dirinya telah direndahkan.

Lisa tak serta merta menjawab. Ia raba lehernya yang pasti kini menjadi kehitaman karena cekikkan Veryl. Berbanding lurus dengan warna telapak tangan kanannya saat ini. Seulas senyum tipis tersemat pada paras Lisa. Menambah amarah Veryl.

“Sudah ku katakan padamu, Veryl. Kau tidak akan bisa mendapatkan empat kekuatan Guardian. Ketamakkan membutakanmu dari kebenaran legenda itu. Tidakkah kau tahu bahwa tiap kekuatan kami saling terkoneksi satu sama lain? Ketika kau mencekikku, aku hanya perlu menyentuh bagian yang sama, dan lihat? Kau juga merasakan kesakitan yang sama denganku.”

“Kekuatannya memang berada di dirimu tapi kau tidak dapat mengendalikan mereka sepenuhnya. Suaramu mirip orang yang tercekik, itu pertanda bahwa tiga kekuatan itu berusaha mendesak keluar dari tubuhmu. Sementara tidak sulit bagiku untuk mengendalikan mereka. Karena aku adalah Guardian. Pemilik asli kekuatan yang kau curi.”

Kini giliran Veryl yang menatap nyalang Lisa. Amarahnya semakin menjadi lantaran tiap patah kata Lisa yang seolah mengisyaratkan bahwa dirinya adalah si bodoh yang lemah. Tidak. Ia-lah yang terkuat di sini. Tak satupun yang boleh mengalahkannya.

“Tutup mulutmu! Kau akan mati ditanganku!” Veryl berseru keras selagi mengumpulkan jiwa api dari kekuatan milik salah satu Guardian.

Detik berikutnya, api besar keluar dari kedua telapak tangan Veryl. Menyambar segala yang disapanya. Sebelum tertahan oleh hembusan angin yang tak kalah besar dari api itu sendiri. Lisa-lah pelakunya. Berbeda dengan Veryl, Lisa mengendalikan anginnya dengan pikiran. Sebagaimana Guardian bekerja.

Dua elemen tersebut sama kuatnya untuk saling mendesak. Tapi energi Lisa sedikit lebih banyak terkuras. Sebab ia tengah melakukan hal lain secara bersamaan. Yang bodohnya tak Veryl sadari. Wanita itu terlalu sibuk dengan obsesinya membunuh Lisa.

Wajah Veryl seketika berubah sumringah begitu merasakan perlawanan Lisa yang kian melemah. Apinya semakin berkuasa. “Sedikit lagi,” gumamnya. Ia kembali mengumpulkan lebih banyak jiwa api. Dengan satu dorongan saja, maka—

Boom!

Suara ledakan menggelegar di seluruh hutan. Setengah dari hutan tersebut terbakar oleh api Veryl.

Sunyi mendominasi.

Selama beberapa saat tak terdengar apapun kecuali suara ranting yang patah dan napas memburu dari salah satu diantara kedua orang yang tadi bertarung. Keadilan seolah telah musnah dari dunia seiring sebuah fakta menyakitkan terpampang disana, tak jauh dari mayat tiga Guardian lain, tubuh Lisa tergeletak di tanah.

Tak ada pergerakan berarti dari Lisa kecuali helaian rambutnya yang sedikit tertiup angin malam. Dadanya tak lagi naik turun. Kulitnya memucat sebab ditinggal pergi pengisi raganya. Ya, Lisa telah mati. Mati terbakar jiwa api.

Bibir Veryl membentuk lekukan senyum kala netranya menyaksikan sendiri ajal sang musuh. “Kau terlalu sombong, Lisa. Lihat? Kini kau yang mati ditanganku.” Tawa Veryl pun tertarik ke udara. Mendominasi malam tragis di negeri damai tersebut.

“Sekarang, lihatlah kehancuran negerimu, Lisa. Akulah yang berkua—ARGH!”

Veryl terbatuk. Pupilnya melebar melihat darah hitam yang keluar dari mulutnya. Nyeri. Veryl merasa seluruh tubuhnya bagai ditusuk berkali-kali oleh ujung jarum. Tak seharusnya begini. Mestinya kini ia telah menjadi sosok paling sempurna dengan empat kekuatan utama yang tak ‘kan pernah merasakan sakit apapun.

“Masih tak percaya perkataanku?”

Deg.

Suara itu..

Ragu, Veryl menatap lurus ke depan. Pupilnya kembali melebar. Ada sosok yang ia kenal dua meter di depannya. Sosok yang ia kira telah ia bunuh.

“B-Bagaimana bisa?!”

Lisa disana meski tak lagi berdiri dengan raganya. Hanya cahaya biru yang membentuk sepersis tubuh aslinya. “Kau yang terlalu sombong, Veryl. Begitu bernapsu untuk membunuhku sampai tak menyadari sesuatu. Sesuatu yang berakibat fatal pada dirimu.”

“Apa maksudmu?” Tanya Veryl diliputi ketidak-terimaan. Meski sekarang ia tak bisa lagi berteriak seperti sedia kala.

“Aku akan berbaik hati menceritakannya sebelum kau mati. Selagi kau sibuk menyerangku, aku telah berhasil menguasai tiga kekuatan ditubuhmu. Aku membiarkan kau membunuhku. Karena dengan wujud seperti ini, lebih mudah bagiku untuk mengendalikan mereka. Kau pasti sekarang merasakan tiga kekuatan itu memberontak dalam tubuhmu, bukan? Tak butuh waktu lama sampai tubuhmu hancur dan keempat kekuatan akan kembali pada generasi Guardian yang selanjutnya.”

“Kenapa hanya kau? Kenapa ketiga sampah itu tidak bangkit juga, huh?!” Darah hitam kembali muncul dari mulut Veryl setelah ia berteriak. Nyeri itu semakin kuat. Bahkan kini tubuhnya tak bisa lagi ia gerakan.

Lisa menatapnya datar. Sejujurnya, hatinya marah setiap kali Veryl menyebut ketiga kakaknya dengan ‘sampah’. Namun ia tahu kemarahan tak dapat mati jika dilawan dengan kemarahan jua.

“Karena aku adalah Guardian terpilih .” Jawab Lisa.

Veryl kembali mendapat kejutan. Tak menyangka jika cerita tentang Guardian terpilih—Guardian yang memiliki kekuatan spesial lain—benar adanya.

“Tapi, bukankah itu artinya kau juga akan mati?” Tanya Veryl, lengkap dengan sebuah seringaian. Ia ingat dalam cerita tentang Guardian terpilih , kekuatan tambahan itu hanya bersifat sekali dalam seumur hidup seorang Guardian. Yang berarti sang pemilik kekuatan akan mati setelah kekuatannya terpakai. Fakta bahwa bukan hanya dia yang akan mati disini membuatnya senang.

“Memang, tapi tak masalah. Setidaknya jika aku sudah melihatmu lenyap dari dunia ini, kematian tak berarti apapun bagiku.” Tutur Lisa. Benar, kini ketakutan akan kematian dalam diri Lisa telah hilang sepenuhnya. Yang sialnya justru timbul karena wanita semengerikan Veryl.

“Cukup sampai sini bincang-bincangnya, Veryl. Mari kita mati bersama.”

Lisa menutup kalimatnya dengan satu tunjukkan pada jantung Veryl.

“ARGH!!!”

Darah hitam yang mengalir dari tubuh Veryl semakin banyak. Sedikit demi sedikit tubuhnya bak selembar kertas yang dilalap api. Bersamaan dengan wujud baru Lisa yang perlahan terkikis angin.

Hingga akhirnya, jerit kesakitan Veryl perlahan lenyap dan menghilang.

Kejadian tersebut menjadi pukulan terberat bagi kerajaan Omorfi. Dimana keempat Guardian dan ratu mereka mati dalam satu malam. Keempat Guardian dimakamkan dengan cara terhormat, seluruh negeri menangis untuk mereka. Sementara mayat sang ratu tak juga ditemukan, kecuali mahkotanya yang tergeletak dekat mayat Guardian Lisa.

Hal itu menimbulkan polemik dibanyak kalangan. Sebagian dari mereka percaya bahwa para Guardian-lah yang telah membunuh sang ratu dan berencana menguasai Omorfi. Namun dugaan itu terbantahkan. Guardian baru yang mendapatkan kekuatan angin seperti Lisa mendapat penglihatan tentang kejadian yang sebenarnya lalu menceritakannya di hadapan seluruh penghuni kerajaan.

Sejak saat itu cerita mengenai Guardian Lisa dan Ratu Veryl diceritakan kembali pada tiap anak cucu di negeri tersebut. Sebagai peringatan bahwa ketamakkan tak menghasilkan apapun dan keberanian melawan kejahatan adalah keberanian terbaik yang sejatinya dimiliki oleh siapa saja, meski dulunya kau seorang pecundang sekalipun.

Kini legenda tentang keempat Guardian tangguh dan pemberani yang melawan sang ratu yang tamak tersebut pun tetap hidup hingga saat ini di kerajaan Omorfi dan dikenal dengan sebutan ‘Legenda Hutan Kematian’.

TAMAT


Lama ga bersua sama fantasy
Moga ga begitu mengecewakan

Iklan
Legend : Death Forest

5 pemikiran pada “Legend : Death Forest

  1. 애린Park berkata:

    Lagi kangen sama Baby Lisa, dan begitu ketemu ini.. kok ya.. seru banget ceritanya. Saya suka, saya suka. ^o^) Bisa jadi contoh buatku yang lagi pengen nulis ff fantasy, tp gak tahu cem apa nulisnya. Thankyou utk ff kerennya.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s