And The Truth Is…

akhirnya debut mba jenyangnya krystal

Jennie Kim — Kim Jongin 

Ceritanya, Jennie Kim dan Kim Jongin adalah sepasang kekasih yang digilai oleh muda-mudi di kampus mereka — bahkan, cerita tentang mereka sudah menyebar hingga kampus-kampus lain.

Dan selalu saja ada yang berbisik iri, “Lain kali aku mau jadi seperti mereka, they more like my relationship goal.”

Tapi yang nampak di permukaan, bukanlah kisah yang sebenarnya, baby. 

Sekali lagi, semua sudah tahu kalau Jennie Kim dan Kim Jongin adalah sepasang kekasih, terkenal karena keromantisan mereka di sosial media, dan semuanya sudah tersebar hingga kampus lain sehingga banyak sekali muda-mudi yang berharap mereka bisa punya hubungan seperti itu — bahkan, sampai ada saja yang membuat fanbase di sosial media hanya untuk hubungan mereka yang romantis itu.

Memiliki seorang Kim Jongin yang tidak pernah mabuk-mabukan ataupun merokok (beberapa sumber di SMP-nya menyebutkan bahwa Jongin pernah ketahuan merokok satu biji di halaman belakang sekolah. Namun, setelah diselidiki, ternyata itu hanyalah jajanan permen yang bentuknya persis seperti rokok dari temannya yang berasal dari Indonesia), pria tampan yang selfie-nya selalu mencapai puluhan ribu likes (oke, ini sedikit mengibul. Followers Jongin tidak terlalu banyak, hanya sekitar 500 saja tapi semuanya sudah sepakat bahwa Jongin adalah satu makhluk ciptaan Tuhan terbaik di jagat raya), dan selalu merendah. Kemudian ada Jennie Kim, wanita periang yang sangat hits, bahkan followers-nya hampir mencampai 2 ribu — oke, siapa yang tidak tertarik untuk memiliki hubungan antar dua sejoli yang nampaknya–

“JONGIIIINNNN, SUDAH KUBILANG BUKAN, KALAU ADA JANJI, JANGAN TERLAMBAT MESKIPUN LIMA DETIK SAJAAAAAAA! KALAU ADA YANG LAIN LAGI, BILANG SAJA! TIDAK USAH BIKIN KESAL SEGALA!”

“BILANG ITU LAGI ATAU KUBONGKAR STATUS LAMA FACEBOOKMU, JENNIE KIM! BILANG ITU LAGI!” Jongin langsung melempar jaketnya sembari berlari ke arah Jennie. “I’m not your maid! Kalau mau cari pacar yang bisa disuruh-suruh, yang tipikal mau menggendong waktu jalan-jalan ke mal, lebih baik sewa saja pembantu!”

“Siapa yang memperlakukanmu seperti pembantu, Jongin si Penari Payah yang Hanya Terbuai Dalam Bayang-Bayang? Dan lagi,” Jennie menggoyang-goyangkan jali telunjuknya, “dont. You. Ever. Dare. Touch. My. Old. Facebook. Status. Paham?”

“Ooh, tapi aku pernah baca-baca kalau kau pernah ke sekolah lupa mandi dan–“

“JONGIN!”

“–DAN KAU PASTI JUGA MENGULANGINYA, JENNIE! KAU JUGA AKAN MENGULANGINYA!” Jongin terbahak beberapa saat kemudian. “Eh, tentu saja kau pasti akan mengulanginya — wajahmu itu setiap hari tidak pernah mandi, tahu?”

“Ok, ok. Tentu saja. Kau kan, bekasnya si Ratu Kampus itu,” Jennie memalingkan muka.

“Oooh, jangan bahas dia. Aku bisa-bisa terkenang masa lalu — beda denganmu, aku diajaknya main ke rumah dan tidak pernah jadi pembantu. You know, aku dilayani sampai malam! Tiga jam!” Jongin mengacungkan tiga jarinya ke arah Jennie. “Banyak makanan mewah dan filmfilm bagus yang belum kutonton di bioskop, dan itu semua lebih baik daripada kencan tiga puluh menit denganmu di bioskop yang hanya menonton film murahan. Menjijikkan.”

“Hih, tentu saja, seleramu kampungan. Dasar,” Jennie meleletkan lidahnya. “Seleramu payah, Jongin. Lebih baik aku putus saja denganmu.”

“Tentu saja, aku juga lebih baik putus denganmu daripada harus melihat fotoku diedit dengan stiker-stiker itu, Jen.” Jongin merasa ada yang salah dengan perutnya tiap kali melihat foto-foto antara dirinya dan Jennie yang di-upload di berbagai media sosial milik Jennie — ya, yang dimaksud memang stiker-stiker itu. Jongin memang membencinya karena itu membuatnya jijik dan, sedikit mual.

“Memang sengaja, biar orang-orang mengira kita relationship goals? Hum?” Jennie tersenyum menyindir. “And it’s fun to see people thinking that way, padahal sebenarnya aku cuma ingin sok-sokan saja di media sosial.”

“Oh, tentu saja. Kuharap kalau kita putus nanti, kau punya acara lain untuk merayakan kesedihanmu sendiri, Jen.”

“Baik, biar ku-upload quotes-quotes galau itu, padahal sebenarnya aku senang sekali merayakan keputusan kita. Oke, Jongin?” Jennie mengacungkan jempolnya. “Anyway, aku pulang dulu. Banyak hal yang harus kulakukan agar aku bisa disangka wanita hits instagram dengan followers jutaan ribu yang sudah tercentang biru. Oke?”

“Yap, dan jangan kembali lagi.”

“KAU BERHARAP AKU MATI?”

“Aku berharap kau pindah planet, Jen,” Jongin menatap sinis Jennie. “Sudah banyak perbuatan jahat yang kau lakukan padaku, mungkin pindah planet bisa membuatmu merasa lebih baik. Oke? Nanti kucarikan roket.”

Jennie mendidih.

Sungguh mendidih.

“OH, BAIKLAH, KALAU KAU MAU MENYURUHKU PINDAH PLANET?” Jennie mengguncang-guncangkan bahu Jongin. “TAPI, SEBAGAI BUKTINYA, KAU YANG HARUS PINDAH PLANET DULUAN. JANGAN PERNAH KEMBALI SEBELUM KAU MENJADI JONGIN YANG LEMBUT DAN RAMAH. OKE?”

“Oh, baiklah, kalau aku harus menjadi seorang Jongin yang Lembut dan Ramah aku akan meninggalkan planet ini daripada harus hidup bersamamu!” Jongin tersenyum meledek.

Jennie semakin mendidih. Jongin tersenyum lebar. Ada beberapa hal yang berubah darinya semenjak berpacaran dengan Jennie: kemampuan menghina sesama manusia.

Jongin masih tersenyum lebar melihat Jennie yang semakin mendidih. Hal yang berubah darinya lagi adalah, dia lebih menyukai pacarnya marah.

“Oh, oke, oke, oke… oke, oke Kim Jongin, oke,” Jennie berusaha mengontrol emosinya yang semakin membuncah. “Bagaimana kalau nanti aku cari Jongin lain di planet sana, lalu ketika aku kembali ke sini, aku akan bilang padamu sembari berkata, ‘Heey, Jongin! Lihat apa yang kutemukan? Kopian Tuan Kim yang lebih baik seribu kali darimu!’ Bagaimana?” ucap Jennie sembari tersenyum meledek.

“Oh, kau mau begitu? Baguslah!” Jongin menjabat tangan Jennie. “Terima kasih atas idemu, ya. Aku jadi terinspirasi untuk mencari Jennie Kim lain yang lebih tenang dan tidak suka membentak-bentak, jadi ketika nanti kau memperkenalkan kopian Kim Jongin, aku juga akan memperkenalkan kopian Jennie Kim — kopian super, Jennie! Kopian super!”

“BAIKLAH, KALAU BEGITU BAGAIMANA KAU MERASAKAN INI SEKARANG, JONGIN?” Tebat jaket merah marun yang Jongin letakkan di lantai tadi sudah melesat menuju wajahnya sepersekian detik. “DASAR KURANG AJAR! KATAKAN LAGI! INGAT SAJA, KALAU KAU MAU MELEDEKKU, AKAN KUCARI LAGI KATA-KATA LEDEKAN SEHINGGA NANTI KALAU KITA TERKUNCI DI KAMPUS, AKU BISA MENYALAHKANMU!”

Dan memang itulah kenyataannya. Pertengkaran selalu saja terjadi setiap hari, di tempat yang berbeda, dan dengan topik yang berbeda — apa yang mau ingin disebut relationship goals jika kenyataannya saja begini?

Terserah jika kau mau bilang menyedihkan. Toh, mereka juga tidak peduli. Jadi, jangan tertipu dengan pencitraan Jennie di sosial media. Tak ada yang berubah.

Malam itu, Jennie mengumpulkan gengnya di group chat instant messaging-nya, “Ketahuilah, kawanku, berpacaran dengan seorang Kim Jongin bisa merusak waktu, tenaga, pikiran… jadi siap-siap mental saja… ok.

Hal itu selalu saja terjadi. Setiap kali pertemuannya dengan Jongin, ending-nya dia langsung menceritakan pada kawan-kawan dekatnya di group chat milik mereka.

Ketiga temannya langsung menyambar dengan kalimat suportif, “That’s okay Jennie baby… kita semua pernah tertipu untuk pencitraan di waktu yang pertama, jadi bersabarlah“, “Be patient, baby. Semua pasti akan indah pada waktunya. Jangan khawatir!“, “Kami selalu ada untukmu, Jen. Jangan pernah merasa kalau semua menjauhimu jika kau mengalami hal-hal buruk, we love you forever.”

Jennie merasa lega.

Oooh, oke, terima kasih untuk semangatnya para gadis-gadis kesayanganku. Jadi begini, aku mungkin bisa saja mendumel ini-itu tentang Kim Jongin sampai dia benar-benar menjadi seorang penari di masa depan yang aku tahu itu pasti akan mustahil untuk orang besar mulut seperti dia… tapi,” Jennie melebarkan senyumannya tanpa sengaja, “tapi, kalau misalnya saja ada yang menyuruh putus, dengarkan sayangku, aku tidak akan putus dari Jongin. Kalau kau mau merasakan bagaimana rasanya dihina Jongin setiap hari, kau bisa ikut aku. Tapi jangan sekali-sekali minta aku putus, ya. Oke? Girl, kalian semua harus tahu kalau aku bisa kesal sekaligus senang dalam waktu yang bersamaan tentang pria jelek itu… oh ayolah, ini menarik sekali… pain is so close to pleasure, isn’t it?”

Sejenak, grup chat milik Jennie terhenyak beberapa saat.

Entah apa yang ada dalam pikiran Jennie. Apa yang…?

Di satu sisi, Ibu Jongin tengah mendapati bahwa anaknya membeli banyak kertas karton dan membongkar-bongkar album di kamarnya. “Kamarmu berantakan, Jongin! Cepat bereskan!”

Hari itu, Jongin ingin membuat sebuah scrapbook.

Disclaimer: Terima kasih untuk Kak Disi (@topkrisus) yang sudah menginspirasi dengan cerita pairing Kai x Jennie sebagai pasangan muda-mudi di ask.fm. Muehehehehehehe.

Iklan
And The Truth Is…

Satu pemikiran pada “And The Truth Is…

  1. Terkadang realita berbeda jauh dgn ekspentasi :v jadi keinget mantan njir (( seketika baper ))

    “Jongin adalah satu makhluk ciptaan Tuhan terbaik di jagat raya” GUA SETUJU BANGET BUAT YG INI ❤

    keren oey fic – nya :v

    keep writing~

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s