Whistle―Episode 01

whisper

a novel by amandzaty

Lalisa Manoban | Yuta Nakamoto (NCT 127)

supporting; Kupimok Bhuwakul “Bambam” (Got7) *mentioned

Supranatural | Mystery | Gore | School-Life | PG-15+ (violance)

Warning; AU! (Aternal Universe)

Yuzawa tidak setenang yang kamu bayangkan. Pergilah ke kuil, hanya Buddha yang bisa melindungimu.

Whistle Episode 01

Aki.

Orang Jepang menyebutnya begitu. Satu dari empat musim yang menyapa tahun-tahun mereka yang membina bahtera kehidupan mereka di negeri Sakura yang makmur. Disudut Timur-nya Jepang pun begitu. Di pegunungan dengan hawa sejuk yang tetap hangat.

Ialah Yuzawa. Tempat dimana semua harmoni kehidupan yang begitu sederhana mengalun lembut.

Meski dedaunan pohon maple yang mulai kecoklatan berserakan, Gyou-san agaknya bersemangat untuk membersihkan itu. Meski cucu kecilnya selalu kembali meluluh lantahkan dedaunan yang sudah terkumpul.

Gyou-san dia hanya seorang kakek dengan lesung pipit manis yang tinggal disebelah rumah Bibi-ku, Bibi Hinazawa. Kedua rumah yang berbagi tanah itu punya desain bangunan tradisional, betul-betul klasik. Dan aku sangat menyukai itu.

Seumur-umur aku tidak pernah merasakan sapaan angin sejuk pegunungan. Yang kudapat hanyalah asap-asap karbon yang kadang membuat kulitku berminyak dan berjerawat. Menyebalkan sekali. Tinggal di tengah-tengah Kota Bangkok yang tidak pernah tidur memang sangat menganggu. Terutama bagi pemburu ketenangan hidup sepertiku.

Oke. Itu juga yang jadi alasan paling sederhana kenapa aku yang orang Thailand bisa tiba-tiba berada di tempat kecil di Prefektur Akita, Jepang ini. Ingin kabur dari cerewetnya The Curuts yang selalu minta hangout ke Hawaii tiap libur semester akhir, utamanya adalah untuk mengasingkan diri dari amoniak yang menyatu dengan molekul udara pagi Bangkok yang panas. Tapi itu bukan alasan fundamental-nya. Aku kemari karena Bibi Hinazawa-ku yang malang membutuhkan bantuan. Wanita setengah baya itu kurus waktu aku pertamakali masuk ke genkan rumah kecil dari kayu jati impor itu. Papa yang katakan kalau kondisi Bibi memang kurang baik. Lebih-lebih beberapa penyakit penuaan, semacam rematik akhir-akhir ini menganggu aktivitas bertaninya.

Memang kami sudah jarang pulang ke Jepang. Kakek dan Nenekku yang di Jepang sudah tiada bahkan sejak aku masih kecil. Papa juga adalah putra tunggal Kakek, jadi dia tidak punya saudara. Sedang Bibi Hinazawa sendiri hanya sepupu yang Papa dapatkan dari persaudaraan Kakek-ku dan pamannya Papa-ku, Kakek Yamaguchi. Tapi Papa-ku itu orang baik. Dia tahu Bibi pasti sudah berulang kali jatuh, makanya ia menelepon rumah untuk sekedar bercurah hati. Pasalnya biasanya Bibi enggan menyusahkan orang lain. Tapi memang kehidupan Bibi tak semulus kebanyakan wanita. Ia harus kehilangan suaminya diusia pernikahan yang masih sebiji jangung. Kedua insan itu bahkan belum dikaruniai buah hati sama sekali. Bibi juga tidak ada niatan sedari dulu untuk melakukan pernikahan dengan pria lain.

Bisa dibayangkanlah. Dia mengurus rumah itu sendirian diusianya yang sekarang. Rematik kadang menyerangnya, dan tidak dijamin disetiap serangan Narumi-nee-san―menantunya Gyou-san memergokinya.

Kemudian dengan segala hormat setelah bercerita Bibi meminta putri bungsu Papa dikirim kesana sebagai hadiah. Dan jadilah aku disini. Berdiri di gerbang bambu rumah keluarga Gyou, demi menunggu Narumi-nee-san keluar bersama sepeda motornya. Aku pakai jaket karena takut sakit. Well, bagaimanapun juga udara di Bangkok dan di Yuzawa itu beda. Jaga-jaga saja. Aku masih seminggu disini, dan tidak ingin menyusahkan siapapun termasuk Bibi Hinazawa.

Ah, Narumi lama sekali,” suara serak khas kakek-kakek keluar dari mulut Gyou-san yang dalamnya sudah pakai gigi palsu itu. Heranya orang tua ini masih sehat. Berkali-kali lipat lebih bugar dari Bibi Hinazawa. Katanya orang ini sering sekali mengurus tanah sawahnya sendirian, makanya tulang-belulang dibalik kulit keriputnya yang coklat masih sekokoh pemuda.

Cucunya Gyou-san, putranya Narumi-nee-san bergelayutan di kakiku. Kepalayanya yang kecil mendongak. Dia berjinjit, dan bibir pulm-nya mengerucut kecil. Nama anak itu Haru, Narumi-nee-san bilang anak itu diberi nama sedemikian rupa karena dia lahir pada musim semi.

Onee-chan, kamu sangat cantik dengan seifuku ini,” cicitnya.

Senyumnya merekah lebar, setelahnya tawa dari sang kakek menggelegar, “Hey, Haru! Kamu itu masih kecil sudah pandai menggombal!”

Aku tertawa kecil, mengerti apa yang mereka ucapkan. Meski begitu tidak ada niatan untuk membuat muka malu, karena aku memang tidak mempan dibeginikan sejak dulu. Apalagi jika yang gombal adalah anak kecil yang baru berusia lima tahun macam Haru.

Haru mencibir kemudian mata bulatnya yang berbinar beralih pandang ke motor sang Ibu, “Oka-chan, cepat!,” kaki-kaki mungilnya berlari menerbangkan butiran pasir. Mendekat kearah Narumi-nee-san yang sudah berseragam dengan rapi.

Ohayou, Lisa-chan,” sapanya ramah.

Ohayou gozaimasu, nee-san,” aku membungkuk cepat.

Onee-chan! Cepat! Kita harus berangkat ke sekolah!,” pekik Haru antusias. Bocah itu bahkan sudah berada diatas motor. Tangan kananya mencengkeram blazer Narumi-nee-san erat, sedang tangan lainya mengepal keatas penuh energi. Aku geli sendiri melihatnya.

“Baiklah, preman kecil,” aku berlari kecil kearahnya. Kemudian setelah aku benar-benar duduk di kursi motor itu aku memeluk Haru erat-erat, “Ayo kita berangkat.” Pipinya memanas saat aku mencubitnya. Lucu sekali.

“Bagaimana? Bersih sekali ‘kan?”

Pandanganku mengedar menelisik tanah seluas satu hektar itu. Didepanku terhampar dengan luasnya lapangan upacara yang hijau. Kehangatan sinar mentari menambah efek lighthing super indah.

Inilah SMA Yuzawa. Sekolah binaan propinsi, tempat para orangtua menitipkan putra-putri mereka. Aku terkejut saat Bibi bilang aku diterima disini sebagai murid pindahan. Narumi-nee-san yang mendaftarkanku. Perempuan kelahiran 1986 itu yang katakan kalau aku diterima karena Bahasa Jepangku yang baik.

Narumi-nee-san tidak terkejut sih dengan kemampuanku itu, ia mengenal Papa-ku cukup dekat, dan sejauh itu pula dia tahu bahwa Papa pasti tidak akan menghilangkan bekas-bekas tanah kelahirannya. Dan memang begitu adanya. Papa-ku selalu mencintai tanah kelahiranya,  sehingga dia dengan baiknya membujukku untuk ikut kursus bahasa dan kultur Jepang selama tiga setengah tahun. Efek baiknya, aku jadi tidak terlihat seperti sedang nyasar saat diajak ngomong pakai Bahasa Jepang oleh orang Jepang asli.

“Ah iya benar, bersih sekali.”

Jauh dari ekspektasiku. SMA Yuzawa infrastrukturnya lengkap. Sekolah yang ada di sudut negara umunya tidak cukup baik soal infrastruktur, tapi ini semua benar-benar lengkap. Malahan ada tiga gedung. Satu yang ditengah, yang ada di seberang lapangan upacara. Satunya lagi masih terbuat dari kayu di sayap kiri, di depan lapangan basket yang hanya bernaung langit. Sementara gedung ketiga ada di belakang gedung pertama, gedung yang dipakai untuk melaksanakan mapel penjas indoor.

“Ayo, cepat. Ikuti aku ya.”

“Baik, Narumi-sensei.”

Dan begitulah aku mulai bersikap selayaknya siswi disekolah. Aku diberitahu sejak masih kecil untuk tidak membawa apapun dari rumah ke sekolah. Hal apa saja yang terjadi dirumah, tidak ada sangkut pautnya di sekolah. Harus profesional. Begitu-pun soal hubungan. Narumi-nee-san adalah tetanggaku. Tapi disekolah dia adalah seorang guru. Jadi embel-embel yang digunakan haruslah sensei.

Hanya saja aku sedikit khawatir dengan alas kakiku. Di hari pertama aku tidak sedang menggunakan alas kaki wajib SMA Yuzawa=pantovel. Aku justru pakai sneakers yang kubawa dari rumahku di Bangkok. Heol, boleh jadi diriku punya gudang dengan banyak rak sport-shoes dirumah, tapi untuk pantovel barang sepetak pun tidak akan. Aku benci suara heels-nya saat beradu, terutama dengan lantai keramik.

Mengabaikan masalah alas kaki, aku buru-buru menyusul langkah Narumi-nee-san. Ia dan aku berjalan dipinggir lapangan. Disusul banyak pasang mata yang mengamati tiap detail gerak-gerik kami―ralat, hanya aku saja.

Itu hal maklum, kodrati boleh dikata. Orang-orang asiatic mongoloid ini pasti mengernyit bingung atas keberadaanya sesosok ras lain ditengah-tengah mereka. Aku tidak yakin gen Kakek ada yang tertinggal di dalam diriku, setelah melihat Papa-ku yang wajahnya sangat Thailand sekali. Mungkin ada terlalu banyak gen turunan Nenek ditubuh Papa, sedang Kakek hanya menyumbangkan hidung dan postur tubuh tinggi untuknya.

Ngomong-ngomong, Yuzawa Koutogakkou.

Dari apa yang bisa kuamati, sekolah ini tidak seperti sekolah di Jepang pada umunya. Tidak ada rak-rak sepatu di pintu masuk. Jadi tidak ada yang namanya uwabaki. Mungkin itu sebabnya sekolah ini mewajibkan tiap siswa-nya menggunakan pantovel.

Di pintu masuk ada pertigaan. Pertama, jalan dengan anak tangga lebar yang naik ke lantai dua, dengan dua sub-anak tangga(?) di sisi kanan dan kiri. Kedua, koridor sayap kanan. Dan ketiga koridor sayap kiri. Kaki jenjang Narumi-nee-san berbelok ke sayap kiri. Ada beberapa lemari besar di dinding-dinding. Lemari itu punya banyak sekat persegi yang tertulis nama dari pemilik sekat tersebut. Untuk yang satu ini, sama seperti di Thailand.

Sejauh perjalanaku aku belum menemukan objek yang lebih menarik dari loker-loker besi yang masih terawat baik tanpa karat itu. Lagi pun nee-san juga tidak berbasa-basi ria. Wanita itu hanya melangkah dan melangkah tanpa sedikit pun mengeluarkan suara, kecuali jika beberapa murid menyapa dan bertanya ‘gadis yang berjalan dibelakang anda siapa?’. Dan nee-san yang sabar nan baik hati pasti akan melihatku kemudian menjawab, ‘teman baru kalian’.

Ohayou gozaimasu, Narumi-sensei!

Sebuah suara yang dalam menyapa Narumi-nee-san. Nee-san tersenyum kemudian menepuk bahu sang pemilik suara. Aku menelisiknya. Karena entah bagaimana aku tertarik pada objek antimainstream ini.

Hanya perasaanku saja, atau dia memang terlihat tidak umum meski wajahnya benar-benar seoriental orang Jepang. Rasa-rasanya ada aura yang berbeda, seperti dia mengeluarkan banyak sekali cahaya cerah. Dia adalah orang kedua yang punya keunikan seperti itu setelah Bambam―anggota The Curuts, gengku.

Hebatnya anak ini mengecat rambutnya full dengan warna coklat dan membiarkan itu terurai panjang sampai menutupi telinganya. Dia melakukan itu pasti untuk menutupi dua benda silver yang menggantung di cuping telinganya. Dan poninya yang panjang sampai ke mata itu pasti untuk menutupi luka memar didahinya, tapi sayang plester dihidungnya tidak bisa untuk tidak terlihat.

Sensei, siapa dia?,” dia berbisik, tapi aku masih bisa mendengar suaranya.

“Teman barumu, kukira kamu sudah dengar kalau akan ada murid baru?,” sahut Narumi-nee-san dengan suara yang ikut dikecilkan.

Aku mendengus. Hey, kalian kira aku tidak mendengar itu?

Eh? Benarkah? Aku bahkan tidak tahu kalau akan ada murid baru,” dia masih tetap dengan volume audio-nya, tidak tahu kalau telingaku tidak sebudeg itu.

Mata rusa-nya sesekali melirikku tenang, merasa kalau aku benar-benar tidak mendengar mereka. Dengan perawakanku yang tenang maklum saja dia bisa seyakin itu.

Sensei? Kita tidak ke kelas,” aku membubarkan mereka.

Narumi-nee-san terkejut. Terlihat dari pergerakan kilatnya berbalik ke arahku, “Ah, gomenne Lisa-chan,” balasnya cepat, “Ayo, segera ke kelas. Kamu juga Nakamoto-kun.”

Ie, aku akan main ke lapangan basket, Matsuoda-kun, dan yang lain pasti sudah menungguku. Ja, mata ashita, Narumi-sensei !”

Dia melangkah pelan. Tidak ada suara pantovel yang memekakan telinga, sampai aku sadar dia benar-benar berandalan karena menggunakan sneakers. Maksudku, dia pasti sudah tahu larangan menggunakan sneakers ke sekolah ini ‘kan?

Tubuhnya yang tegap berisi berjalan ke arah berlawanan dariku. Kemudian saat aku menggunakan ekor mataku untuk melihatnya sekilas, aku malah membuat perasaan aneh dalam diriku sendiri karena tatapan kami sempat bertumpuk.

Tapi entah kenapa, dia seperti melakukan sebuah telepati lewat tatapan irisnya yang sehitam jelaga.

Yuzawa tidak setenang yang kamu bayangkan. Pergilah ke kuil, hanya Buddha yang bisa melindungimu.

-TBC-

p/s : ngahaha :v jadi inilah chap 1-nya. Well, pasti garing. Kan belum apa-apa :’v terus-terus maaf kalau genre-nya sedikit berat. Dan juga apaan ratingnya 15+ padahal yang bikin masih belia. Tapi rating tinggi-nya cuma untuk kekerasan yang mungkin akan terjadi. Ana tidak mau anak-anak kecil membaca jika belum cukup umur. Nanti mereka ketularan psycho kek saya :’v

Dan, plis jangan panggil aku ‘thor’ aku punya nama *garuk pinggang Mino. Jadi gantilah panggilan ‘thor’ menjadi dza. arasseo? :3

Btw, makasih dah baca. love y’all ❤

Iklan
Whistle―Episode 01

8 pemikiran pada “Whistle―Episode 01

  1. HAI DZA! aku emang tunggu fic kamu yang ini ahehehe

    nice sekali plotnya, penggambaran suasana yang kamu buat bener-bener jepang banget, mulai dari musim sampai budaya profesionalnya. btw, angin musim gugurnya kerasa sampai sini wkwk. Ga bisa ngebayangin deh Lisa pakai seragam kiyowo ala jepang dan ketemu mas Yuta yang jadi orang-jepang-asli-tanpa-korea-koreaan /?

    Oh ya dza, kalau boleh beri masukkan, fic kamu ini banyak kata-kata jepang yang nggak diterjemahkan. Well, It’s okay, Dza, aku tahu dan ngerti itu bahasa jepang dasar tapi ga semua orang ngerti itu, oke? setidaknya kasih footnote di akhir biar nggak merusak tulisannya dan semua orang ngerti apa yang kamu maksud 😀

    AKU TUNGGU YA. SARANGHAELAH DZA FICMU INI ❤

    -saras,00line

    Suka

    1. HAIIII KAK SARAS❤
      yaawoh pake ditunggu segala, arigato… *membungkuk
      HEHEHE, aku juga rada gimana gitu pas ngebayangin MbaLisa pake seifuku wokokok :v dan Mas Yuta juga rada gimana gitu ngebayanginya dia pake gakuran. Bukanya ngebayangin MasYuta malah Mas Genji😄

      ah iya itu, aku lupa. Aku lupa ini tempat fanfic koria-koria-an bukan jejepunan :’v jadi aku engga ngasih footnote. makasih udah ngingetin :3

      BTW, MAKASIH UDAH BACA T^T aku sampai terhura *sisipaketisu

      NADO SARANGHE KA SARAS❤

      Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s