[Vignette] Dear, Lalice

dl

Dear, Lalice

written by amandzaty | main casts blackpink’s lisa & nct’s yuta | supporting cast got7’s bambam (mentioned)  | genres friendship, angst, sad | rating T | lenght vignette (1000+ words) | disclaimer i just own the plot

(xxx)

Dan yang terakhir,

I just wanna tell that; i love you so much, Lalice.

(xxx)

note : asik lo kalo kalian baca sambil ngedengerin Isyana Sarasvati – Tetap Dalam Jiwa

(xxx)

(xxx)

Dear, Lalice.

Hai, cewek Bangkok. Apa kabar? Lama banget kita nggak ketemu, kangen banget.

Aneh ya? Aku bukanya apa, malah ngirimin kamu surat. Habisnya android-ku rusak. Sementara aku di Korea juga enggak punya temen yang pas untuk dipinjam ponselnya. Kan enggak lucu aja, kalau seorang inspektur pinjam android anak buahnya cuma untuk chatting-an dengan orang yang tidak jelas siapa-sipanya.

Sangat sesuai perkiraanku. Kalau Lalice yang sama yang membantuku mengungkap kasus Yamazaki Kento, sekarang menjadi psikolog. Terlebih kamu dapat gelar psikolog nomor satu di Bangkok. Itu keren sekali. Berterimakasihlah padaku. Kalau saja aku tidak menyeretmu masuk ke kasus pembunuhan berantai disekolah kita, kamu mungkin enggak akan dapat penghargaan. Aku yakin penghargaan itu banyak membantumu dalam meraih gelar itu ‘kan?

Ngomong-ngomong, aku mengirim surat ini gara-gara SNS-nya Bambam. Dia nge-post kamu sama dia lagi foto gitu di butik. Caption-nya bilang, kalian lagi cari baju pengantin. Aku excited banget, ternyata ada cowok yang mau sama kamu? Terlebih lagi itu Bambam, komikus receh kaya dia. Kamu enggak kasihan sama dia ya? Nanti dia makin kurus gara-gara banting tulang supaya penghasilanya jadi lebih gede daripada penghasilanmu.

.

Tapi ini bukan inti dari surat ini.

Jadi begini. Aku punya sebuah rahasia. Rahasia itu sudah kurahasiakan dari banyak orang selama bertahun-tahun. Termasuk juga dari kamu.

Silahkan kalau kamu marah, kamu boleh kok nyobek surat ini terus kamu buang. Kita sudah janji enggak saling menyembunyikan rahasia. Soalnya aku enggak bisa ngomong tentang ini ke kamu waktu itu. Bisanya baru sekarang.

Jadi sebelum kamu membaca paragraf mengenai rahasia itu. Please, jangan dibuang dulu.

Serang waktunya ngasih tau kamu soal rahasiaku. Oke, jadi rahasia itu ada tiga;

Pertama. Kamu inget enggak? Waktu kita di Tokyo pas school-trip? Aku pernah nyium dahi kamu sambil bilang  kalau kamu itu cewek dengan kepribadian paling unik yang pernah aku kenal. Aku tidak sedang bergurau waktu itu dan sapai detik ini pun susah sekali nyari yang kaya kamu.

Kedua, aku sayang sama kamu.

Dan yang terakhir,

I just wanna tell that; i love you so much, Lalice.

Hehe. Kalau kamu mau muntah atau ketawa silahkan saja.

Tapi kamu harus percaya. Aku serius 🙂

Aku enggak bilang ini ke kamu dari dulu, karena aku tahu kamu pasti suka sama Bambam. Selain itu, aku juga enggak tahu apa kita masih bisa jadi teman kalau seandainya kamu tahu tentang ini. Jadi aku diam, dan fokus ke kasus kita.

Terlambat ya aku ngasih taunya? Ya pastinyalah, orang kamu udah mau nikah sama Bambam. Tapi, kamu harus tau Lalice. Nakamoto Yuta-mu ini selalu bahagia dengan apapun pilihanmu.

Aku cuma mau berpesan. Katakan ke Bambam, kalau Inspektur Nakamoto Yuta bakalan matahin tulang lehernya kalau sampai dia berani nyakitin kamu.

Sudah ya? Semoga enggak kepanjangan. Dan, Maafin aku ya 🙂 yang telat ngasih taunya.

From your bestfriend, Nakamoto Yuta.

(xxx)

Lalice menutup mulutnya dengan tangan yang telah tersemat disana sebuah cincin pernikahan. Dia baru saja menilah, tapi dia malah mendapat berita.

Sebuah berita yang menjadi alasan utama kenapa dia ada disni sekarang. Membaca surat terakhir, dari seonggok tubuh yang terbaring diruang ICU. Tidak jelas statusnya masih hidup atau sudah mati. Lalice hanya tidak ingin membayangkan pria itu akan pergi begitu saja. Terlebih lagi surat ini, Lalice butuh mendengar penjelasan langsung dari sahabat semasa SMA-nya itu.

“Bambam!,” Lalice berteriak. Ia mendongak memamerkan make-upnya yang luntur karena tangisannya, “Kenapa kamu enggak langsung ngasih surat ini ke aku?”

Dan orang yang namanya diteriaku hanya bisa diam, dengan wajah tertunduk.

“Aku enggak tahu aku harus gimana sekarang. Aku merasa aku sudah jahat banget sama Yuta. Aku juga sayang sama dia,” kali ini suara yang kelua dari pita suara Lalice terdengar parau. Dia duduk sementara kepalanya mulai menunduk dalam.

Bambam tidak bisa hanya diam saja. Dia menghampiri wanita yang sangat dia cintai itu. Lalu direngkuhnya tubuh kurus berbalut  menggenakan gaun pengantin itu, “A-aku sayang sama kamu, Bams. T-tapi a-aku..,” Lalice tersedu. Air mata yang keluar dari matanya mungkin sudah berliter-liter.

“A-aku enggak yakin bisa hidup tanpa Yuta, Aku enggak bisa.”

Bambam mengelus puncak kepala Lalice, “Aku enggak sanggup kehilangan Yuta sekarang.”

Isakan tangis Lalice tambah menjadi. Seperti film, semua kenanganya bersama Yuta berputar kembali dalam otaknnya. Dari, pertama mereka bertemu. Sebuah kasus mengerikan yang membuat mereka akhirnya bekerja sama. Hari saat untuk pertamakalinya Yuta tersenyum, membuat hidung ceper berplesternya jadi tambah terlihat besar. Bahkan diputar juga sebuah kejadian yang selalu Lalice anggap sebagai angin lalu. Dimana saat school-trip kelas dua ke Tokyo, Yuta memberikan sebuah ciuman didahi.

Hari ini Lalice tahu dia salah melupakan kejadian itu. Tapi nasi telah menjadi bubur.

Sudah terlampau terlambat untuk menyadari perasaan macam apa yang ada dibalik ciuman itu. Karena orang itu, yang sekarang sudah jadi Inspektur di Kepolisian Korea Selatan. Mungkin saja Tuhan akan mengambilnya dalam beberapa jam kedepan.

“Lalice, aku enggak janji Yuta bisa tetep bernapas kaya kita,” Bambam berbisik pelan, “Yuta itu―,”

“Aku tahu kok,” potong Lalice, “Aku tahi isi perutnya udah hancur. Aku tahu kalaupun dia bangun, enggak butuh waktu lama sampai dia benar-benar pergi. Tapi tolong, jangan ingatkan kenyataan itu padaku,” bulir-bulir air mata kembali jatuh membasahi pipi wanita itu.

Lalice mendongak, menatap mata Bambam yang sendu. Bambam bisa melihat betapa banyak rasa sakit di manik hazel itu. Manik yang tak pernah menangis sampai bengkak untuk dirinya, “Bambam, aku sakit. Aku sakit karena enggak bisa menyadari perasaan itu sejak lama. Aku sakit karena aku baru tahu soal itu sekarang,” racau gadis itu.

“Yuta emang bego! Baka, baka..,” Lalice bahkan tidak kuat untuk sekedar mengumpat, “.. Yut, please. I need you,

don’t leave me.”

Lalice menyentuh kaca bening yang menjadi satu-satunya sekat antara tempatnya sekarang dan ICU tempat Yuta berbaring. Ketika dia tahu detak jantung itu semakin lemah, Lalice menutup matanya.

Dia tidak bisa.

Sungguh, dia tidak kuasa melabeli surat yang masih ada digenggamanya itu sebagai surat terakhir dari Yuta. Lalice tidak bisa.

“Kumohon, buka matamu, Yuta. Buka matamu untukku..”

Tapi apa daya. Tubuh itu hanya bisa berbaring. Tanpa bisa mendengar semua yang dikatakan Lalice. Bahkan, pemiliknya mungkin sudah lupa pernah menulis sebuah surat untuk gadis yang ia cintai―ah bukan, tapi sangat, sangat dia cintai.

FIN

p/s : aku bahkan nangis pas bikin. Salahkan senyum indah mereka berdua! yang bikin saya pengen ngeliat mereka nangis barang sekali *gebukin :’) maaf juga kalau kalian menemukan typo. btw, ini ff pertama yang aku post disini, maaf sekali menyematkan cowok jepang dalam cerita ini :’v, mohon maklumilah saya yang fangirl

 

Iklan
[Vignette] Dear, Lalice

2 pemikiran pada “[Vignette] Dear, Lalice

  1. Sial,ini terlalu Sad buat di baca.
    Ini yg bego Yuta apa Lisa? Seandainya Yuta lebih cepet bilangnya klo dia cinta ama Lisa…..
    Aih gak ngebayangin gimana perasaan lisa setelah Yuta pergi.
    Pasti nyesel bangeeeet…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s