Big Girls (Don’t) Cry

Black-Pink-Girls-Group

by Tamiko

Drabble-Mix | Blackpink | G

.

.

[Break up]

Jennie melongo membaca pesan dari Hanbin yang ternyata sudah dikirim dari dua hari lalu. Dia baru kembali dari kampus malam itu dan memutuskan untuk mengecek ponselnya karena Hanbin belum menghubunginya sejak kemarin. Sama sekali tidak menyangka akan berhadapan dengan pesan seperti itu malam-malam begini.

From : Bin ❤

Jen kurasa lebih baik kita putus saja.

Hanya itu isi pesannya. Begitu singkat dan jelas. Dan langsung menempatkan Jennie dalam mood buruk. Rasa lelahnya seperti bertambah berpuluh kali lipat dalam hitungan detik.

To : Bin ❤

Sbb. Knp?

Pesan balasan dari Hanbin datang hanya dalam selang beberapa detik.

From : Bin ❤

Capek.

Jennie masih menunggu balasan selanjutnya setelah itu, menunggu penjelasan lebih panjang dari Hanbin mengenai usulan tiba-tiba untuk putus itu. Tapi pesan itu tidak pernah datang. Jadi Jennie dengan kesal langsung mengetik balasan lagi.

To : Bin ❤

ok

Begitu saja, akhirnya kisah asmara Jennie dan Hanbin yang sudah terjalin selama tiga tahun berakhir. Dan Jennie sama sekali tidak menangis malam itu. Mungkin matanya sedikit berkaca-kaca dan dia makan lebih banyak junkfood dari biasa, tapi dia sama sekali tidak menangis.

.

.

[Mom?]

Hari ini selagi sedang berselancar di Tumblr Rose membaca sebuah trik dan langsung mempraktekkannya.

“Kalau kau mengiris bawang sambil mengunyah permen karet, kau tidak akan menangis.” Begitu kata post itu.

Jadi Rose dengan segera berlari ke dapur untuk membuktikan kebenaran trik itu. Dengan semangat berlebih, dia mengeluarkan beberapa siung bawang — tidak lupa mengambil permen karet dulu dari kamarnya — lalu mulai mengiris bawang itu. Dan boom! Matanya tidak terasa pedih dan dia sama sekali tidak mengeluarkan setetes pun air mata.

Saat ibunya pulang dari kantor sore itu, Rose dengan ceria berkata “Ma, hari ini aku memotong bawang dan sama sekali tidak menangis. Tebak kenapa!”

Nyonya Park, tanpa mengalihkan mata dari telepon genggam di tangannya berkata dengan dingin “Karena hatimu itu sekeras batu dan kau sudah mati di dalam.”

Rose hanya melongo mendengar jawaban sang Ibu.

.

.

[Too late]

Lalu Lisa berjalan di bawah hujan. Kata-kata Kak Yunhyeong masih terngiang jelas di kepalanya.

“Mereka sudah menutup pendaftaran sejak dua hari lalu. Kenapa tidak mengumpul berkas dari kemarin?”

Padahal Lisa sudah bekerja keras menyelesaikan lukisan untuk lomba itu. Sampai hampir tidak tidur tiga hari tiga malam hanya untuk menyelesaikan masterpiece ini. Serius. Ini adalah salah satu lukisan terbaik Lisa dan dia sudah benar-benar berpikir kalau kali ini dia pasti akan memenangkan lomba melukis paling bergengsi di kampusnya. Dia sudah tiga kali berturut-turut hanya mendapat predikat terbaik kedua dan ketiga. Tapi tahun ini berbeda, orang yang biasanya ada di posisi pertama sudah tidak ada di kampus lagi dan sudah pasti Lisalah yang akan mendapat kehormatan itu tahun ini. Bahkan Jennie dan yang lain juga bilang kalau mereka yakin kali ini Lisa akan menjadi peraih hadiah pertama. Siapa sangka dia malah lupa mendaftarkan berkasnya sehingga tidak bisa turut serta dalam lomba.

Jadi Lisa dengan kesal membuang lukisan yang tidak berguna lagi itu ke tempat pembakaran sampah di belakang kampus. Dia tidak benar-benar ingin membuangnya, hanya untuk melampiaskan kemarahan sesaatnya saja. Tapi kemudian hujan lebat turun dan lukisannya langsung tidak berbentuk lagi. Kerja keras selama sebulan terakhir sia-sia sudah. Lisa menggigit bibirnya menahan tangis yang hampir pecah. Dan segera berlari dari tempat itu.

Sambil berjalan di bawah hujan, Lisa meyakinkan dirinya kalau yang mengalir di sepanjang pipinya sekarang adalah rintik hujan, bukan air mata.

.

.

[Big girls do cry]

Jisoo melihat Jennie, Lisa, dan Rose duduk termenung. Sebagai yang paling tua, dia merasa wajib menghibur tiga adiknya itu.

Girls kalian ini kenapa sih? Lesu sekali.”

Jennie dan Lisa menatap nyalang pada Jisoo begitu pertanyaan itu meluncur dari mulutnya. Seolah berkata ‘masih berani tanya?

“Ups.”

“Mamaku sepertinya merasa kalau aku ini anak perempuan yang tidak punya perasaan.” Kata Rose seraya menghela napas. Masih merasa terkhianati dengan reaksi ibunya perkara mengiris bawang tanpa menangis.

“Sudahlah, malam ini kita nonton saja yuk. Aku tadi pinjam film ini dari Bobby.” Kata Jisoo sambil menunjukkan DVD yang dipinjamkan pujaan hatinya itu dengan bangga.

“Itu kan film lama.” komentar Jennie seraya memutar mata begitu melihat cover film Titanic di tangan Jisoo.

“Biar saja, yang penting dari Bobby.”

Jadi mereka berempat mulai menonton.

Setelah sepuluh menit melihat film jadul itu dalam diam, Lisa akhirnya memecahkan keheningan mereka dengan nyeletuk ringan “Ngomong-ngomong sudah tahu kalau Bobby jadian dengan anak sastra itu?”

“Serius?” — Jisoo, Jennie, dan Rose.

“Yap. Bobby berani sekali ciuman di halte depan kampus dengannya.” — Lisa

Malam itu mereka berempat menangis keras-keras di apartemen Jisoo. Satu karena Jack meninggal dengan menyedihkan, tiga lagi karena alasan yang sama sekali tidak berhubungan dengan film maupun kapal itu.

 

 


A/N:

Aku terlalu excited akhirnya Blackpink debut

Udah, itu aja xD

Iklan
Big Girls (Don’t) Cry

5 pemikiran pada “Big Girls (Don’t) Cry

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s