D-Day

large

[You hold me without touch, you keep me without chain]

Rose | Kai

© syongbaby


 

Dia sadar tak seharusnya melakukan hal ini. Rose diapit keraguan yang hanya  menghasilkan sebuah kesia-sian kemudian meremas stir mobil kuat yang ia tahu tak akan membantunya mengambil keputusan. Rose berdiri di dua sisi; penyesalan dan sakit hati. Ini tentang masa lalu dan sebuah permainan hati, dimana ia hanyalah pemain kedua–dibutuhkan tapi tak begitu berarti.

Sekali lagi, melakukan hal yang sama diiringi sebuah ringisan.

Benz hitam yang ia kendarai terparkir sempurna di pekarangan restauran sementara si Empunya masih tenggelam dalam ragu. Berada dia perbatasan antara keluar lalu bertemu si Masa Lalu atau pergi dari sana dengan membawa sebuah penyesalan, keduanya saling tarik menarik dengan Rose.

Sampai Rose menyadari ketukan ringan dan senyuman Kai datang beriringan dari sebelah kiri, membawa detak jantungnya hingga di atas rata-rata. Ada sebuah getaran yang Rose rindukan, seolah bertemu pandang dengan si Masa Lalu melempar jiwanya ke waktu dimana segalanya pernah baik-baik saja.

“Apa aku harus menjelaskan detilnya? Kubilang di restauran, bukan di pelataran parkir.” Garis rahang yang semakin tajam menandakan betapa kurusnya ia, selebihnya tak ada yang berbeda di bagian tawa, seperti dalam ingatan. Mengitari mobil dan duduk dengan santai di jok samping, gerakan khas dirinya.

Salahkah jika ia ingin menyuruh Kai keluar? Dengan membagi atmosfer yang sama tak akan mengubah apapun, berada satu mobil tak akan sebahagia dulu. Kai berubah, begitu juga ia. Dan akan tetap seperti itu entah sampai kapan.

Kai seharusnya tahu semua telah berubah, tak lagi sama, tapi seharusnya juga ia tahu hati Rose tak berubah semudah dirinya pergi.

Long time no see, Rosie!” Sapaannya ceria, tanpa beban. Rose enggan memberi atensi, hanya membuang muka keluar jendela, memberi setitik rasa bingung untuk Kai. “Rose, kau tak mau menyapa kekasihmu? Atau sekedar ‘hai, bagaimana cuaca di Swedia?’?”

Ada sakit yang berdenyut di dada kala kata yang ingin ia hindari tersebut dengan sengaja, menyeruak keluar pula amarah yang terpupuk sejak kepergiannya ke Swedia, Rose seperti bisa meledak saat itu juga. Memutar mata kesal sembari menggigit bawah bibir, ia menepuk stir kasar.

“Kekasih katamu?” Decihan meluncur bebas. “Setelah setahun tanpa kabar kau masih memanggilku kekasih?”

Rose menyadari raut Kai berubah namun bermasabodoh dengan segala reaksinya–Kai sudah keterlaluan. “Lalu kau menelponku tadi pagi untuk bertemu. Apa kau memikirkan betapa terkejutnya aku, apa kau merasakan yang aku rasakan? Kutebak, tidak! Benar begitu, Tuan Fotografer?”

Air matanya merebak tetapi Rose enggan membebaskannya, biarkan ia menyelesaikan apa yang telah ia mulai tanpa hambatan.

“Selama satu tahun aku menunggu sia-sia untukmu. Untukmu, Kai! Kau–”

“Kau merindukanku, don’t you?”

And you’re not, right? Silahkan pergi dari sini, hubungan kita sudah berakhir.” Sebulir, dua bulir, lalu menjadi sungai kecil di pipi. Rose menangis tanpa bisa ia cegah, menampilkan kelemahan di hadapan sang Mantan yang tak kunjung memberi reaksi.

Kalau boleh jujur, sampai ia mengatakan kalimat pamungkas itu, hati Rose belum berubah.

Namun cukup sampai sini ia disakiti oleh orang yang sama.

“Roseanne Park.”

“Aku tahu aku salah.”

“Rosie.”

“Maafkan aku, seharusnya pertemuan ini menyenangkan tapi aku menghancurkannya. Maafkan aku, Roseanne.”

Tidak, aku tidak menginginkan kata maaf. Wanita itu terisak lebih keras, menangisi kenangan yang telah terlewati, menangisi segala yang tak bisa kembali, menertawakan dirinya yang tak mampu melepas Kai dari dulu. Rose kecewa.

“Tapi aku pinta satu saja; buka kotak ini.” Dirasakan sebuah kotak berukuran sedang ditaruh di atas pahanya kemudian Rose melirik sekilas; kotak kayu berukir, sesuatu yang khas dari Kai. Baru sekejap ia menetapkan hati, Kai selalu saja punya seribu satu cara meruntuhkan dinding pertahanan hati Rose, meremukkannya hingga berkeping-keping, menarik kembali perasaan yang sempat terbuang.

“Bukalah.”

Titik ragu itu menghilang, hanya menyisakan ampas ragu tak penting.

Entah kata apa yang bisa mendeskripsikan keterkejutan Rose. Perpaduan rasa baru yang tak bisa dijelaskan; apa seperti roller coaster di taman hiburan atau lebih seperti dessert terbaik di dunia? Rose tidak tahu.

Sekotak penuh potret dirinya dalam berbagai pose, dibekukan dalam lembaran kertas foto, diambil dari tempat tersembunyi. Kini ia sadar–Kai tak pernah kemanapun selama ini.

“K-kai? I-ini..”

Tak ada yang lebih mendebarkan kala pandangannya jatuh pada kotak beledru merah yang menganga, dipermanis dengan senyum malu Kai.

“Menualah denganku, berdua bersama sampai kita bertemu di surga. Will you?”

Kesadaran Rose terbang entah kemana. Kai melamarnya. Foto-foto yang Kai ambil selamat satu tahun tanpa ia ketahui menghambur entah kemana kala Rose memeluk Kai, melepas rindu yang menyesak dada.

I miss you more than you know, ini juga sulit bagiku untuk tidak merengkuhmu meski selalu melihatmu setiap saat.” Kedua telapak tangan Kai membingkai wajahnya,” tapi dari situ aku yakin kau yang terbaik untukku. Kau merindukanku setiap saat, bukan?”

Kai terkekeh kecil lantas meraih jemari mungil Rose.

“Jadi, jawabanmu adalah…”


 

mimpiin kai ngelamar kemudian bangun.
yasudah kubuat fic aja bersama mbak rose meski-tidak-nyambung-sama-sekali-pairingnya.

 

Iklan
D-Day

4 pemikiran pada “D-Day

  1. gy berkata:

    tapi mending sih, kai niggalin ‘cuma’ setahun, lah cinta ditinggal rangga bertahun-tahun ujung-ujungnya nyatu lagi tuh wkwk

    hm. jadi pertanyaannya. selama satu tahun itu kai kalo misalnya ga kemana-mana, ngapain ngilang? (jeng jeeeenngg), terus dateng lagi tiba-tiba ngelamar. yeuh. untung sayang.

    btw salam kenal dari gy! :3

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s