Of Morning Coffee and Annoying Roommate

aesthetic-alternative-blue-coffee-Favim.com-4005597

by Tamiko

Ficlet | Jennie & Jisoo | G

.

Jennie tidak butuh motivasi, yang dia butuhkan hanya kopi.

.

.

Senin pagi di ibukota Seoul dan Jennie rasanya ingin memukul seseorang. Jisoo ― teman sekamarnya yang kelewat estetik ― pukul tujuh di pagi hari sudah mengganti sarapan paginya dengan sepiring kata-kata motivasi. Jennie bahkan belum menyisir rambut panjangnya yang tanpa perlu bantuan cermin dia tahu pasti sudah mekar ke segala penjuru seperti sabut kelapa. Tapi dia sudah harus berurusan dengan omong kosong ini lagi dari Jisoo.

“Selamat pagi para pemirsa,” Jisoo mengawali dengan style sok pembawa berita pagi andalannya. “Kembali lagi dengan Kim Jisoo kesayangan anda bersama rekan pemarah saya Jennifer Kim.”

Menolak untuk berpartisipasi dengan kekonyolan Jisoo, Jennie hanya memutar bola mata dan berjalan ke counter dapur untuk menyeduh segelas kopi ditambah sandwich daging favorit. Mungkin bisa sedikit memblokir suara cempreng Jisoo dari kepalanya. Jadi dia dengan gerakan lambat ― efek pagi hari ― membuka lemari perlengkapan dan mengeluarkan gelas bertuliskan “I love Mama” ― pemberian Jisoo ― dan sendok teh. Kemudian masih dengan gerakan super lambat ― bahu sengaja dibuat lunglai dan mata masih setengah tertutup ― dia membuka lemari lain di sebelahnya untuk sebuah kopi instan dalam kemasan. Sebungkus Mount Hagen terakhir yang sengaja disisihkannya kemarin malam untuk pagi ini. Tangannya meraba-raba di lantai lemari kayu yang berada sejengkal di atas kepala. Dekat dengan pintunya, lalu sedikit ke kanan, semakin jauh ke dalam, sebelum akhirnya dengan liar menggerakkan tangannya ke seluruh permukaan kayu itu. Jennie mengernyitkan kening bingung. Sangat yakin bahwa bungkusan terakhir itu diletakkannya di sana semalam.

“Kau sedang apa?” terdengar suara khawatir Jisoo dari belakangnya. Dan Jennie langsung membalikkan badannya untuk bertatap mata dengan teman sekamarnya dengan berang. Pasti dia pelakunya.

Benar saja. Segelas kopi yang sudah diseduh ― asapnya terlihat sangat menggoda ― bertengger manis di tangan Kim Jisoo.

“Itu kopi darimana?” Tanya Jennie sengit, berusaha terlalu keras untuk tidak mencakar wajah sok polos Jisoo sekarang.

Jisoo terlihat sedikit bingung sejenak, lalu menatap kepada gelas kopinya yang sudah tinggal setengah, lalu kepada Jennie lagi. “Oh ini, aku minta Mount Hagenmu ya.” katanya sambil menyengir tak bersalah.

Jennie tidak menjawab. Saking kesalnya. Karena pertama, itu adalah bungkusan terakhir bulan ini dan dia tidak punya uang lagi untuk beli kopi dengan sisa uang kiriman ayahnya sampai menunggu awal bulan. Dan awal bulan masih empat hari lagi. Kedua, seharusnya Jisoo memintanya sebelum dia memasukkan setengah isi kopi itu ke dalam lambung, bukan sesudahnya. Tsk.

Berusaha keras untuk meredam amarahnya, Jennie berjalan ke counter dapur lagi. Meletakkan gelas ‘I Love Mama’ nya dengan tekanan berlebih di atas porselen putih itu. Dia meraih sebuah toples di samping wadah gula.

Tapi sebelum tangan Jennie bergerak untuk memutar tutup toples itu, terdengar lagi suara Jisoo menginterupsi kegiatannya. “Ah biji kopinya habis. Semalam Bobby dan teman-temannya berkunjung.”

Jennie mengerang keras begitu mendengar perkataan Jisoo. Dengan kesal dia mengembalikan toples kosong itu ke tempat dia mengambilnya. Jisoo terkadang ― sering sekali ― bisa menjadi semenyebalkan ini.

Kali ini Jennie berbalik memunggungi Jisoo dan membuka kulkas. Kaki sengaja dihentak dan pintu kulkas dibuka dengan kasar. Dia mendengus kasar saat berhadapan dengan isi kulkas yang sudah tidak berbeda jauh dengan pekuburan di belakang Gereja St. Benedict di seberang jalan. Begitu sepi dan mengundang air mata. Hanya ada sebiji apel dan tiga potong jeruk ditambah botol saus tomat yang sudah kosong dan sekotak susu. Ya Tuhan. Bukankah semalam masih ada sebotol Nescafe instan?

“Oh kulkas juga kosong. Semalam Bobby cs..” tapi Jisoo tidak melanjutkan kalimatnya karena Jennie segera membalikkan kepalanya, menatap padanya dengan mata menyalang.

Sekarang keinginan Jennie untuk memukul Jisoo meningkat sekitar 257%. Jangan Tanya kenapa angkanya tidak genap. Jennie sedang senewen. Kalau pagi tidak minum kopi, rasanya tidak bisa berfungsi dengan benar. Bukannya Jisoo tidak tahu itu. Tapi dia malah menambah bensin ke dalam bara kemarahan Jennie. Bayangkan sebesar apa api yang diciptakan.

Akhirnya Jennie mengambil kotak susu terakhir dari kulkas mereka. Dan dengan sengaja menghentak-hentakkan kaki sepanjang perjalanan dari depan kulkas ke tempat dia meninggalkan gelasnya tadi. Dia memindahkan isi kotak itu ke dalam gelas dengan kasar. Tidak peduli dengan beberapa tetes yang melenceng keluar dari wadah itu.

Setelah selesai dengan persiapan sarapannya dua menit kemudian, Jennie membawa roti ―tidak berisi daging ― dan gelas susunya ke meja makan. Jisoo sudah duduk santai menikmati kopi ― milik Jennie ― bersama buku tipis di tangannya. Gadis jelita itu melemparkan senyum kepadanya yang dibalas Jennie dengan memutar bola mata. Masih jengkel.

Merasa mendapat perlakuan dingin dari teman sekamarnya, Jisoo mengerucutkan bibir dan menatap Jennie manja. Lagi-lagi tidak diacuhkan oleh Jennie.

Pada akhirnya Jisoo menyerah dengan memasang seluruh ekspresi lucu yang dia tahu untuk membuat Jennie mau berbicara dengannya. Menggantinya dengan senyum ceria diiringi mata membentuk bulan sabit. “Baiklah untuk mengembalikan semangat gadis favoritku, aku punya kutipan insiparional untukmu.” katanya seraya meletakkan buku.

Jennie hanya membalas dengan menatap gadis lain di ruangan itu jengah. Masih menolak untuk mengeluarkan sepatah kata saja.

“Hari senin adalah hari yang paling baik untuk memperbaiki kesalahan minggu lalu.” kata Jisoo memamerkan senyumnya. Jennie hanya menghela napas. Tidak ingin berurusan dengan Jisoo dan obsesi motivatornya.

“Satu pikiran positif di pagi hari dapat mempengaruhi seluruh harimu.” kata Jisoo lagi. “Jadi, jangan lupa untuk bersikap menyenangkan.” sambungnya sambil menepuk punggung Jennie kelewat bersemangat. Aksi Jisoo itu bukannya meningkatkan kadar semangat Jennie malah berujung pada Jennie tersedak susu yang sedang diminumnya dan menjatuhkan gelasnya. Seluruh isi gelas itu terhambur di meja.

Kali ini Jennie melotot garang pada Jisoo. Benar-benar kehilangan kesabaran. Meminum Mount Hagen terakhirnya, menghabiskan biji kopi dan seluruh isi kulkas (featuring Bobby cs), dan sekarang menumpahkan sisa susu Jennie. Great.

Jisoo tersenyum canggung, menatap takut pada Jennie. “Ah aku lupa kalau masih harus mengerjakan paper,” katanya pelan ― jelas berusaha melarikan diri ― lalu perlahan bangkit dari kursinya.

Jennie masih tidak bergeming. Hanya menatap punggung Jisoo yang perlahan-lahan menjauh dari pandangan sampai akhirnya menghilang di balik pintu kamarnya. Demi Tuhan senin pagi yang sangat kacau. Jennie hanya butuh segelas kopi di pagi hari bukan kutipan-kutipan inspirasional Jisoo. Kepalanya jadi sakit sekali.

Satu menit kemudian gelembung kemarahan Jennie akhirnya pecah dan apartemen mereka penuh dengan teriakan diiringi sumpah serapah.

kkeut

Tamiko here 🙂

Salam buat semua pembaca melalui ff absurd ini

Iklan
Of Morning Coffee and Annoying Roommate

13 pemikiran pada “Of Morning Coffee and Annoying Roommate

  1. gy berkata:

    hallo tamiko! atau… enaknya ku panggil apa nih?
    ini lucu! ya… aku jadi Jennie kesel juga kali digituin wkwk.

    oh ya, hanya mau koreksi dikit. aku sempet nemu kata ‘menyengir’, dan itu sebaiknya ditulis “nyengir” aja. bisa di-italic karena itu dlm kbbi ga ada (kalo menyengir artinya beda lagi soalnya), atau ditulis biasa aja karena kata itu udah umum dan dimengerti (CMIIW).

    dan oh, lain kali kalo kamu baca fic aku lagi jgn sungkan utk ngasih kritik saran ya. soalnya lagi belajar juga hehe 😀
    yuhuuu sekian dari gy!

    Suka

      1. gy berkata:

        how cute… ‘miko’ xD
        menanggapi balasan komentarmu dilapakku, panggil aku… terserah. haha. maksudnya terserah mau panggil gisel apa gy. aku 94 line btw, kalo kamu lebih muda (dan sepertinya memang begitu I guess?) dari aku terserah juga mau manggil pake embel2 ‘kak’ apa engga wkwk 😀

        Suka

  2. Hai aku suka ff iniii.. simple, penggunaan bahasanya ringan, dan omfg Jisoo untung cantik yaa:’) aku paling suka bagian mount hagen yg udh masuk separuhnya ke lambung hahaha bahasanya lucu

    Keep writing yaa:)

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s