I’m A Loser

hoalah mzz

tabingoals

slight!Do Kyungsoo / Lisa Manoban / Kim Jisoo

Lisa merayakan hari ini seperti bagaimana John Lennon menyanyikan lagu I Am Loser; riang gembira. 

btw, kalo mau, bisa didengerin sama soundtrack-nya. Happy reading!

“KIM JISOO! KIM JISOO! HEY, KIM JISOO! AKU MENCARI KIM JISOO!” 

Seluruh pandangan penghuni kelas langsung tertuju pada wanita berambut panjang yang sedari tadi terus meneriakkan nama yang sama sembari berlari-lari. Jisoo, yang dipanggil, hanya menatapi heran wanita itu.

“JISOO! KIM JISOO!” Lisa langsung menyerbu ke arah meja Jisoo yang letaknya ada di bagian nomor dua dari belakang.
Jisoo menghela napas pelan. “Oke. Bagaimana?”

Lisa menjabat tangan Jisoo dengan senyum sumringahnya. “Sahabatku Jisoo, terima kasih telah memberikan segala sumbangsih berupa nasehat selama ini. Hari ini, aku telah melakukan apa yang sudah kuniatkan selama ini tadi pagi di koridor depan sekolah.”

Seketika, mata Jisoo berkilat ditambah dengan rasa excited yang muncul dalam dirinya. Lisa tersenyum lebih lebar menyambut ke-excited-an sahabatnya itu — oh yea, Lisa Manoban akhirnya menembak Do Kyungsoo hari ini!

Jisoo tahu, bagaimana perjuangan Lisa dalam mengutarakan apa yang dia rasakan selama beberapa bulan ini terhadap kawan SMP-nya itu. Dari awal, Lisa sama sekali tidak jujur terhadap perasaannya sendiri, dia berpikir kalau lebih baik bersahabat daripada harus menerima resiko yang dibawa oleh perasaan cintanya sendiri. Namun, Jisoo berhasil membuatnya yakin akan pilihannya sendiri tanpa harus berpikir apa yang akan terjadi nanti — ya, dia memilih untuk menyatakan cintanya sendiri!

Awalnya, Lisa sendiri juga menyangkal apa yang dia pilih. “Ugh, Jisoo, kalau dia nanti benci aku bagaimana? Aku lebih baik mati daripada harus berhenti memiliki hubungan dengannya!”

“Yang peling penting dari sebuah hubungan adalah kelayakan, Lis. Kelayakan apakah hubunganmu pantas diperjuangkan atau tidak.”

“Oooh, jadi setelah itu, kau menyuruhku untuk baik-baik dengannya setelah dia menolakku?”

Jisoo mengangguk, “Tentu saja!”

Lisa terdiam beberapa saat. “Jisoo, bilang padaku kalau kau sebenarnya juga tidak yakin dengan kata-katamu.”

“Aku mengatakannya dengan penuh keyakinan, Lis. Sebuah hubungan itu harus layak diperjuangkan, dan jika tidak layak, itu hanya bisa dikenang.”

Mendengar apa yang dikatakan Jisoo, wajah Lisa langsung berubah menjadi excited.

“Oh, begitu?” Lisa langsung menggoyang-goyangkan lengannya. “Benar begitu?”

“Tentu saja. Perjuangkan apa yang menurutmu layak, Lis.”

Dan hari itu, Jisoo langsung ditarik Lisa untuk membantunya mempersiapkan apa saja yang akan dia katakan ketika menembak Kyungsoo nanti — ya, untuk menghilangkan rasa malunya ketika sudah hari petunjukan nanti!

Ketika Jisoo menanyakan kapan dia akan melakukannya, dia menjanjikan tidak akan lama lagi.

….

Dan hari itu benar-benar terwujud. Ditambah lagi, dia melakukannya tanpa mengajaknya terlebih dahulu — sebuah kejutan baginya karena Lisa selalu membutuhkan dia di sampingnya dalam segala hal.

“Wow, Lis… Wow…,” Jisoo tersenyum sumringah, “kau… kukira kau akan menundanya lebih lama lagi, tapi ternyata kau melakukannya secepat ini — tiga hari setelah kau memiliki keyakinanmu sendiri, Lis!”

“Tentu saja! Dan semua sudah selesai, dan semuanya sudah pasti.”
“Selamat, Lisa!” Jisoo menjabat tangan Lisa erat. “Selamat! Kalau sudah kencan yang kesepuluh, undang aku juga… kalau kau mau. Haha!”

Senyuman lebar Lisa berubah menjadi sebuah cengiran, “Err, Jisoo… aku kan, belum mengatakan semuanya.”

“Melihat senyumanmu itu harusnya aku sudah tahu, Lis,” Jisoo menepuk punggung Lisa. “Jadi, untuk kencan pertama, Do Kyungsoo akan mengajakmu ke mana? Apa yang kira-kira bakal dia lakukan untuk monthsarry pertama? Lalu-”

“Jisoo, cukup. Kau belum tahu yang sebenarnya, bukan?”

Jisoo mengernyit heran.

“Apa maksudmu?”

Lisa melebarkan cengirannya. “Jisoo… yang ingin kukatakan sebenarnya bukan itu.”

Jisoo keheranan. ‘Sebenarnya bukan itu’? Kebingungan semakin melanda dirinya.

“Begini,” Lisa berdehem. “Kau boleh saja menyangka apa saja. Tapi, ada satu hal yang kujelaskan padamu soal kebahagiaanku hari ini….”

“Lalu? Kyungsoo menerimamu, bukan? Apa lagi yang mau kau sangkal?”

“Tidak, Jisoo. Tidak.”

“Apa? ‘Tidak’?” Jisoo meninggikan nada bicaranya.

“Jisoo, kau tahu kan, berapa banyak orang di sekolah ini yang mengepost quote ‘sebelum kau menilaiku, pastikan kalau kau itu sempurna’? Sekarang, aku mau menggunakan kutipan itu padamu hari ini, Ji. Jangan kira aku berbahagia dengan alasan yang sudah pasti.”

Jisoo terdiam sejenak.

Keheningan melanda dirinya. Sejujurnya, dia masih bingung dengan apa yang terjadi, tapi dia masih merenungkan sedikit apa yang dikatakan Lisa tadi ditambah quote “jangan menilai orang sebelum kau sempurna”.

Kepala Jisoo langsung mengirimkan sinyal berupa, “Hey, kalau dia menyangkal sebab kebahagiannya, itu berarti dia mempunyai alasan lain untuk berbahagia–”

Dan sejurus kemudian, dia baru saja sadar apa yang terjadi pada sahabatnya itu.

“KAU DITOLAK?!” teriakannya kencang sekali, sampai-sampai sekelas menoleh ke arah mereka berdua.

Lisa tersenyum lebar sembari mengacungkan jempolnya. “Ya, kau benar! Aku baru saja ditolak hari ini, Ji.”

Jisoo tidak mempercayai apa yang menjadi realita saat ini. Oh, tadi dia dengar apa? Lisa-baru-saja-ditolak?

“Kau… serius kau ditolak…? Kyungsoo menolakmu…?”

“Ya, dan karena itulah aku berbahagia hari ini.”

Jisoo merasakan kepalanya pusing. Tuhan, apa dia sedang bercanda? Tapi, dia tidak menemukan gurat kesedihan dari wajah Lisa yang sudah dikenalnya sejak SMP itu!

“Hey, kau… jangan bercanda-”

“Serius, Jisoo. Aku baru saja ditolak Kyungsoo. Kalau tidak percaya, Soojung dan Luna melihatnya di koridor tadi. Aku ditolak Kyungsoo tadi.”

Jisoo terdiam agak lama. Pandangannya tidak lepas dari Lisa yang — entah kerasukan jin jenis apa — berbahagia atas kejadian yang barusan menimpanya tadi. Ya, seperti dia baru saja kembali dari luar angkasa setelah mengikuti tour lintas galaksi dan menemukan fakta bahwa pada galaksi lain masa depan bisa dirubah semaunya sendiri.

“Kau… ditolak…?” Jisoo mengatakan dengan nada tercekat karena tidak percaya atas reaksi Lisa hari ini.

Lisa menghela napas. “Jisoo, kau bilang kan padaku, kalau kau harus mengambil segala resiko? Jadinya, aku mempersiapkan keberanianku selama beberapa hari ini dan sesuai rencana yang sudah kusiapkan sejak lama, aku menembak Kyungsoo di koridor depan hari ini.”

“Dan?”

“Aku ditolak, Jisoo! Kyungsoo marah dan langsung pergi dengan Jongin setelah itu, lalu aku langsung kembali ke kelas tanpa melakukan apa-apa.”

Jisoo tercengang.

“Oh ya, setelah kejadian tadi, aku bertemu Kyungsoo sekilas. Waktu kusapa, dia langsung memalingkan wajahnya. Ya… sepertinya hubungan pertemanan kami sudah selesai di detik dia mengetahui apa yang terjadi.”

Jisoo terdiam beberapa saat.

Jisoo, walaupun dia adalah wanita yang memiliki tipe, “lakukan saja, resiko tanggung sendiri”, tapi tentu dia tidak akan bisa menerima hal-hal berbau negatif masuk begitu saja dalam dirinya. Dan lagi, dia tahu betul karakter Lisa yang berhati-hati dalam sesuatu karena takut menghadapi resiko (dia ingat, Lisa pernah sampai membatalkan acara makan malam bersama satu kelas karena takut menghadapi anjing besar milik tetanggannya yang selalu mengejarnya tiap kali melihatnya). Namun, hari ini dia melihat Lisa tertawa begitu mengatakan bagian itu (sekali lagi, dia tidak menemukan gurat kesedihan dari wajah temannya itu ketika menceritakannya dengan nada bahagia). Menertawakan bagian kesedihannya sendiri.

“Begitu.” Lisa tersenyum mengakhiri ceritanya.

Seharusnya, Jisoo menangis mendengar cerita Lisa sementara ia menangis ketika mengatakan semuanya; setelah dia kehilangan cintanya, dia harus kehilangan sahabat karibnya semenjak SMP itu. Jisoo tahu, mereka sangat akrab seperti hubungannya dengan Lisa. Dia ingat bagaimana mereka berdua tidak pernah terlambat mengucapkan “selamat ulang tahun” setiap pukul 12 malam tepat.

Namun, hari ini semuanya sudah selesai. Begitu Lisa mengutarakan perasaaannya, Kyungsoo langsung berubah marah padanya. Dan Jisoo tahu, persahabatannya dengan Kyungsoo bukanlah persahabatan main-main. Dia tahu bagaimana mereka saling menyemangati ketika kehidupan berbalik memusuhi mereka — di samping dia menyemangati Lisa. Dan Lisa sering bercerita, bagaimana Kyungsoo sering memotivasinya untuk bangkit karena keberaniannya sendiri.

“Lis,” Jisoo memandangi Lisa lekat-lekat, “Lis… kau… serius….?”

“Ah, tidak apa-apa. Memang itu resiko atas apa yang kulakukan hari ini,” Lisa menepuk bahu Jisoo. “Ayolah, Ji! Kau bukannya memberiku nasehat untuk mengambil segala resiko? Hari ini aku mengambil resiko ditolak, rusak hubungan pertemenanan, dan menjadi pecundang dalam satu waktu.”

Jisoo masih tidak berkata apa-apa. Dalam hati, dia menyanjung bagaimana Lisa bisa sekuat itu. Tapi, bergembira ketika dia melakukan hal itu? Apa sebenarnya yang terjadi pada wanita ini?

Lisa mengeluarkan handphone dari dalam sakunya dan mengklik icon musik di layarnya, “Kemarin aku menemukan lagu yang pas yang rencananya akan kudengarkan ketika ditolak nanti,” ucap Lisa sembari mengklik sebuah lagu dalam daftar playlist-nya.

“Lagu apa?”

“Lagu yang pas untuk kondisiku sendiri, yang baru saja mengalami dua kejadian sial dalam satu waktu.” Lisa yang mengencangkan volume lagu itu.

Jisoo kenal betul lagu itu. Ayahnya masih sering mendengarkan lagu-lagu dari penyanyi aslinya melalui piringan hitam, dan dia sering memutarnya berkali-kali.

I’m A Loser – The Beatles

“Aku membaca liriknya dan semua ada benarnya kalau kukaitkan dengan kejadian hari ini,” ucap Lisa. “Dan aku akan menyatakan kebanggaanku sendiri karena sudah menjadi pecundang pada hari ini!”

“‘MENYATAKAN KEBANGGAANKU SENDIRI’??” Jisoo nyaris berteriak — yang membuat sekelas menoleh pada mereka, “‘SEBAGAI SEORANG PECUNDANG’???”

“Dan kalau euforianya masih, mungkin besok juga.” Jisoo berharap kalau Lisa hanya bercanda. “Ayolah, Ji! Tidak ada salahnya juga bukan, menjadi pecundang dalam sehari? Kuharap kau mau merayakannya bersamaku hari ini.”

Oooh, astaga. Seluruh tubuh Jisoo menolak apa yang dikatakan Lisa barusan. Siapa yang mau menjadi pecundang? Siapa yang mau merayakan kejadian buruk apa yang menimpanya hari itu?

Tapi hari itu, Lisa melakukannya!

“Kau… kau kenapa mau melakukannya…,” Jisoo tercekat. “LIS, APA YANG TERJADI DENGANMU? KAU BARU SAJA DITOLAK KYUNGSOO, PERSAHABATANMU RUSAK, DAN SEKARANG KAU MERAYAKAN HARI INI SEOLAH KYUNGSOO BARU SAJA MENERIMAMU?” Emosi Jisoo tidak bisa ditahan lagi.

“Entahlah, Ji,” Lisa hanya tertawa. “John Lennon saja juga menyanyikan lagu ini dengan kebanggaannya — jadi, tidak masalah kalau aku menyanyikannya dengan bangga, bukan?”

Jisoo speechless.

Pulang sekolah, Jisoo dan Lisa menangkap sosok pendek yang memakai hoodie warna abu-abu berjalan ke arah pintu gerbang — Kyungsoo.

Jisoo mengenal pria itu sebagai salah satu anggota ekstrakulikuler melukis, meskipun tidak sedekat Lisa. Jisoo langsung mengambil ancang-ancang dan berteriak, “Hey! Kyungsoo!”

Kyungsoo mendengarnya. Ia menoleh pada Jisoo dan berteriak, “Ji! Pastikan nanti sore kau datang, ya!”

“Oke!” Jisoo mengacungkan ibu jarinya. Kyungsoo tersenyum.
Sesaat kemudian, Kyungsoo menangkap sosok di sebelah Jisoo — Lisa. Spontan saja, dia langsung mengalihkan pandangannya dari wanita itu.

Lisa hanya tersenyum. Jarak antara dia dan Kyungsoo memang masih dibilang dekat untuk orang-orang yang tengah “menjaga jarak”.

Jisoo menatapi Lisa sembari melebarkan cengirannya. Oh sial, tidak….

Dan ketika Kyungsoo sudah mendekati gerbang, Lisa langsung berteriak sembari melambaikan tangannya.

“HATI-HATI, KYUNGSOO! SEMOGA SELAMAT SAMPAI TUJUAN DAN JANGAN MENGEBUT DI JALAN!”

Jisoo yakin, Kyungsoo pasti mendengarnya. Tapi Kyungsoo hanya berjalan tanpa mengindahkan apa yang diteriakkan Lisa tadi.

Jisoo menatapi Lisa, “Lis.”

“Ji, sudah kubilang aku mau berbangga sebagai pencundang pada hari ini. Seorang pecundang boleh bergembira, Ji. Siapapun boleh bergembira, tak peduli apapun masalahnya — asalkan tidak dilupakan, tentu!”

Dan Jisoo bisa mendengar Lisa menyenandungkan lagu I’m A Loser dari mulutnya seiring dengan menjauhnya dia dari gerbang sekolah.

I’m a loser
And I lost someone who’s near to me
I’m a loser
And I’m not what I appear to be

 …

Iklan
I’m A Loser

4 pemikiran pada “I’m A Loser

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s