[Drabble] With Brother

WITH BROTHER

Hanya orang tolol yang menganggap kami adalah sepasang kekasih

by Ravenclaw

Jackson baru saja meletakkan tasnya di sebuah sofa ruang keluarga rumah Manoban, tiba-tiba matanya sudah jelalatan mencari seseorang yang dirasa harus ia temui saat itu juga. Nyonya Manoban tersenyum kecil kala Jackson bertanya perihal kemana anak gadisnya berada.

“Ada di taman belakang,” seketika meluncurlah Jackson menghampiri seorang gadis berambut cokelat yang tengah duduk sendiri di atas ayunan pribadi.

“Lis,” panggilnya, kode untuk menyadarkan sepupunya dari alam bawah sadarnya.

“Ah, iya? Oh, kau rupanya, Jack,” balas Lisa, tersenyum.

“Terbang dari Hongkong?” Jackson mengangguk kecil sedangkan Lisa hanya menggelengkan kepala. Kebiasaan, pikirnya.

“Kau habis melihat apa atau kau sedang melihat apa?” tanya Jackson, penasaran dengan Lisa yang terus menerus mengacuhkannya.

“Dua-duanya,” jawab gadis itu sembari menoleh kearah sepupunya.

Telunjuknya mengarah pada sebuah pohon sedang yang tumbuh di pojok pekarangan milik keluarga Manoban, “kau tahu, gadis itu selalu mengikutiku sedari tadi pagi. Sepertinya ia berbisik kalau ia tengah merindukan seseorang, tapi aku tidak mau diganggu. Sepertinya orang yang ia rindukan sudah datang. Senyumnya benar-benar manis, Jack,” jelas Lisa.

Sebenarnya, pria itu selalu merinding kala Lisa menceritakan tentang penglihatan yang tidak biasa itu. Tengkuknya sudah meremang dan bulu kuduk ditubuhnya juga sudah mengirimkan sinyal bahwa dirinya saat ini ketakutan. Tetapi, ia berpura-pura sok berani karena rasa penasaran yang amat mendalam.

“Maksudmu, aku?”

Lisa mengangguk kecil, lalu tertawa, “jangan takut, ia tidak akan pernah bisa mendekatimu,” ujarnya masih diiringi tawa.

Jackson menaikkan alisnya tinggi-tinggi, ia sedang tidak ingin bercanda, “Memangnya kenapa?” tanyanya penasaran.

“Tuhan sudah mengatur kalau tempatnya memang disini, di rumahku,” senyumnya.

 

 

Ia selalu tahu kalau Jackson sering merasa takut kalau ia menceritakan sesuatu soal penglihatan yang ia sebut, anugerah. Ia tidak pernah memaksa Jackson untuk mendengarkan ceritanya, sama sekali. Jackson yang memulai. Dan ia menyukai sisi Jackson yang seperti itu, sok berani.

Ia tidak bisa egois kala ia melihat sesuatu yang aneh dan harus ia ceritakan pada kerabat terdekatnya. Kedua orang tuanya super sibuk, ia tidak mempunyai kakak, apalagi adik. Semua sepupunya menganggapnya gadis aneh karena anugerah yang ia miliki. Kecuali Jackson. Pria bermarga Wang itu yang menawarinya untuk menjadi sandarannya.

Seperti beberapa hari yang lalu, Line miliknya berbunyi beberapa kali, dan semuanya berasal dari Jackson.

 

Kau sedang apa?

Kau sedang tidak melakukan hal-hal aneh kan?

Kau tidak melamun, kan?

Apa kau sedang merenung?

Apa kau habis melihat atau sedang melihat sesuatu?

 

Selalu, selalu, dan selalu.

Hampir setiap hari Jackson menanyai itu, kecuali kalau pria itu tengah sibuk di negaranya, seperti mengejar wanita impiannya, mungkin.

Ia tahu kalau Jackson sudah mempunyai wanita incarannya, dan ia mengetahui siapa gadis itu, sekedar identitasnya saja. Lisa sih, setuju saja kalau Jackson akan berpacaran, lalu menikah, dan meninggalkannya, ia tidak bisa menjadi prioritas utama pria itu seumur hidupnya. Jackson juga memiliki hidup.

Pernah ia merasa terusik oleh ucapan sepupunya kala beberapa waktu yang lalu saat ada acara kumpul keluarga.

“Kau dan Jackson itu bukan seperti sepupu, tapi seperti sepasang kekasih. Saling mengerti.”

Sudah berapa minggu ia memikirkan ucapan itu dan akhirnya Lisa hanya bisa mengucapkan sepatah kata dalam lirih tidurnya, “tolol.”

Ya, baginya, hanya orang tolol saja yang menilai kalau dirinya dan Jackson ada hubungan lebih dari sepupu. Menurutnya, justru harus kerabat dekatlah yang mengerti kondisi seseorang, bukanlah musuh, apalagi kekasih. Dan yang ia temui adalah Jackson.

Jackson yang mengerti kondisinya, sejauh apapun ia tetap berusaha menghubunginya, melalui apapun itu caranya, semahal apapun itu caranya. Jackson hanya ingin Lisa tidak tertekan dengan anugerah yang ia miliki selama ini.

Terkadang ia terharu, apa yang harus ia balas untuk jasa Jackson selama ini?

Ia hanya bisa berdoa pada Yang Kuasa supaya Jackson dilindungi dalam kekuatannya, hanya itu yang ia bisa balas. Atau mungkin ia tidak akan pernah bisa membalasnya.

Lisa hanya ingin Jackson juga tidak terbebani oleh cerita-ceritanya selama ini.

Hanya satu yang ingin Lisa katakan pada Jackson.

“Jackson.”

Pria itu menoleh, tersenyum sembari memberikannya segelas teh hangat kesukaannya.

“Kumohon, kau tetap bahagia.”

Jackson menaikkan alisnya lagi, tidak mengerti mengapa sepupunya berkata seperti itu.

“Kau kenapa, hei?”

Lisa menggeleng tersenyum, “tidak apa. Ayo, kita nonton film Finding Dory!”

Lisa hanya ingin Jackson bahagia, itu saja.

thanks ^^

rc~

Iklan
[Drabble] With Brother

16 pemikiran pada “[Drabble] With Brother

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s